Jejak Digital Bongkar Sisi Lain Tersangka Mutilasi

Polisi dalami kaitan komunitas yang diikuti pelaku dengan peristiwa pembunuhan tersebut.

oleh Lia HarahapDiterbitkan 07 Agustus 2026, 06:06 WIB
Tersangka kasus mutilasi di Depok, Saepullah alias SA (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Satu per satu fakta kematian tragis Kunaefi (51), pria yang menjadi korban mutilasi di Depok, mulai terungkap. Setelah pelaku Saepullah alias Saepul (26) ditangkap, polisi mendapatkan sejumlah keterangan baru terkait kasus tersebut.

Awalnya, pelaku mengaku kesal terhadap perilaku korban yang membuatnya merasa tidak nyaman. Korban disebut sempat memegangi tubuhnya sehingga pelaku merasa risih dan emosi.

Namun, pengakuan tersebut tidak langsung diterima begitu saja oleh kepolisian. Polisi terus melakukan pendalaman untuk mengungkap motif sebenarnya di balik pembunuhan yang berujung mutilasi tersebut.

Selain menggali keterangan dari sejumlah saksi, polisi juga memeriksa ponsel pelaku untuk mencari kemungkinan adanya jejak digital yang berkaitan dengan kasus tersebut. Dari hasil pemeriksaan itu, polisi menemukan fakta baru.

"Update hasil pemeriksaan dengan saksi-saksi dan pengecekan HP milik tersangka bahwa tersangka tergabung dalam grup (komunitas gay)," kata Kanit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Dimitri Mahendra Kartika, kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).

Temuan tersebut menjadi bagian dari pendalaman kepolisian. Polisi masih menelusuri apakah keberadaan pelaku dalam grup tersebut memiliki keterkaitan dengan kasus pembunuhan yang terjadi

 

Incar Harta Korban

Pemeriksaan yang dilakukan dalam dua hari terakhir juga mengungkap dugaan bahwa pembunuhan tersebut bukan terjadi secara spontan, melainkan telah direncanakan.

Polisi menduga pelaku memiliki niat untuk menguasai harta benda korban, salah satunya sepeda motor.

Pelaku diduga membawa kabur motor korban dan menjualnya kepada seorang penadah yang kini masih dalam pengejaran.

"Untuk terjadi perencanaannya bahwa karena pelaku ingin melakukan pencurian motor dan barang-barang milik korban, untuk menguasai barang milik korban, dan adanya niat untuk membunuh korban," ujarnya.

Meski sejumlah fakta mulai terungkap, polisi masih terus melengkapi proses penyidikan. Salah satu barang bukti utama yang masih dicari adalah pisau yang diduga digunakan pelaku untuk membunuh korban.

Pisau tersebut disebut telah dibuang oleh pelaku setelah kejadian.

"Dalam pencarian," kata Dimitri.

 

Berhenti Kerja di Hari Kejadian

Petugas kepolisian memasang garis polisi di rumah kontrakan di Cipayung, Depok, yang ditempati pelaku mutilasi. Lokasi tersebut kini menjadi fokus penyelidikan. (Foto: Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto).

Seperti diketahui, Saepul diduga melakukan mutilasi terhadap korban di sebuah rumah kontrakan. Pada hari kejadian, Saepul yang bekerja di lapak UMKM pisang cokelat sempat meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan mengikuti wawancara kerja.

Namun, keesokan harinya Saepul tidak kembali bekerja dan memilih mengundurkan diri.

"Tanggal 23 dia resign," ujar pemilik usaha UMKM tersebut.

Saepul diketahui merupakan karyawan baru. Ia baru bekerja sekitar 1,5 bulan. Selama bekerja, tidak terlihat perilaku mencurigakan dari kesehariannya.

"Selama bekerja tidak menunjukkan gesture over active. Normal, fokus kerja. Dia bagian goreng, bukan produksi," ujarnya.

Kini, Saepul telah ditetapkan sebagai tersangka dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia dijerat dengan dugaan pembunuhan berencana dan atau pembunuhan sebagaimana Pasal 459 dan atau 458 KUHP.

 

Kronologi Pembunuhan

Pada hari kejadian, Saepul sempat terlibat keributan dengan korban di rumah kontrakannya di Jalan Belimbing, Cipayung.

Dalam keterangannya kepada polisi, Saepul mengklaim korban melakukan tindakan yang tidak diinginkannya hingga berujung perkelahian.

Pengakuan itu disampaikan Saepul saat menjalani pemeriksaan setelah ditangkap Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Saepul mengatakan awalnya mengundang korban ke kontrakannya untuk berbincang karena tinggal seorang diri.

"Karena tadinya dia main ke rumah, terus saya cuma butuh teman buat ngobrol aja, karena memang teman kontrakan saya sudah enggak ada," ujar Saepul.

Situasi kemudian berubah ketika korban disebut mulai memegang tubuhnya. Saepul mengaku berusaha melepaskan diri hingga terjadi cekcok.

"Dia pegang-pegang saya. Terus saya berontak. Saya berontak terus dia kayak nampar saya. Ya sudah saya dorong. Saya mau teriak, terus saya didorong dari tangga sama dia. Kan rumahnya dua lantai," katanya.

Saepul mengaku kemudian terjatuh. Ia lalu berlari ke dapur kontrakan dan mengambil pisau yang digunakan untuk menyerang korban.

Saat itu, korban disebut masih sempat melawan sehingga emosi Saepul semakin meningkat hingga terjadi pembunuhan.

"Dia berontak lagi, nendang saya. Saya makin emosi, terus saya pegang saja kepalanya," katanya.

Setelah mengetahui korban meninggal dunia, Saepul mengaku berupaya menghilangkan jejak dengan cara memutilasi tubuh korban. Ia berharap jasad korban dapat dibawa keluar rumah dengan lebih mudah dan bagian tubuh korban dapat dibuang ke lokasi yang dianggap aman.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya