Limbah Fashion Berpotensi Jadi Produk Eksklusif, Kok Bisa?

Limbah fashion menjadi inspirasi lahirnya inovasi fesyen berkelanjutan melalui program RISE yang diperkenalkan OCBC dalam Upcydea Festival 2026.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 10 Agustus 2026, 17:00 WIB
Fashion waste diubah menjadi karya bernilai tambah melalui pemanfaatan kain bekas yang ditampilkan dalam OCBC Upcydea Festival 2026, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Liputan6.com, Jakarta - Seragam batik yang sudah tak terpakai mungkin terlihat seperti akhir dari sebuah pakaian. Namun di tangan kreatif, alihalih jadi limbah fashion, material tersebut justru bisa menjadi awal dari karya mode baru yang memiliki nilai ekonomi.

Gagasan inilah yang diangkat melalui program Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle (RISE), yang mengajak pelaku UKM fesyen dan kriya mengolah kembali seragam batik bekas menjadi produk baru. Upaya ini menjadi bagian dari langkah untuk menjawab persoalan limbah fashion yang terus menjadi tantangan di industri mode.

Sebanyak 50 UKM, terdiri dari 25 usaha kuliner, serta 25 usaha fesyen dan kriya, mengikuti rangkaian workshop, mentoring, dan proses kurasi. Tiga peserta terpilih kemudian mendapat kesempatan merealisasikan desain mereka menjadi produk siap jual.

Desainer Billy Tjong, yang menjadi mentor dalam program tersebut, melihat isu keberlanjutan bukan sebagai batasan dalam berkarya. Keterbatasan material justru dapat membuka peluang untuk menemukan ide dan pendekatan desain yang lebih segar.

"Bagi saya, sustainability adalah innovation. Ketika kita mampu melihat keterbatasan sebagai peluang, justru di situlah lahir ide, material, dan produk baru yang punya nilai ekonomi," katanya saat jumpa pers OCBC Upcydea Festival 2026 di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurut sang desainer, perubahan perilaku konsumen turut mendorong berkembangnya pendekatan tersebut. Produk fashion kini tidak hanya dilihat dari bentuk dan tampilannya, namun juga cerita di balik proses kreatifnya. Material bekas yang sebelumnya berakhir sebagai limbah pun dapat memiliki kehidupan baru ketika diolah dengan desain yang tepat.

Kreativitas Lahir dari Keterbatasan

Fashion waste diubah menjadi karya bernilai tambah melalui pemanfaatan kain bekas yang ditampilkan dalam OCBC Upcydea Festival 2026, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Menciptakan produk dari material daur ulang membutuhkan cara pandang yang berbeda. Desainer tidak selalu memulai dari bentuk yang ingin dibuat, tapi terlebih dahulu memahami karakter bahan yang tersedia. Potongan kain bekas dengan ukuran, motif, dan tekstur yang beragam kemudian menjadi bagian dari proses kreatif.

Pendekatan tersebut membuat setiap produk memiliki karakter tersendiri. Ketersediaan material daur ulang juga membuat sejumlah desain sulit diproduksi secara massal. Kondisi ini justru menghadirkan kesan eksklusif, sekaligus memperpanjang usia material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Billy menilai, tantangan terbesar berada pada tuntutan industri fashion yang terus mencari sesuatu yang baru."Di dunia fashion, kita selalu pengin sesuatu yang baru, pokoknya apa yang lagi baru itu bisa menjadi tren," sebutnya.

"Tantangannya buat desainer bagaimana caranya hal yang sudah lama atau yang sudah ada bisa kita tampilkan atau presentasikan dalam bentuk yang baru, dengan ide baru atau cara pengelolaan yang baru," ia menyambung.

Produk Sehari-Hari Jadi Media Menyelamatkan Lingkungan

Fashion waste diubah menjadi karya bernilai tambah melalui pemanfaatan kain bekas yang ditampilkan dalam OCBC Upcydea Festival 2026, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Seragam batik yang diolah kembali tidak harus berakhir sebagai karya yang sulit digunakan. Material tersebut justru dapat hadir dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan keseharian, mulai dari tas, dompet, card holder, travel organizer, hingga berbagai aksesori.

Billy menilai desain yang baik perlu mempertemukan fungsi dengan nilai visual. Produk yang benar-benar digunakan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk memperpanjang usia material sehingga tidak cepat kembali menjadi limbah. Prinsip keberlanjutan pun terasa melalui fungsi yang nyata, bukan sekadar menjadi pesan kampanye.

Ia melihat, sisa material masih menyimpan banyak kemungkinan untuk dikembangkan menjadi produk bernilai. "Kalau ada kesempatan saya akan kasih tahu, kita bisa memakai lagi baju yang sudah ada, atau lewat sisa-sisa kain kita masih bisa being creative. Material itu masih bisa dipadankan dengan hal lain sehingga menciptakan karya baru yang juga memberikan nilai ekonomis," katanya.

Limbah Fashion Bisa Berubah Jadi Value

Desainer Billy Tjong saat menghadiri pers Upcydea Festival, OCBC Tower, Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Keberlanjutan dan kreativitas dalam fashion tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Material yang sebelumnya dianggap tak bernilai dapat menemukan fungsi baru ketika diolah melalui desain dan proses produksi yang tepat. Cara pandang ini membuat limbah fashion tidak hanya dilihat sebagai persoalan, tapi juga sebagai ruang untuk menciptakan karya.

Melalui program RISE, dampak tersebut diperluas dengan mengalokasikan hasil penjualan produk untuk mendukung pembelian bibit mangrove. Langkah ini menunjukkan bahwa sebuah produk dapat memberikan manfaat yang lebih panjang, bahkan setelah meninggalkan meja kerja desainer.

Billy juga melihat desainer memiliki peran dalam mengurangi limbah yang dihasilkan industri. "Sebagai desainer, kita juga berusaha menjadi pembenah dari limbah atau sampah yang sudah kita hasilkan. Saya memang belum 100 persen menjalankan sustainability, tapi saya mulai mengedukasi orang-orang di sekitar bahwa material yang sudah ada masih bisa dimanfaatkan kembali," tutupnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya