Liputan6.com, Jakarta - Intervensi gabungan Amerika Serikat (AS)-Jepang untuk mendukung mata uang yen yang sedang tertekan telah diumumkan pada 31 Juli 2026. Intervensi itu sempat membuat yen melambung tetapi lonjakan mulai mereda. Hal ini seiring pergerakan nilai tukar yen kembali melemah.
Mengutip CNBC, Jumat (7/8/2026), langkah terkoordinasi dari Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) dan Bank of Japan (BoJ) awalnya sempat mendongkrak nilai yen hingga mencapai level 155 terhadap dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya yang berada sedikit di atas 163.
Advertisement
Namun, sejak saat itu, pergerakan yen menjadi tidak stabil. Mata uang itu kehilangan hampir separuh dari kenaikan itu dan menetap di kisaran 158,50 terhadap dolar AS, sepekan setelah langkah intervensi diumumkan pada 31 Juli 2026.
Fundamental yen itu menjadi sorotan. Pelaku pasar kini lebih mencermati perubahan kebijakan domestik ketimbang langkah-langkah dukungan yang didukung pemerintah.
Ekonom PGIM, Robert Sockin menuturkan dalam sebuah catatan pada Rabu pekan ini kalau tidak yakin strategi itu akan berhasil.
"Ya, intervensi ini memang menekan posisi short (jual) yen dalam jangka pendek, namun saya skeptis langkah ini akan berhasil membalikkan tren pelemahan JPY dengan sendirinya, bahkan bisa jadi justru berbalik menjadi bumerang yang dampaknya sangat besar," tulisnya.
Jika langkah ini menjadi bumerang, Sockin menambahkan, para spekulan mungkin akan memperparah pembalikan arah tersebut dengan menjual yen dan obligasi pemerintah AS (Treasury) secara agresif. Hal ini untuk memaksa BoJ dan The Fed melakukan kenaikan suku bunga sebagai langkah antisipasi.
Alasan AS Dukung Intervensi Jepang
Intervensi terkoordinasi ini merupakan upaya langkah AS untuk mendukung mata uang utama negara lain, sekaligus menggarisbawahi kekhawatiran Washington pelemahan yen yang berkepanjangan dapat memicu inflasi di Jepang, menekan mata uang Asia lainnya, serta mengganggu stabilitas pasar global.
Dalam catatan terbarunya, BofA menyebutkan tujuan jangka pendek bank sentral adalah menembus level 155, tetapi level tersebut hanya sempat disentuh sesaat sebelum nilai tukar kembali melemah.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengakui dalam wawancara dengan CNBC pekan lalu intervensi semata tidak akan menentukan arah pergerakan mata uang tersebut.
"Anda bisa memberikan sinyal pasar melalui intervensi, namun kebijakanlah yang mengubah arahnya," ujar dia.
Ia menambahkan, AS turut serta karena merasa optimistis terhadap arah kebijakan Jepang.
Pembelian Yen Cetak Rekor
Di sisi lain, otoritas Jepang melakukan intervensi pembelian yen dalam satu hari dengan rekor terbesar di pasar valuta asing pada April. Otoritas Jepang menjual cadangan mata uang negara senilai US$ 40 miliar atau Rp 717,18 triliun saat mereka kembali melakukan operasi pembelian yen secara besar-besaran untuk menahan pelemahanyen.
Mengutip Channel News Asia, Jumat, (7/8/2026), pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi lanjutan karena nilai tukar yen kembali melemah hingga melampaui level 158 per dolar AS. Hal ini menunjukkan adanya tekanan yang terus berlanjut terhadap mata uang Jepang tersebut, sementara para investor menantikan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis hari ini, yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Data triwulanan dari Kementerian Keuangan Jepang (MOF) yang dirilis pada Jumat menunjukkan bahwa otoritas melakukan intervensi selama tiga hari, mulai dari 30 April hingga 6 Mei, saat likuiditas pasar sedang rendah akibat libur panjang "Golden Week".
Jepang Bakal Rilis Data Resmi 28 Agustus 2026
Operasi terbesar tercatat sebesar 6,28 triliun yen (US$ 39,64 miliar) pada 30 April, melampaui rekor satu hari sebelumnya sebesar 5,92 triliun yen yang dicatat pada 29 April 2024, berdasarkan data MOF yang mencakup periode sejak 1991.
Data terbaru ini memberikan rincian harian atas intervensi bulanan yang memecahkan rekor sebesar 11,7 triliun yen, yang sebelumnya telah diumumkan yang dilakukan dalam kurun waktu 28 April hingga 27 Mei.
Intervensi tersebut sempat mengangkat nilai tukar yen dari level terendah dalam hampir dua tahun di angka 160,725 per dolar menjadi sekitar 155 per dolar pada 6 Mei, tetapi tidak mengubah tren pelemahan mata uang tersebut secara keseluruhan.
Yen kembali melemah dan sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun di bawah 163 per dolar pada Juli, yang mendorong Jepang untuk kembali melakukan intervensi pekan lalukali ini dilakukan melalui koordinasi dengan pihak AS.
Data bank sentral mengindikasikan Jepang mungkin telah menghabiskan dana sebesar US$ 58,97 miliar pada 30 Juli dan US$ 36,58 miliar pada hari berikutnya, dalam langkah yang berpotensi menjadi intervensi pembelian yen terbesar sepanjang sejarah. Kementerian Keuangan Jepang dijadwalkan akan merilis catatan resminya pada 28 Agustus.