Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan hayati yang dapat menjadi sumber bahan baku industri kecantikan. Ribuan jenis tanaman aromatik dan tumbuhan berkhasiat berpotensi dikembangkan menjadi bahan aktif untuk skincare dan produk wellness.
Potensi tersebut membuka peluang bagi industri kecantikan untuk menghadirkan produk berbasis bahan lokal. Tren natural beauty yang mendorong konsumen memilih produk berbahan alami turut memperkuat peluang pengembangan tanaman Nusantara menjadi produk kecantikan bernilai tambah.
Advertisement
"Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, tapi pemanfaatannya untuk industri kosmetik masih sangat kecil. Justru karena masih banyak yang belum diteliti, peluang untuk menghadirkan inovasi baru juga masih sangat terbuka," ujar Founder PT Her Bayu Inti, dr. Sathya Bhakti Negara, melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 7 Agustus 2026.
Dokumen kebijakan Obat Tradisional (Kotranas) 2006 memperkirakan Indonesia memiliki sekitar 33 ribu jenis tanaman aromatik dan tanaman yang berpotensi digunakan untuk produk kosmetik maupun wellness. Kajian akademik juga mencatat sekitar 9.600 spesies tumbuhan Indonesia memiliki khasiat.
Industri baru memanfaatkan sekitar 200 spesies sebagai bahan baku. Angka tersebut memperlihatkan panjangnya perjalanan yang harus ditempuh sebuah tanaman sebelum dapat masuk ke dalam produk skincare.
Pelaku industri perlu mengenali kandungan dan karakteristik tanaman sebelum menentukan potensi penggunaannya dalam formulasi kosmetik. Riset menjadi tahap penting dalam proses tersebut.
Peneliti perlu mengidentifikasi manfaat bahan, menentukan cara ekstraksi yang sesuai, serta mempelajari karakteristiknya agar dapat dikembangkan secara aman dan konsisten. Dr. Sathya mengatakan, pengalaman penggunaan tanaman secara turun-temurun belum cukup untuk menjadikannya bahan kosmetik modern.
Tahapan-Tahapan Lainnya
Industri membutuhkan data ilmiah untuk memastikan bahan dapat digunakan secara tepat dalam formulasi. "Setiap bahan harus melalui proses riset, mulai dari formulasi, uji stabilitas, uji keamanan, hingga memastikan kualitasnya konsisten agar menghasilkan produk yang benar-benar aman dan mampu bersaing di pasar," katanya.
Tahap formulasi kemudian mengubah bahan yang telah diteliti menjadi komponen dalam sebuah produk. Formulator harus menentukan konsentrasi bahan, mengombinasikannya dengan komponen lain, serta memastikan formula tetap stabil selama penyimpanan dan penggunaan.
Pengujian keamanan menjadi bagian lain yang tidak dapat dilewati. Produsen harus memastikan produk memenuhi persyaratan yang berlaku sebelum memasarkannya pada konsumen. Proses tersebut membuat bahan alami tidak sekadar memiliki cerita menarik, tapi juga dasar yang mendukung penggunaannya dalam produk kecantikan.
Meningkatkan Nilai Ekonomi
Pengembangan bahan lokal juga berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai ekonomi kekayaan alam Indonesia. Sejumlah bahan alami Indonesia masih berpotensi dijual dalam bentuk mentah sebelum menjalani proses pengolahan lebih lanjut di luar negeri.
Namun, pengolahan bahan di dalam negeri memungkinkan proses penelitian, formulasi, produksi, dan pengembangan produk berlangsung dalam satu ekosistem. Langkah tersebut juga membuka peluang bagi industri nasional untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
Pemilik brand membutuhkan mitra produksi untuk melewati tahapan tersebut. Perusahaan maklon kosmetik dapat membantu mengembangkan formula, menyiapkan proses produksi, melakukan pengujian, serta mendukung pemenuhan persyaratan legalitas.
Kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat proses dari tanaman hingga produk kecantikan. Peneliti dapat mengembangkan pengetahuan mengenai bahan, sementara industri menerjemahkan hasil penelitian menjadi formula dan produk yang sesuai kebutuhan konsumen.
Maklon Kosmetik
PT Her Bayu Inti (HBI) jadi salah satu perusahaan yang bergerak di bidang maklon kosmetik. Perusahaan yang berdiri pada 2021 tersebut berbasis di Tangerang dan telah membantu produksi lebih dari 100 brand lokal dalam kategori skincare, kosmetik, serta produk perawatan rumah tangga.
HBI memiliki sertifikasi BPOM, Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), halal, dan ISO. Perusahaan tersebut menawarkan minimum order mulai dari 1.000 produk sehingga pelaku usaha dapat memulai pengembangan brand dengan skala produksi yang lebih terukur.
"Kekayaan bahan lokal kita luar biasa, tapi masih banyak yang belum digali dan diteliti. Kami ingin menjadi jembatan bagi para pemilik brand untuk mengubah potensi tersebut menjadi produk yang aman, terlegalisasi, dan siap bersaing di pasar," tutup dr. Sathya.