Rusia Jual Cadangan Emas Buat Atasi Defisit Anggaran?

Rusia dikabarkan meraup dana sekitar US$ 5 miliar atau Rp 89 triliun dari penjualan cadangan emas.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 08 Agustus 2026, 20:23 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (Dok. Mikhail Metzel, Sputnik, Foto Pool Kremlin via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Rusia telah menjual sebagian besar cadangan emas sepanjang 2026. Hal ini sebagai upaya menggalang dana untuk menutup defisit anggaran yang besar.

Mengutip laman DW, ditulis Sabtu (8/8/2026), Bank Sentral Rusia baru-baru ini mengumumkan cadangan emas tercatat 73,4 juta troy ounce atau 2.282 metrik ton (MT), per awal Juli. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 43,5 MT sejak awal 2026.

Hal ini berarti cadangan emas Rusia kini berada di tingkat terendah sejak sebelum invasi skala penuh ke Ukraina dimulai pada Februari.

Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi pada awal tahun. Harga rata-rata sekitar US$ 4.800 per ounce dalam empat bulan pertama, sebelum turun kembali ke tingkat saat ini di kisaran US$ 4.000 per ounce.

Adapun aksi penjualan besar-besaran oleh Rusia ini diperkirakan telah menghasilkan dana lebih dari US$ 5 miliar atau Rp 89 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800).

“Fakta mereka menjual emas berarti mereka mulai kehabisan aset lain yang lebih likuid,” ujar Ekonom Peterson Institute for International Economics, Elina Ribakova, kepada DW.

“Jadi ada tekanan terhadap defisit anggaran, dan juga tekanan terhadap sumber pendanaan untuk menutupi defisit tersebut,” ia menambahkan.

Masalah Anggaran

Anggaran Rusia berada di bawah tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir akibat lonjakan besar belanja pertahanan untuk membiayai perang di Ukraina.

Awal tahun ini, Financial Times melaporkan Kementerian Keuangan Rusia telah memperingatkan kabinet melalui sebuah surat kalau pengeluaran berlebih untuk perang akan mencapai setidaknya US$ 28 miliar atau Rp 498,42 triliun pada 2026. Pengeluaran besar diprediksi berlanjut pada 2027 dan 2028.

Belanja pertahanan telah naik lebih dari emoat kali lipat sejak 2021. Totalnya mencapai 16 triliun rubel pada 2025. Nilai itu setara US$ 204 miliar atau Rp 3.631 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800).

 

Tak Mencerminkan Kondisi Rusia

Vladimir Putin di Kremlin, Moskow. (Dok. Mikhail Metzel/Sputnik/Kremlin Pool via AP)

Analis keuangan perusahaan konsultan Macro-Advisory, Chris Weafer menuturkan, meski penjualan emas Rusia ini tergolong signifikan, hal itu bukanlah bentuk penjualan panik.

“Ini adalah situasi yang luar biasa, tetapi trennya relatif wajar,” kata dia.

Ia menuturkan, hal ini sama sekali tidak mencerminkan kondisi Rusia yang sedang bangkrut, kehabisan dana, tidak memiliki aset lain hingga harus benar-benar menjual harta simpanan berharganya.

Ia menuturkan, emas yang telah dilepas Rusia sebagian besar dijual oleh kementerian keuangan Rusia melalui Dana Kesejahteraan Nasional atau National Welfare Fund (NWF), bukan oleh Bank Sentral Rusia.

"Sejak awal tahun 2022, emas menjadi salah satu aset yang dapat dibeli oleh Dana Kesejahteraan Nasional, karena surat utang pemerintah AS (Treasuries) dan Jerman (Bunds) tidak dapat mereka akses (akibat sanksi yang dijatuhkan setelah invasi ke Ukraina),” ujar dia.

Memulihkan Kembali Aset Likuid

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Weafer menyoroti, emas telah menjadi komponen likuid utama dalam dana tersebut. Ia menuturkan, memang merupakan tujuan dari pembentukan dana kesejahteraan nasional, untuk dijual saat dana dibutuhkan, terutama di masa-masa sulit. "Dalam konteks itu, bisa dikatakan bahwa aset tersebut menjalankan fungsi yang memang diharapkan."

