Panas Ekstrem, Puluhan Kapal Perang Dunia II Muncul di Sungai Danube

Dampak panas ekstrem ini mengganggu jalur pelayaran kapal-kapal kargo antarnegara di kawasan Balkan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 Agustus 2026, 10:00 WIB
Seorang pria berjalan di hamparan pasir dekat bangkai kapal perang Jerman dari era Perang Dunia II yang muncul akibat kekeringan, di depan Bendungan Djerdap II di Sungai Danube, dekat Prahovo, Serbia, Selasa (4/8/2026). (Dok. AP Photo/Darko Vojinovic)

Liputan6.com, Beograd - Permukaan air Sungai Danube, sungai terpanjang kedua di Eropa, turun sangat rendah akibat kekeringan. Kondisi itu membuat bangkai puluhan kapal perang Jerman dari era Perang Dunia II kembali muncul ke permukaan.

Kemunculan kapal-kapal tua tersebut menjadi pemandangan tak biasa di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan itu pada musim panas. Namun, dampak surutnya Sungai Danube jauh lebih serius. Permukaan air yang mencapai titik terendah membuat sejumlah pembangkit listrik terancam berhenti beroperasi, sementara pemerintah di berbagai negara Eropa Tengah dan Timur mulai mengambil langkah untuk menghemat listrik.

Di tengah sungai yang menjadi perbatasan Serbia dan Romania, dekat pelabuhan Prahovo di Serbia, kini terlihat lambung kapal berkarat serta tiang kapal yang telah patah. Dahulu, bendera Nazi berkibar di tiang tersebut.

Kapal-kapal itu merupakan bagian dari armada Laut Hitam milik Nazi Jerman. Sebagian di antaranya masih membawa persenjataan. Pasukan Jerman sengaja menenggelamkan kapal-kapal tersebut saat mundur dari Romania, ketika pasukan Soviet terus bergerak masuk lebih jauh ke Eropa menjelang berakhirnya perang.

Menurut para sejarawan seperti dilaporkan Associated Press, hingga 200 kapal perang Jerman sengaja ditenggelamkan pada September 1944 di dekat Prahovo, di kawasan ngarai Sungai Danube, ketika pasukan Jerman berada di bawah serangan Uni Soviet.

Penenggelaman kapal-kapal tersebut dimaksudkan untuk menghambat laju pasukan Soviet di kawasan Balkan. Namun, Nazi Jerman akhirnya menyerah beberapa bulan kemudian, pada Mei 1945.

Munculnya kembali bangkai kapal perang itu sekaligus mengingatkan pada persoalan yang sudah lama berusaha ditangani pemerintah Serbia dengan dukungan dana dari Uni Eropa.

Sebagian bangkai kapal pernah diangkat dari Sungai Danube oleh pemerintah Yugoslavia pada era komunis. Namun, sebagian besar masih dibiarkan berada di dasar sungai karena membawa bahan peledak.

Kini, pemerintah berupaya menjaga lalu lintas kapal di Danube tetap berjalan di tengah permukaan air yang terus menurun dan membuat pelayaran semakin berbahaya. Sungai Danube sendiri melintasi 10 negara.

Para ahli mengaitkan cuaca panas yang tidak biasa tersebut dengan pemanasan global dan sejumlah faktor lainnya.

Warga Prahovo, Krsta Brandic, mengatakan surutnya permukaan air sungai nyaris menghentikan lalu lintas kapal.

"Seperti yang bisa Anda lihat, kapal-kapal besar sudah tidak bisa melintas lagi," kata Brandic.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya