Liputan6.com, Abu Dhabi - Salah satu hal yang paling berguna dari pakar cuaca Uni Emirat Arab, Muhammed Sajjad KP tentang melacak hujan di UEA adalah bahwa radar hujan tidak memberikan pembaruan langsung.
Dikutip dari Gulf News, Jumat (7/8/2026), Sajjad berkata bahwa jika kita membuka aplikasi radar dan berkendara menuju tempat tersebut, kita tidak akan mendapatkan hujan. “Karena radar diperbarui setiap lima hingga lima belas menit,” tuturnya.
Advertisement
Dahulu, ia pernah bertanya tentang kapan akan hujan di wilayah ia tinggal tapi jawaban yang didapat adalah tunggu hingga November atau Desember. Itu sekitar enam bulan dari saat ia bertanya. Sejak saat itu, ia mulai mencari hujan. Situs NCM memberikannya citra satelit, kemudian aplikasi radar memberikannya petunjuk arah.
Rasa frustrasi yang ia rasakan mengubahnya menjadi peramal cuaca. “Aku mulai berpikir bagaimana awan-awan ini terbentuk,” tuturnya. “Dari situ, aku belajar melakukan ramalan cuaca, bagaimana mereka bekerja. Semuanya kupelajari dari internet.”
Masalahnya adalah waktu. Hujan akan turun, terdeteksi radar, sistem diperbarui, kemudian aplikasi akan dimuat ulang. Saat itu mungkin seseorang sedang berada dua puluh menit perjalanan dari sana. Namun, ketika sampai, hujan sudah reda dan jalanan mulai mengering. “Sebenarnya, kita tidak bisa melihat hujan,” katanya. “Jadi, kita selalu mengejar awan, bukan hujan.” Perbedaan ini yang menjadi metodenya.
Terdapat dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah citra satelit dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts yang memperlihatkan perkembangan atmosfer selama tiga jam terakhir. Bukan di mana hujan terjadi, melainkan di mana atmosfer sedang mengatur dirinya sendiri menjadi suatu kondisi yang berpotensi menghasilkan hujan.
Ia mengerucutkan area-area di mana awan akan terbentuk dan terus memantau perkembangan awan tersebut.
Prakiraan cuaca oleh Muhammed Sajjad pada 4 Agustus pukul 12.35 waktu setempat adalah kemungkinan hujan sangat tinggi disertai angin turun yang kencang, debu bertebangan, guntur, kilat, hujan es kecil, dan kondisi badai di seluruh wilayah barat, selatan, tengah, dan timur Emirat (ditandai dengan warna merah). Hujan mungkin meluas ke semua kota yang ditandai dengan warna hijau.
Yang kedua adalah data milik NCM (Natural Center of Meteorology) dan rain.ae. Data-data ini ia gunakan saat mengemudi sebagai konfirmasi, bukan petunjuk arah. “Jadi kami selalu mengejar awan,” ulangnya. “Kami menunggu awan itu terbentuk.”
Ia juga berkata bahwa radar pemerintah hanya untuk menunjukkan seberapa banyak hujan yang turun, atau seberapa banyak hujan yang akan turun di daerah tersebut bagi orang-orang yang mengemudi, bukan seperti mereka. “Mungkin mereka pergi ke daerah pegunungan, sehingga mereka bisa melihat radar dan memahami bahwa adanya kemungkinan banjir bandang,” ujarnya.
Angin Menjadi Penentu
Hujan di UEA dimulai dari dua macam angin. Sajjad menjelaskan bahwa ada angin yang datang dari Teluk Arab, yaitu Abu Dhabi hingga Ras Al Khaimah. Lalu, ada Laut Oman, seperti di Fujairah dan Dibba. “Dari kedua laut ini, angin bertiup pada sore hari. Dalam bahasa Arab, angin ini disebut naseem al bahar. Angin laut bertiup, dan udaranya sangat lembab,” jelasnya.
Kedua angin tersebut membawa kelembapan. Keduanya pun bertemu di suatu tempat. “Mereka membawa kelembapan dan kemudian bertemu. Yang satu dari Teluk Arab, yang lainnya dari Laut Oman. Setiap kali mereka bertemu, awan terbentuk.”
Ini adalah sasarannya. Bukan sel hujan di layar, tapi garis di mana dua hembusan angin akan saling bertabrakan.
Namun, tabrakan tersebut saja tidak cukup. Di sinilah ramalannya menjadi teknis. Tekanan harus rendah, karena tidak ada awan yang terbentuk di bawah tekanan tinggi. Suhu harus mendukung di setiap lapisan atmosfer, bukan hanya di permukaan tanah, karena awan cumulonimbus terbentuk di lapisan atas dan membutuhkan kelembapan di sana agar dapat terus naik.
“Ketika meramalkan cuaca, kita harus memeriksa segalanya,” ujar Sajjad. “Dengan begitu, ramalan tersebut akan berhasil.”
Seberapa jauh ia bisa memprediksi tergantung pada sistem. Ia berkata, jika sistemnya sedang kuat, mereka bisa meramalkan seperti ini. Namun, jika sistem melemah, mereka bahkan tidak bisa meramal untuk keesokannya. Hal ini menjelaskan mengapa pengikutnya kadang-kadang bisa mendapat peringatan dari seminggu sebelumnya dan kadang-kadang hanya beberapa jam sebelumnya.
Sajjad juga bercerita bahwa ia tidak pernah lagi mengaktifkan lokasi real-time miliknya secara terbuka. Ia sempat melakukan hal tersebut dan ia dikejutkan karena ada 400 orang yang datang. Ini membuat situasi menjadi sulit dikendalikan dengan aman.
Ia mulai memposting sebagai “Kerala Rain Forecaster” sekitar tahun 2016, dalam bahasa Malayalam tapi kehilangan pengikut yang tidak berbahasa Malayalam karena kendala bahasa. Akun “UEA Weatherman” yang menggunakan bahasa Inggris diluncurkan pada Februari 2022. Sekarang, ia memiliki hampir 300,000 pengikut di berbagai platform. Ia juga dihadiahi Golden Visa atas karyanya.