Liputan6.com, Jakarta - Suasana ruang kelas di SDIT Pelita Khoirul Ummah, Bandar Lampung, mendadak berubah menjelang pukul 13.00 WIB. Jika sebelumnya dipenuhi gelak tawa murid usai makan siang, dalam hitungan menit kelas menjadi sunyi saat para siswa bersiap menjalani tidur siang atau qailulah.
Guru bersama murid bergotong royong menggeser meja dan kursi, lalu menggelar kasur lipat, ambal, serta bantal yang telah disediakan sekolah. Lampu kelas dipadamkan, sementara lantunan murattal Alquran mengalun pelan dari pengeras suara. Satu per satu siswa berseragam merah putih merebahkan diri hingga akhirnya tertidur.
Advertisement
Program tidur siang ini belakangan menjadi sorotan di media sosial. Namun, pihak sekolah menegaskan kegiatan tersebut bukanlah program baru, melainkan sudah diterapkan selama tujuh tahun bagi siswa kelas takhasus dalam sistem pembelajaran full day school.
Direktur Sekolah Pelita Khoirul Ummah, Ahmad Zaini Aziz, mengatakan program tersebut hanya berlaku bagi siswa kelas takhasus yang memiliki target pembelajaran Alquran lebih tinggi dibanding kelas reguler.
"Kalau kelas reguler target kelulusannya tiga juz, sedangkan kelas takhasus lima juz. Karena itu jam belajarnya lebih panjang sampai pukul 16.00 WIB," kata Ahmad kepada Liputan6.com, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, setelah istirahat, makan siang, dan salat zuhur, para siswa diwajibkan tidur siang sekitar 30 menit. Meski demikian, seluruh proses mulai dari persiapan hingga membangunkan anak biasanya memakan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam.
Usai beristirahat, siswa kembali mengikuti pembelajaran tahfiz Alquran, kitab, dan materi keagamaan lainnya hingga sore hari. Terinspirasi Saat Pandemi Covid-19.
Ahmad mengungkapkan ide menerapkan qailulah muncul setelah pandemi Covid-19. Saat pembelajaran jarak jauh berlangsung, sekolah melihat banyak anak menghabiskan waktu dengan aktivitas yang dinilai kurang produktif, terutama bermain gawai.
Dari situ, sekolah mencoba merancang aktivitas positif sejak pagi hingga sore agar waktu anak lebih bermanfaat.
"Tujuan utamanya supaya interaksi anak dengan HP berkurang. Selain itu, karena kami unggul di pembelajaran Alquran, tentu membutuhkan waktu belajar yang lebih banyak," jelasnya.
Ia menambahkan, program tersebut juga mendapat respons positif dari orang tua yang menginginkan anak tetap berada dalam lingkungan belajar hingga sore.
Namun, sekolah tetap meminta komitmen orang tua untuk mendampingi anak dalam menghafal Alquran dan membangun kebiasaan ibadah di rumah.
Setiap hari, ruang kelas disulap menjadi tempat istirahat. Meja dan kursi dipindahkan ke sisi ruangan, sementara sekolah menyediakan kasur dan ambal.
Orang tua hanya diminta membawa bantal pribadi yang disimpan di sekolah dan rutin mengganti sarung bantal setiap bulan demi menjaga kebersihan.
"Selama anak-anak tidur, guru tetap berada di dalam kelas untuk mengawasi sehingga seluruh proses berlangsung aman dan tertib," ungkapnya.
Program tidur siang diterapkan di jenjang TK dan SD kelas takhasus, sedangkan untuk tingkat SMP hanya ada sesi hening selama sekitar 30 menit tanpa kewajiban tidur.
Diklaim Bikin Anak Lebih Fokus dan Jarang Sakit
Selama tujuh tahun berjalan, sekolah mengklaim program qailulah memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik maupun kemampuan belajar siswa.
Ahmad mengatakan siswa kelas takhasus cenderung lebih fokus saat belajar, lebih jarang sakit, serta memiliki tingkat kehadiran yang lebih baik. Bahkan, peserta dengan hasil terbaik dalam ujian tahfiz di kelas 3 dan kelas 6 didominasi oleh siswa takhasus.
"Kalau pelajaran umum memang porsinya sedikit lebih sedikit karena lebih banyak Alquran. Tetapi hasil akademiknya tetap mampu mengimbangi bahkan mengungguli siswa lain," katanya.
Saat ini terdapat sekitar 200 siswa kelas takhasus mulai dari jenjang TK hingga SD. Setiap kelas dibatasi maksimal 28 murid agar proses pembelajaran dan pendampingan dapat berjalan lebih optimal.