Penjualan emas oleh dana tersebut bertujuan untuk memulihkan kembali aset likuidnya. Weafer memperkirakan nilai dana tersebut mencapai sekitar US$ 150 miliar atau Rp 2.670 triliun, dengan sekitar US$ 50 miliar atau Rp 890,05 triliun di antaranya dikategorikan sebagai aset "likuid".

"Kremlin tidak ingin penyangga dana tersebut menyusut karena hal itu dapat memicu spekulasi mengenai krisis keuangan atau kesulitan ekonomi, serta melemahkan posisi geopolitik Kremlin," ujar Weafer.

"Mereka ingin menampilkan citra negara yang sangat stabil dan kuat, dan cadangan kas sebesar US$ 50 miliar itu merupakan bagian penting dari citra tersebut,” tutur dia.

Ia menambahkan, faktor penting lainnya adalah status Rusia sebagai salah satu produsen emas terbesar di dunia. Rusia dapat memulihkan kembali stok emas yang telah dijual dengan relatif cepat melalui pembelian dari produsen dalam negeri. Rusia memiliki cadangan emas terbesar kelima di dunia, setara dengan China, Prancis, dan Italia, tetapi jumlahnya masih jauh di bawah dua negara teratas, yakni Jerman dan Amerika Serikat.

Ribakova sependapat bahwa hal ini memberikan penyangga yang signifikan bagi Rusia.

"Rusia memiliki keuntungan," ujarnya. "Mereka memproduksi emas sendiri. Jadi, saat khawatir akan sanksi, mereka mengalokasikan sebagian dana untuk membeli emas dari produsen dalam negeri."

 

 

Membiayai Perang

Presiden Rusia Vladimir Putin. (Dok. AP/Alexander Zemlianichenko)

Fakta Rusia telah menjadi salah satu penjual emas terbesar memunculkan pertanyaan lebih lanjut mengenai defisit anggarannya dan apa dampaknya terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Menurut data pemerintah terkini, belanja dan defisit anggaran federal Rusia pada 2026 berpotensi melampaui rencana resmi hingga lebih dari 1 triliun rubel (US$ 12,85 miliar atau Rp 228,74 triliun). Saat ini, defisit anggaran tahun 2026 diproyeksikan sebesar 1,6% dari PDB atau sekitar US$ 40 miliar atau Rp 712,04 triliun dan angka ini masih bisa meningkat.

Namun, peningkatan pendapatan dari minyak dan gas—yang didorong oleh naiknya harga minyak akibat konflik terkait Iran, telah membantu Moskow mengimbangi kesulitan anggaran sejauh ini pada 2026.

 

Rusia Masih Mampu Membiayai Perang

Ilustrasi Rusia dan Bendera Rusia (AP PHOTO/Alexander Zemlianichenko)

Ribakova menyatakan, segalanya bergantung pada harga dan pendapatan yang diperoleh Rusia dari minyak dan gas; ia menyebut hal ini sebagai "batasan nyata" bagi kemampuan Moskow untuk membiayai perang di Ukraina yang telah berlangsung selama empat setengah tahun.

"Segalanya bergantung pada hal itu," catatnya.

"Saat harga minyak tinggi, Rusia memperoleh pendapatan. Lebih mudah untuk meminjam dana, dan sistem keuangan dalam negerinya pun lebih sehat. Jika harga minyak turun, katakanlah ke angka enam puluh atau empat puluh, maka krisis akan segera terjadi."

Baik Ribakova maupun Weafer mengingatkan terlepas dari kesulitan ekonomi yang nyata saat ini, Rusia tetap mampu membiayai perang untuk masa mendatang dengan cara memangkas belanja non-pertahanan.

"Putin bisa terus melanjutkannya selama bertahun-tahun dalam situasi saat ini," ujar Ribakova.

"Mungkin tidak ada kemajuan di garis depan dan memang kita tidak melihat adanya kemajuan dalam beberapa tahun terakhir namun mereka tetap mampu mengerahkan sumber daya untuk perang melawan Ukraina,” ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya