Liputan6.com, Jakarta - Peringkat lima orang terkaya di Filipina telah bergeser 2026, dengan pemilik SM Investments, keluarga Sy kehilangan posisi teratasnya. Nama baru juga terlihat muncul dalam daftar orang terkaya di Filipina pada 2026.
Melansir VnExpress, Senin (10/8/2026), lima orang terkaya di Filipina ini memiliki kekayaan gabungan sebesar US$ 40,8 miliar, atau Rp 728,5 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.856). Total kekayaan itu turun 2,28% sebesar US$ 950 juta, atau Rp 16,9 triliun dibanding tahun lalu. Data didapatkan dari daftar terbaru dari Forbes yang dirilis Rabu, 5 Agustus 2026.
Advertisement
1. Enrique Razon Jr.
Konglomerat pelabuhan, Enrique Razon Jr. (66), menduduki posisi teratas tahun ini dengan kekayaan bersih US$ 21,8 miliar, atau Rp 389,2 triliun.
Sebagian besar kekayaannya didapatkan dari sahamnya di operator pelabuhan yang terdaftar di bursa, International Container Terminal Services, salah satu operator terminal independen terbesar di dunia. Perusahaan yang didirikan oleh kakeknya pada tahun 1916 ini, menurut Bloomberg, 51% sahamnya dimiliki langsung oleh Razon dan melalui tiga perusahaan induk.
Saham perusahaan ini meningkat sejak tahun lalu karena ekspansi global perusahaan raksasa ini meskipun terdapat tekanan geopolitik.
Razon juga memiliki saham besar di operator resor Bloomberry Resorts, perusahaan air Manila Water, produsen emas Apex Mining, dan memiliki kepentingan di ladang gas lepas pantai. Tahun lalu, dia membeli 60% saham kepemilikan di empat pembangkit listrik tenaga gas yang sebelumnya dikuasai Lopez Group, konglomerat Filipina lainnya.
2.Keluarga Sy
Keenam Sy bersaudara ini mendapat kekayaannya dari mendiang ayah mereka, Henry Sy Sr., yang mengubah bisnis sepatu sederhana menjadi SM Group, salah satu konglomerat terbesar di Asia Tenggara yang bisnisnya mencakup retail, perbankan, hotel, properti, dan tambang.
Daftar Orang Terkaya di Filipina Lainnya
Kekayaan bersih gabungan mereka, yang susut US$ 2,6 miliar, atau Rp 46,4 triliun ke US$ 9,2 miliar, atau Rp 164,2 triliun tahun ini. Mayoritas datang dari saham yang terdaftar di bursa, SM Investments, dan properti unggulan, SM Prime.
Saham SM Prime merosot 18% satu tahun ini lantaran pasar properti yang lesu. Selain itu, saham SM Investments juga tertekan karena sentimen yang lemah, menurut Esquire Philippines. Ini membuat mereka turun dari posisi teratas, yang sudah dipertahankan bertahun-tahun.
3.Ramon Ang
Ramon Ang (72) menduduki posisi ketiga meski kekayaan bersihnya merosot ke US$ 3,5 miliar, atau Rp 62,4 triliun, dari US$ 3,7 miliar, atau Rp 66 triliun setahun sebelumnya.
Ang adalah ketua dan CEO San Miguel Corporation, salah satu konglomerat tertua di negara tersebut.
Pertama didirikan sebagai pabrik bir di 1890, perusahaan itu sudah memperluas bisnisnya ke F&B, kemasan, bahan bakar dan minyak, serta energi dan infrastruktur. Portofolionya termasuk Petron, yang menjalankan kilang minyak terakhir yang ada di Filipina.
Saham San Miguel merosot 10% dalam setahun karena investor mengkhawatirkan beban utang perusahaan tersebut.
4. Lucio & Susan Co
Lucio dan Susan Co memasuki daftar ini untuk pertama kalinya tahun ini, dengan kekayaan bersih gabungan US$ 3,3 miliar, atau Rp 58,9 triliun.
Pasangan suami istri ini mendirikan Puregold Price Club pada 1998, membangun bisnisnya dari satu supermarket dan kemudian menjadi jaringan retail dengan hampir 800 toko, termasuk klub grosir dan restoran pizza cepat saji.
Bisnis retail yang sekarang dipimpin oleh putra mereka mengalami kenaikan keuntungan bersih 24%, yakni ke angka US$ 54 juta, atau Rp 964,2 miliar pada kuartal I. Mereka juga berinvestasi dalam keuangan, properti, dan energi.
5. Isidro Consunji & Saudara
Isidro Consunji dan saudaranya, yang mewarisi perusahaan pengembang properti milik almarhum ayah mereka, DMCI Holdings, tetap berada di peringkat kelima tahun ini meskipun kekayaan mereka turun 19% menjadi US$ 3 miliar, atau Rp 53,5 triliun.
Perusahaan yang didirikan pada 1954 ini adalah salah satu pengembang properti terbesar di Filipina, dan memiliki kepentingan di tambang, pembangkit listrik, dan perusahaan air.
Unit batubara dan energi yang merupakan penyumbang pendapatan terbesar mereka, Semirara Mining and Power, tahun lalu memperoleh persetujuan regulator untuk proyek perluasan tambang batu baranya senilai US$ 5 miliar, atau Rp 89,2 triliun di Provinsi Antique.
Semirara melaporkan laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar US$ 215,12 juta, atau Rp 3,8 triliun, turun 33% dibandingkan tahun sebelumnya akibat normalisasi harga energi dan kenaikan biaya operasional, meskipun produksi batubara dan penjualan listrik mencapai rekor tertinggi, menurut Manila Bulletin.