Netanyahu Tolak Proposal AS untuk Gaza Jelang Pemilu Israel

Agenda domestik dan tekanan koalisi kabinet memengaruhi arah kebijakan luar negeri pemerintahan Netanyahu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Agustus 2026, 09:48 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Dok. Ronen Zvulun via AP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (9/8/2026) menolak proposal Amerika Serikat (AS) terkait Jalur Gaza yang telah disetujui Hamas. Sikap tersebut jelas menunjukkan perbedaan pandangan dengan Presiden Donald Trump, saat Netanyahu berupaya memperkuat dukungan menjelang pemilu yang diperkirakan berlangsung ketat.

Netanyahu sebelumnya telah mengkritik rencana tersebut selama lebih dari sepekan. Ia akhirnya menyatakan penolakan secara terbuka setelah mendapat tekanan dari sekutu-sekutu sayap kanannya, meski sebelumnya memperoleh jaminan bahwa Israel tidak harus segera menarik pasukannya dari Gaza.

"Israel menolak dokumen 15 poin tersebut," kata Netanyahu seperti dilaporkan CNA, merujuk pada rencana yang disetujui Hamas pada akhir Juli.

Dalam rapat kabinet, Netanyahu menegaskan militer Israel "tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan serta warga kami".

Netanyahu menyebut Trump, yang sebelumnya memuji kesepakatan Gaza itu sebagai tonggak penting bagi perdamaian, sebagai "sahabat terbesar kami di Gedung Putih". Namun, ia sekaligus menegaskan bahwa Israel tidak akan segan berbeda pandangan dengan Washington dan telah menyampaikan keberatannya kepada pemerintah AS.

"Mereka punya sejumlah gagasan. Sebagian dapat kami terima dan sebagian tidak. Kami tahu bagaimana mempertahankan sikap kami dalam masalah-masalah ini," ujarnya.

Netanyahu, yang menjadi perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, bersaing ketat atau tertinggal dalam sejumlah jajak pendapat menjelang pemilu 27 Oktober. Pemilu tersebut merupakan yang pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan rencana Gaza itu tidak mendapat banyak dukungan dari kelompok sayap kanan yang menjadi basis politik Netanyahu. Anggota kabinet dari kelompok sayap kanan jauh pun mendesaknya untuk menggagalkan rencana tersebut.

"Satu-satunya Jalan ke Depan"

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyimak pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, 29 Desember 2025. (Dok. AP Photo/Alex Brandon, Arsip)

Pimpinan badan bentukan Trump yang bertugas menjalankan rencana tersebut, yang diberi nama Dewan Perdamaian atau Board of Peace, membela kesepakatan itu sebagai cara untuk mencegah terulangnya serangan seperti pada 7 Oktober.

"Pilihan yang kami tawarkan hari ini adalah satu-satunya jalan ke depan untuk memastikan tragedi seperti ini tidak terulang," kata Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza, kepada stasiun televisi Israel Channel 12.

Mladenov berharap pembicaraan lanjutan dengan Israel dapat membuahkan "hasil positif". Ia menyebut tahap terbaru kesepakatan itu sebagai komitmen antara AS, Hamas, dan Dewan Perdamaian. Israel tidak disebut sebagai salah satu pihak dalam komitmen tersebut.

Ia kembali menegaskan bahwa Israel tidak perlu memenuhi kewajiban apa pun sebelum Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya, termasuk senapan Kalashnikov. Namun, menurut Mladenov, Israel pada akhirnya tetap harus menarik pasukannya.

Hamas, yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut beberapa hari setelah memilih pemimpin baru, Khalil al-Hayya, meminta Washington menekan Netanyahu.

"Kami berharap para mediator dan AS sebagai penjamin menekan Netanyahu dan pemerintahannya agar mematuhi peta jalan tersebut, serta tidak menghambat proses karena kepentingan politik dalam negeri dan pemilu," ungkap anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, kepada AFP.

Dalam pernyataan terpisah, Hamas menegaskan tetap berkomitmen terhadap rencana tersebut.

Gesekan dengan Trump

Sebelum perbedaan sikap dengan Trump mencuat, Netanyahu kerap menjadikan kedekatan mereka sebagai salah satu modal politik dalam kampanye. Trump sendiri telah mengambil sejumlah langkah yang sangat mendukung Israel, termasuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem.

Pada akhir Februari, Trump bersama Netanyahu memulai perang terhadap Iran. Namun, pandangan keduanya kemudian berbeda ketika Trump mendorong gencatan senjata dan penyelesaian lanjutan atas konflik tersebut, yang mulai menggerus popularitasnya dan memicu lonjakan harga minyak.

Netanyahu mengatakan kepada kabinetnya bahwa apa pun hasil perundingan dengan Iran, ia tidak akan membiarkan negara itu memiliki senjata nuklir selama dirinya masih menjabat perdana menteri. Ia sejak lama menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Pekan lalu, Netanyahu juga memerintahkan serangan baru terhadap Lebanon sebagai respons atas apa yang disebut Israel sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah yang didukung Iran. Serangan itu dilakukan saat Israel dan Lebanon tengah menjalani perundingan yang dimediasi AS.

Rencana Gaza merupakan tahap terbaru dari gencatan senjata yang ditengahi AS dan diumumkan pada Oktober. Gencatan senjata itu telah mengurangi operasi militer Israel di Gaza, tetapi belum menghentikannya sepenuhnya.

Juru bicara pertahanan sipil Gaza Mahmoud Bassal mengatakan kepada AFP bahwa tembakan Israel pada Minggu melukai sejumlah orang, termasuk seorang anak yang kemudian dibawa ke rumah sakit di Khan Yunis.

Menurut otoritas kesehatan Gaza, operasi Israel telah menewaskan 1.258 warga Palestina sejak gencatan senjata diberlakukan. Dalam periode yang sama, militer Israel melaporkan lima tentaranya tewas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya