Menko Airlangga Ungkap Perusahaan Publik Pertama di Dunia

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyinggung sejarah komoditas VOC dalam peluncuran ETF emas di BEI.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Agustus 2026, 15:50 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat peluncuran ETF emas di BEI, Senin (10/8/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyinggung sejarah pasar modal dunia dengan menyebut Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai perusahaan pertama yang tercatat di bursa (public listed company).

Airlangga mengatakan sejarah pasar modal Indonesia tidak terlepas dari keberadaan bursa yang dibentuk pada masa kolonial Belanda. Menurutnya, VOC menjadi salah satu tonggak awal perkembangan perusahaan publik di dunia.

"Kalau kita ingat, VOC itu adalah the first public listed company di dunia. Bidang usahanya adalah komoditas, komoditas ASEAN, shipping," kata Airlangga dalam peluncuran ETF Emas di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).

Airlangga menilai sejarah tersebut menunjukkan kuatnya keterkaitan Indonesia dengan aktivitas perdagangan komoditas sejak berabad-abad lalu. Ia menyebut nilai kapitalisasi pasar VOC jika dihitung menggunakan nilai saat ini bahkan dapat mencapai US$ 7 triliun hingga US$ 8 triliun.

"Jadi bahkan dengan today's value pun sangat tinggi. Artinya, itu juga beberapa di antaranya based on Indonesian commodities selama tiga abad," ujarnya.

 

Pendalaman Sektor Keuangan

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Airlangga kemudian mengaitkan sejarah tersebut dengan perkembangan pasar modal Indonesia saat ini. Ia menegaskan pemerintah terus mendorong pendalaman sektor keuangan melalui pengembangan produk investasi baru, termasuk ETF emas.

Menurut Airlangga, pengembangan ETF emas dapat memperluas pilihan investasi sekaligus meningkatkan likuiditas pasar keuangan domestik.

"Dengan produk baru ETF, kita akan terus memperkuat kedalaman sektor keuangan yang dimiliki Indonesia," kata dia.

Ia juga menilai perkembangan instrumen berbasis emas berpotensi memperkuat posisi Indonesia di pasar investasi global. Airlangga menyebut Indonesia memiliki cadangan emas di Pegadaian sekitar 153 ton dengan nilai mencapai kisaran US$ 20 miliar.

"Jadi India sebetulnya bisa kita balap dalam waktu cepat. Kita juga dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya