Top 3 Tekno: Perang Siber Ancam Kedaulatan Nasional Jadi Sorotan

Wamendiktisaintek, Stella Christie, menegaskan kedaulatan Indonesia bergantung pada sejauh mana bangsa ini mampu melindungi data dari serangan siber.

oleh IskandarDiterbitkan 11 Agustus 2026, 11:00 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, di peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan kedaulatan Indonesia di era digital sangat bergantung pada sejauh mana bangsa ini mampu mengelola dan melindungi data dari serangan siber.

Berita ini menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (10/8/2026) kemarin.

Informasi lain yang juga populer datang dari rekomendasi casing HP yang cocok untuk pengisian baterai secara wireless.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Perang Siber Ancam Kedaulatan Nasional, Wamendiktisaintek Imbau Setiap Individu Jaga Data

Perang masa kini tidak lagi hanya terjadi di medan fisik, melainkan telah bergeser ke ranah siber. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan kedaulatan Indonesia di era digital sangat bergantung pada sejauh mana bangsa ini mampu mengelola dan melindungi datanya.

"Kedaulatan Indonesia hanya bisa kita jaga kalau kita sangat memperhatikan tentang data," ujar Stella Christie saat ditemui dalam peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, terdapat tiga prinsip utama dalam tata kelola data nasional yang harus diperhatikan: pengumpulan (data collection), penyimpanan (data storage), dan penggunaan (data utilization).

Meski pembangunan infrastruktur fisik siber terus dilakukan, faktor pendorong utama keberhasilan kedaulatan data terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM).

"Kalau manusianya tidak mengerti bagaimana menyimpan, memanfaatkan, dan mengumpulkan data, kita akan banyak kecolongan dan data kita digunakan oleh bangsa-bangsa lain. Jadi, hari ini bukan saja tentang infrastrukturnya, melainkan terlebih lagi tentang manusianya," Stella menjelaskan.

Baca selengkapnya di sini

 

2. Jangan Asal Beli! Ini Casing HP yang Cocok untuk Pengisian Wireless Jadi Optimal

Ilustrasi casing bening/Copyright unsplash/Dmitry Mashkin

Fitur pengisian daya nirkabel (wireless charging) kini tersedia pada ponsel pintar (HP) modern. Namun, ketika pengisian daya lambat serta menjadi panas berlebih ada kaitannya dengan casing.

Diwartakan Engadget, Senin (10/8/2026), pengisian nirkabel pertama kali dihadirkan Palm Pre pada 2009 dan dipopulerkan Nokia Lumia 920 pada 2012 dengan standar Qi.

Adopsi teknologi tersebut kian meluas saat Apple juga meluncurkan MagSafe di iPhone 12 pada 2020. Sayangnya, di tengah perkembangan teknologi ini, masih banyak produsen casing mengabaikan aspek pengisian daya nirkabel dalam desain mereka.

Hindari Jenis Casing Ini

Sistem pengisian daya nirkabel mentransfer energi melalui dudukan pengisian daya dan bagian belakang ponsel. Proses ini dinilai kurang efisien dan dapat menghasilkan panas berlebih. Saat ini, pengisian tercepat berada di 25W dan menggunakan Qi2 atau MagSafe.

Oleh karena itu, penggunaan casing bisa memperparah efisiensi pengisian daya. Casing yang terlalu tebal dapat menyulitkan pengaliran energi dan panas akan terperangkap di dalam material tebal itu.

Sedangkan casing dengan unsur logam dan posisi magnet yang salah, bisa menghalangi proses pengisian daya sepenuhnya.

Selain itu, aksesori ponsel seperti Grip atau PopSockets, jelas menambah ketebalan dan sama bahayanya. Berdasarkan pengalaman nyata pada Galaxy S25, hal ini bisa menahan panas berlebih hingga melunakkan perekat bagian belakang ponsel.   

Baca selengkapnya di sini

3. Bagaimana Agen AI dan Ekstensi Browser Diam-Diam Bobol Data Perusahaan?

The open-source AI project Clawdbot has officially changed its name to Moltbot. Here's the reason for the change, its key features, and the controversy surrounding it. (Unsplash/Omar Lopez Rincon)

Laju adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) di sektor korporasi kini memasuki fase baru yang kian kompleks.

Laporan keamanan State of the Internet (SOTI) bertajuk 'The Enterprise AI Usage Risk Report 2026' yang dirilis Akamai, mengungkapkan integrasi cepat teknologi AI otonom dan ekstensi peramban (browser) berbahaya justru membuka celah serangan siber baru yang melompati benteng keamanan konvensional.

Praktik shadow AI--penggunaan aplikasi AI tanpa otorisasi tim IT--serta keberadaan ekstensi peramban yang berjalan secara diam-diam kini menjadi celah krusial yang mengancam aset digital penting perusahaan.

Vice President Enterprise Security Product & Engineering Akamai, Or Eshed, menegaskan peran AI telah bergeser dari sekadar alat bantu menjadi "rekan kerja" yang memegang akses langsung ke data sensitif.

"Solusi pencegahan kebocoran data konvensional dirancang untuk era perpindahan file dan email. Saat ini, data sensitif perusahaan tersebar secara sistematis melalui jutaan prompt, akun pribadi yang tidak terkelola, hingga agen AI otonom," ujar Eshed, dikutip Senin (10/8/2026).

Menurutnya, pimpinan keamanan siber harus beradaptasi dari sekadar memblokir AI menjadi mengelola alur operasionalnya secara berkelanjutan.

Baca selengkapnya di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya