Liputan6.com, Jakarta - Fitur pengisian daya nirkabel (wireless charging) kini tersedia pada ponsel pintar (HP) modern. Namun, ketika pengisian daya lambat serta menjadi panas berlebih ada kaitannya dengan casing.
Diwartakan Engadget, senin (10/8/2026), pengisian nirkabel pertama kali dihadirkan Palm Pre pada 2009 dan dipopulerkan Nokia Lumia 920 pada 2012 dengan standar Qi.
Advertisement
Adopsi teknologi tersebut kian meluas saat Apple juga meluncurkan MagSafe di iPhone 12 pada 2020. Sayangnya, di tengah perkembangan teknologi ini, masih banyak produsen casing mengabaikan aspek pengisian daya nirkabel dalam desain mereka.
Hindari Jenis Casing Ini
Sistem pengisian daya nirkabel mentransfer energi melalui dudukan pengisian daya dan bagian belakang ponsel. Proses ini dinilai kurang efisien dan dapat menghasilkan panas berlebih. Saat ini, pengisian tercepat berada di 25W dan menggunakan Qi2 atau MagSafe.
Oleh karena itu, penggunaan casing bisa memperparah efisiensi pengisian daya. Casing yang terlalu tebal dapat menyulitkan pengaliran energi dan panas akan terperangkap di dalam material tebal itu.
Sedangkan casing dengan unsur logam dan posisi magnet yang salah, bisa menghalangi proses pengisian daya sepenuhnya.
Selain itu, aksesori ponsel seperti Grip atau PopSockets, jelas menambah ketebalan dan sama bahayanya. Berdasarkan pengalaman nyata pada Galaxy S25, hal ini bisa menahan panas berlebih hingga melunakkan perekat bagian belakang ponsel.
Cara Memilih Casing
Jika kamu memilih casing dengan cincin magnet pengisian daya Qi2, dipastikan kualitasnya bagus dan kokoh.
Casing dengan bahan Thermoplastic Polyurethane (TPU) bisa menjadi pilihan, karena material plastik tipis, sehingga tidak menghalangi proses pengisian daya. Terutama untuk ponsel flagship seperti Samsung Galaxy S26 Ultra yang membutuhkan casing magnetik.
Saran terbaik jatuh pada ulasan pengguna dan jangan langsung percaya begitu saja dengan klaim spesifikasi di toko online.