Ajakan Healing lewat Tari Menggema di Festival Bedhayan 2026

Tokoh seni dalam Festival Bedhayan 2026 dihelat pada 8 Agustus 2026 lalu mengingatkan kembali salah satu kebaikan dari menari.

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 11 Agustus 2026, 11:49 WIB
Festival Bedhayan 2026. (Ratnaning Asih/ Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Festival Bedhayan 2026 telah sukses diselenggarakan pada tanggal cantik, Sabtu (8/8/2026) lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Salah satu tujuan utama acara ini, tentunya adalah pelestarian warisan budaya Nusantara, berupa seni tari.

Saat ditemui sebelum penyelenggaraan acara, Ketua Umum Panitia Festival Bedhayan 2026, Aylawati Sarwono mengungkap rasa bahagianya karena antusiasme masyarakat terhadap acara ini makin meningkat pada penyelenggaraan kali keenamnya.

“Yang dulunya sangat sunyi senyap, saya seperti berjalan sendiri di jalan yang sunyi, sekarang sudah mulai hiruk pikuk, banyak yang ikut, banyak yang support, banyak yang peduli. Dan itu membuat saya bahagia, karena tujuan saya menyelenggarakan Festival Bedhayan ini, adalah memasyarakatkan tarian milik Indonesia sendiri, yang tidak kalah indah dan bisa memberikan keseimbangan mind, body and soul,” tuturnya.

Ia juga sempat menitipkan pesan untuk generasi muda, khususnya mengenai kesehatan mental.

“Untuk anak muda, kalau kalian mau healing, dan jenuh dengan riuh rendah dengan dunia ini, enggak usah pergi jauh ke mana-mana, cari sanggar-sanggar tari di sekitar tempat tinggal kalian, belajarlah Tari Bedhaya yang sangat lembut dan sangat mengajarkan kita untuk pasrah, mengajarkan kita untuk seimbang, mengajarkan kita untuk sabar. Saya yakin kalian akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan dalam belajar tarian ini,” tuturnya.

Senada dengan pernyataan Aylawati Sarwono, akademisi dan seniman Sal Murgiyanto yang menjadi salah satu narasumber dalam acara ini juga sepakat, bahwa salah tarian tradisional bisa memiliki pengaruh positif pada kesehatan mental.

 


Menari Sebagai Terapi Jiwa

Konferensi pers Festival Bedhayan 2026. (Ratnaning Asih/ Liputan6.com)

“Jadi menari, bisa menjadi terapi yang menenangkan. Bukan hanya melatih tubuh, tapi juga pikiran,” kata Sal Murgiyanto.

“Sekarang kan anak muda banyak yang gelisah karena tekanan hidupnya banyak, dan mengatasinya macam-macam. Orang bisa melukis, merangkai bunga, dan salah satunya dengan menari,” kata peraih gelar (Ph.D.) dalam bidang Performance Studies dari New York University ini dalam wawancara terpisah.

ia juga menyebut menyambut baik keinginan dari beragam kalangan untuk menekuni seni tari, meski bukan untuk niat sebagai penampil atau seniman.

Lanjut Baca:

”Misalnya untuk yang ingin ‘icip-icip’ menari, sah saja…tidak semuanya akan menjadi seniman, tapi setidaknya paham dan mengapresiasi seni tari, bahkan mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya