Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan calon gubernur lembaga pengelola dana investasi pemerintah atau PFII (Pusat Finansial Internasional Indonesia) berasal dari internal pemerintah. Namun, pemerintah belum mengumumkan sosok yang akan mengisi posisi tersebut.
Airlangga mengatakan, pembentukan lembaga tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum struktur kepengurusan dan pimpinan PFII diumumkan.
Advertisement
"Calonnya sudah ada,” kata Airlangga saat ditemui wartawan di Hotel Indonesia Kempinski, Selasa (11/8/2026).
Ketika ditanya mengenai asal calon gubernur PFII, Airlangga memastikan sosok tersebut berasal dari lingkungan pemerintah.
"Dari dalam pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, Airlangga belum bersedia mengungkap identitas calon tersebut. Dia menyebut pengumuman akan dilakukan setelah proses pembentukan PFII rampung.
"Nanti kita ini diumumkan sesudah,” kata Airlangga.
Selain calon pimpinan, pemerintah juga masih mempertimbangkan lokasi kantor PFII. Salah satu lokasi yang masuk pertimbangan berada di kawasan yang dikelola PT Indonesia Tourism Development Corporation (InJourney) di Bali, dekat dengan bandara.
“Untuk periode awal, di Jakarta juga dipertimbangkan,” ujar Airlangga.
Dia juga belum memastikan apakah kantor PFII akan menempati kawasan Danareksa di Jakarta. Menurut dia, lokasi baru dapat dipastikan setelah lembaga tersebut resmi terbentuk.
"Ya sesudah terbentuk, nanti baru dipastikan,” katanya.
Airlangga juga memberikan sinyal, pengumuman mengenai pimpinan dan sejumlah hal terkait PFII akan berkaitan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus 2026.
“14 itu nanti dengarkan pidato Bapak Presiden,” ujar Airlangga.
Purbaya Pede Bawa Dana Jumbo ke PFII, Termasuk 'Uang Gelap' WNI
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat peluang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) bisa mendatangkan dana berjumlah besar dari luar negeri. Termasuk membawa kembali harta Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri.
Purbaya mengaku belum punya data seberapa besar harta WNI yang bisa repatriasi usai beroperasinya PFII. Menurut dia, sebagian dari dana tersebut tak terlacak dan disebut Purbaya sebagai 'uang gelap'.
"Saya enggak tahu angkanya seperti apa, cuma harusnya besar. Kalau seberapa besar berarti saya sudah tahu angkanya persis. Padahal itu uang-uang sebagian gelap, berarti enggak bisa dihitung. Tapi pasti besar sekali," ungkap Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menarik Dana dari Luar Negeri
Dia mengamini harta tersebut tak bisa dipastikan langsung kembali disimpan di Tanah Air. Namun, dia berharap ada dana dari luar negeri yang masuk ke Indonesia.
"Cuma begini, mungkin mereka enggak otomatis serta merta balik. Karena emang mereka naruhnya di luar selama ini, yang kita harapkan nanti yang di luar negeri-luar negeri," ujar dia.
"Seperti dari kawasan Timur Tengah atau negara-negara lain yang mau masuk ke sini, masuk ke sini. Karena tempat di sini menarik. Jadi harusnya, untuk saya ekspektasinya zero to positive. Artinya ini game yang bagusnya yang harus diambil oleh ekonom kayak saya. Jadi saya ambil itu. Ekspektasi value-nya positif itu," imbuh Purbaya.