INZS 2026 Dorong Aksi Nyata Iklim, dari Ketahanan Air hingga Net-Zero

INZS 2026 mengangkat tema “It’s Time to Deliver!” dengan fokus pada aksi nyata menuju net-zero, ketahanan air, energi, ekonomi, dan kesejahteraan.

oleh Ayu SrikhandiDiterbitkan 11 Agustus 2026, 14:08 WIB
Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026. (istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 kembali mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas langkah nyata menuju target net-zero. Digelar pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Balai Kartini, Jakarta, agenda yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini mengangkat tema “It’s Time to Deliver!”.

Tahun ini, INZS 2026 dihadiri hampir 10.000 peserta, lebih dari 130 mitra, dan 60 pembicara. Tema yang diusung menempatkan implementasi sebagai fokus utama, terutama di tengah tekanan ekonomi global, gejolak geopolitik, serta persoalan keamanan energi.

Dalam sambutan pembukaan, Dr. Dino Patti Djalal menyoroti posisi perubahan iklim yang menurutnya berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan. “Perubahan iklim tidak pernah berhenti berubah. Ia adalah pondasi yang menentukan kesehatan, politik, perdamaian, keamanan, ekonomi, industri, migrasi, kesejahteraan individu dan sosial, infrastruktur, pangan, energi, air, lapangan kerja—segala hal. Ia adalah kekuatan paling penting yang menentukan nasib umat manusia. Perubahan iklim berada di atas segalanya. Ia harus menjadi yang nomor satu,” jelas Dino.

Melalui rangkaian diskusi yang berlangsung sepanjang hari, INZS 2026 membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan transisi menuju masa depan berkelanjutan, termasuk pendanaan, teknologi, jalur transisi, ketahanan air, hingga strategi nasional.

INZS 2026 Soroti Pentingnya Aksi Iklim

Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026. (istimewa)

Tema “It’s Time to Deliver!” menekankan kebutuhan untuk menerjemahkan komitmen iklim menjadi aksi yang dapat diukur. FPCI melihat transisi menuju net-zero tidak lagi sekadar agenda jangka panjang, tetapi berkaitan dengan ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan suatu negara.

Dino Patti Djalal juga menyoroti ancaman kenaikan suhu global serta batas waktu untuk mengambil tindakan. “Climate change is about everything else. It should be goal number one. If we don’t get climate right, we get everything else wrong (Perubahan iklim adalah tentang segalanya. Itu seharusnya menjadi tujuan nomor satu. Jika kita tidak menyelesaikan masalah iklim, maka kita akan salah dalam segala hal),” sambung Dino.

“Dunia dengan (kenaikan) suhu 3 derajat Celcius akan menyakiti kita semua. Kita semua akan menderita, dan itu tidak bisa diputar balik. Kita bisa bertindak sekarang—ini adalah celah kecil yang tersisa hingga 2030,” tegas Dino.

Dalam konteks tersebut, INZS 2026 menjadi ruang bagi para pihak untuk bertukar perspektif dan membahas solusi yang dapat diterapkan. Agenda ini juga menyoroti peran negara berkembang, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, dalam membentuk tata kelola iklim global dan transisi energi.

Ketahanan Air Jadi Bagian dari Transisi Net-Zero

Retno Marsudi, UN Secretary-General's Special Envoy on Water, turut menyoroti air sebagai salah satu elemen penting dalam membangun fondasi menuju transisi net-zero.

“Emisi nol bersih (net-zero) tidak akan tercapai tanpa ketahanan air. Air berperan dalam mitigasi dan adaptasi, sedangkan ekosistem air adalah fondasi ketahanan iklim,” ungkap Retno.

Pembahasan mengenai air hadir di tengah persoalan perubahan iklim yang mencakup aspek mitigasi dan adaptasi. Dalam agenda INZS 2026, ketahanan menjadi salah satu bagian dari upaya memastikan transisi berkelanjutan dapat dilakukan secara inklusif.

Sementara itu, Moh. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) RI, menilai transisi menuju net-zero tidak semestinya dipandang sebagai beban tambahan.

“Di tengah dunia yang tidak pasti, agenda iklim dan transisi hijau justru menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan bangsa. Transisi menuju net-zero bukan beban tambahan, tetapi cara kita menjaga masa depan … kami merumuskan pendekatan kebijakan yang bertumpu pada tiga pilar yang saling terhubung, yaitu mitigasi, adaptasi, dan prosperity – atau kesejahteraan. Tiga kata ini bukan sekadar slogan; tiga-tiganya harus jalan bersama,” papar Jumhur.

Lima Prioritas untuk Mendorong Implementasi

Jumhur juga mengaitkan tema “It’s Time to Deliver” dengan kebutuhan untuk menentukan bentuk implementasi yang dapat dilakukan Indonesia. “Tema “It’s Time to Deliver” menuntut kita menjawab satu pertanyaan sederhana: apa arti “delivery” bagi Indonesia?” jelas Jumhur.

Ia kemudian menyampaikan sejumlah prioritas yang perlu didorong bersama. “setidaknya ada beberapa prioritas yang perlu kita dorong bersama. Pertama, memperkuat integritas tata kelola lingkungan. Kedua, mempercepat transformasi rendah karbon tanpa melampaui batas ekologi. Ketiga, menjadikan adaptasi dan ketahanan sebagai prioritas pembangunan. Keempat, memastikan transisi bekerja untuk rakyat. Kelima, membangun kemitraan implementasi yang nyata. Pada akhirnya, pesan dari “It’s Time to Deliver” sangat sederhana tetapi tegas,” tutur Jumhur.

Tiga agenda kemudian dirangkum melalui seruan untuk melakukan implementasi pada sektor mitigasi, adaptasi, dan kesejahteraan. Mitigasi diarahkan pada penurunan emisi yang terlihat, adaptasi pada perlindungan masyarakat dari risiko iklim, sedangkan agenda kesejahteraan menempatkan transisi hijau sebagai sumber kesejahteraan.

Rangkaian INZS 2026 ditutup dengan penampilan khusus Teddy Adhitya yang menjadi bagian dari kampanye “No Music on A Dead Planet”, sebuah gerakan untuk menyuarakan isu perubahan iklim dan lingkungan melalui musik. Selama penyelenggaraan, INZS 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya