Liputan6.com, Bogota - Badan Geologi Kolombia menyatakan gempa magnitudo 7,4 pada Senin (10/8/2026) merupakan yang terkuat yang tercatat di negara itu pada Abad ke-21. Setelah gempa utama, tercatat 21 gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil.
Mengutip laporan CNN, Asosiasi Ibu Kota Kolombia melaporkan sedikitnya 132 orang tewas dan 570 lainnya terluka akibat gempa.
Advertisement
Wilayah barat Kolombia di sekitar pusat gempa berada di kawasan Cincin Api, jalur rawan gempa yang mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi lokasi terjadinya sebagian besar gempa di dunia.
Kawasan Pasifik, terutama Choco, termasuk wilayah termiskin di Kolombia dan sebagian besar berupa hutan lebat. Banyak daerah di Choco hanya dapat dijangkau dengan perahu atau pesawat. Kondisi itu dapat menyulitkan pihak berwenang untuk mengetahui secara menyeluruh jumlah korban dan kerusakan akibat gempa.
Gempa tersebut membuat banyak warga Kolombia waswas setelah dua gempa beruntun meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Venezuela pada akhir Juni. Bencana itu menghancurkan ratusan bangunan dan menewaskan lebih dari 6.300 orang.
Hingga Senin sore, warga mulai memasukkan nama anggota keluarga yang hilang ke dalam daftar daring, seperti yang dilakukan masyarakat Venezuela setelah gempa di negara tersebut.
Salah satu daftar memuat lebih dari 1.400 nama, sebagian besar dari Cali dan Pereira. Jumlahnya terus bertambah.
Di antara foto orang-orang yang dicari terdapat seorang ibu muda bersama bayinya di Pereira. Foto lain memperlihatkan seorang perempuan berusia 80 tahun di Cali yang masih dicari keluarganya setelah bangunan tempat tinggalnya runtuh.
Sejumlah Kota Porak-poranda
Warga bersama tim penyelamat terus mencari korban selamat di antara reruntuhan. Pemerintah setempat mengatakan masih ada orang yang terjebak di sejumlah bangunan. Secara keseluruhan, 380 bangunan di Cali dilaporkan rusak.
"Seluruh rumah saya berguncang. Saya belum pernah mengalami gempa sekuat ini," kata Jorge Moncayo, sopir taksi berusia 64 tahun di Cali seperti dilaporkan Associated Press. "Kami bersyukur kepada Tuhan karena masih hidup."
Belum banyak informasi mengenai tingkat kerusakan di Choco, wilayah terpencil tempat para pejabat melaporkan puluhan orang terluka dan sejumlah bangunan rusak.
Sinyal telepon terputus di banyak bagian Quibdo, ibu kota Choco.
San Jose del Palmar, kota yang paling dekat dengan pusat gempa, tidak memiliki bandara. Kota itu berada di punggung pegunungan di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Cali dan Pereira.
Di Pereira, yang terletak lebih jauh ke selatan di kawasan pegunungan penghasil kopi Kolombia, foto dan video yang ditayangkan media lokal memperlihatkan bagian langit-langit bandara berjatuhan saat para penumpang berlindung sambil berteriak.
Rekaman lain menunjukkan orang-orang berlari di tengah puing dan kepulan debu. Warga mengatakan banyak toko, gedung tempat tinggal, dan rumah di berbagai bagian kota runtuh.
Wali Kota Pereira Mauricio Salazar menerangkan kepada sebuah stasiun radio setempat bahwa sedikitnya 15 bangunan runtuh dan dikhawatirkan masih ada orang yang terjebak di dalamnya.
Di Manizales yang berada tidak jauh dari Pereira, salah satu menara katedral bergaya neo-Gotik runtuh dan menimpa bagian tengah gereja.
Wali Kota Manizales Jorge Eduardo Rojas meminta warga tetap berada di luar bangunan untuk mengantisipasi gempa susulan.
Pihak berwenang mengatakan penerbangan di bandara Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, Buenaventura, dan Pereira dihentikan sementara selama pemeriksaan kerusakan dilakukan.
Bantuan Berdatangan dari Berbagai Negara di Benua Amerika
Gempa kecil yang dikenal masyarakat Kolombia dengan sebutan "temblores" cukup sering terjadi di wilayah tengah dan barat negara tersebut. Namun, gempa magnitudo di atas 6,0 jarang terjadi.
Pada 1999, gempa magnitudo 6,2 di dekat Kota Armenia menewaskan lebih dari 1.100 orang.
Penanganan gempa kali ini menjadi tantangan besar pertama bagi Abelardo de la Espriella, sekutu Donald Trump yang baru dilantik sebagai presiden Kolombia pada akhir pekan.
De la Espriella merupakan sosok yang memicu perdebatan karena berjanji melakukan penindakan besar-besaran terhadap kelompok kriminal. Ia mengatakan dirinya memimpin langsung penanganan darurat oleh pemerintah.
Pada Senin malam, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bantuan sebesar US$ 15,5 juta atau sekitar Rp 275,8 miliar untuk penyediaan tempat penampungan darurat, makanan, dan kebutuhan lain dalam penanganan bencana.
Sejumlah negara di Amerika Latin turut menawarkan bantuan.
Presiden El Salvador Nayib Bukele dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan siap membantu Kolombia. Kedua negara sebelumnya termasuk di antara pemberi bantuan terbesar kepada Venezuela setelah bencana gempa baru-baru ini.
"Dari El Salvador, kami terus berkomunikasi dan siap segera memberikan bantuan berupa tim penyelamat, tenaga medis, paramedis, berbagai kebutuhan, atau bantuan lain yang diperlukan saudara-saudara kami di Kolombia," ujar Bukele.
Presiden Chile Jose Antonio Kast mengatakan Chile, salah satu negara yang paling rawan gempa di kawasan tersebut, memahami rasa sakit dan tantangan yang ditimbulkan gempa dan berjanji memberikan bantuan.