Tertukar Saat Lahir, Dua Wanita di China Baru Bertemu Setelah 37 Tahun

Kedua wanita yang tertukar saat lahir ini ternyata hidup berdekatan.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 10 Agustus 2026, 21:30 WIB
Ilustrasi Ruang Bayi Rumah Sakit. (Liputan6.com/Ridlo untuk Ahmad Adirin)

Liputan6.com, Beijing - Dua wanita di China baru mengetahui bahwa mereka tertukar saat lahir setelah 37 tahun menjalani kehidupan masing-masing. Ironisnya, keduanya ternyata tumbuh dan besar hanya berjarak sekitar 4 kilometer satu sama lain di Provinsi Guangdong.

Dikutip dari South China Morning Post, Senin (10/8/2026), berdasarkan laporan China Newsweek, kedua wanita tersebut adalah Huang Xiaoli dan Li Hui. Mereka lahir dengan selisih waktu 55 menit di Qingyuan People’s Hospital, Qingyuan, Guangdong, pada Oktober 1989.

Saat itu, para perawat sempat memperlihatkan kedua bayi tersebut kepada ibu masing-masing sebelum membawanya ke ruang bayi. Kedua bayi kemudian dikenakan pakaian rumah sakit yang sama.

Namun, bangsal bersalin rumah sakit tersebut saat itu belum menggunakan gelang identitas untuk bayi. Identitas mereka hanya dibedakan melalui kartu nama yang diletakkan di dalam selimut masing-masing bayi. Hingga kini, penyebab pasti kesalahan identifikasi tersebut belum diketahui.

Huang kemudian tumbuh dalam keluarga yang relatif sejahtera. Orang tua yang membesarkannya bekerja sebagai pegawai pemerintahan.

Sejak kecil, sejumlah hal membuat ayah angkat Huang mempertanyakan hubungan biologis mereka. Ia mengetahui golongan darah Huang berbeda darinya dan menilai putrinya tidak terlalu memiliki kemiripan fisik dengannya. Kecurigaan tersebut bahkan sempat membuatnya menduga istrinya berselingkuh.

Kedua orang tua angkat Huang akhirnya bercerai ketika ia berusia lima tahun. Huang kemudian dibesarkan oleh ibu angkatnya.

Hubungan Huang dengan ayah angkatnya juga tidak terlalu dekat. Untuk memperbaiki hubungan tersebut, Huang memutuskan menjalani tes DNA pada 2022. Namun, hasil pemeriksaan justru mengungkap fakta mengejutkan: kedua orang yang selama ini diyakininya sebagai orang tua ternyata tidak memiliki hubungan biologis dengannya.

Huang kemudian meminta bantuan polisi untuk mencari keluarga biologisnya. Pada April 2025, pencarian tersebut membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan keluarga kandungnya sekaligus mengetahui bahwa Li Hui merupakan wanita lain yang diduga tertukar dengannya akibat kesalahan identifikasi di rumah sakit 37 tahun sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan, Huang dan Li ternyata tumbuh di wilayah yang berdekatan. Rumah tempat keduanya dibesarkan hanya berjarak sekitar 4 kilometer.

Keduanya pun menjalani kehidupan yang berbeda selama puluhan tahun tanpa mengetahui bahwa mereka sebenarnya lahir di rumah sakit yang sama dan tertukar tak lama setelah dilahirkan.

Momen Pertemuan

Ilustrasi Inkubator Bayi. (Sumber/Ruli Ananda Putri)

Sementara itu, Li dibesarkan di keluarga yang mengelola sebuah toko kelontong kecil. Selama masa sekolah dasarnya, sang ayah angkat kehilangan tabungan keluarga akibat penipuan investasi. Sehingga, pasangan tersebut mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Li pun putus sekolah saat ia masih di sekolah menengah untuk membantu menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pemandu wisata, resepsionis hotel, dan sales. Bertahun-tahun bekerja berjam-jam dan tekanan finansial berdampak buruk pada Li. Ia menderita gangguan darah dan menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid.

Kedua wanita ini bertemu untuk pertama kalinya di sebuah kafe. Mereka menyebutkan pertemuan tersebut sebagai “gugup, mendebarkan, dan sedikit canggung.”

Li tercengang saat mengetahui bahwa selama ini ia ternyata tinggal hanya 4 kilometer dari orang tua kandungnya. Penemuan mengejutkan ini membuatnya bertanya-tanya seberapa berbedakah hidupnya secara keseluruhan jika itu tidak terjadi. Huang, saat merenung, mempertanyakan apakah pertukaran bayi tersebut telah merampas masa kecilnya yang bebas dari kecurigaan dan keterasingan sosial.

Keduanya memutuskan untuk memilih menjalin hubungan dengan keluarga yang membesarkan mereka. Li menjelaskan bahwa ibu angkatnya tidak memiliki tunjangan pensiun dan masih bergantung padanya. Sementara ibu angkat Huang menyatakan tidak ingin mengganggu kehidupan keluarga lain.

Mereka kemudian meminta salinan akta kelahiran mereka dari rumah sakit. Namun, mereka justru diberi tahu bahwa berkas-berkas tersebut tidak dapat ditemukan. Huang juga diberi tahu bahwa beberapa staf yang terlibat telah pensiun, sementara yang lain telah meninggal.

Kini, mereka meminta ganti rugi dengan total sebesar 2,6 juta Yuan atau Rp 6,8 miliar dari pihak rumah sakit. Sidang kasus ini dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus.

Seorang pengamat di dunia maya berkomentar: “Ini sungguh menyedihkan. Seandainya bayi-bayi itu tidak tertukar, kedua keluarga mungkin terhindar dari penderitaan selama puluhan tahun.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya