Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan belum menerima informasi resmi mengenai rencana penutupan Konsulat Amerika Serikat (AS) di Medan, Sumatra Utara.
"Pemerintah Indonesia mencermati pemberitaan mengenai rencana penutupan Konsulat Amerika Serikat di Medan. Hingga saat ini, Kedutaan Besar AS di Jakarta belum menyampaikan informasi resmi kepada Pemerintah Indonesia terkait rencana tersebut," ujar juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang kepada Liputan6.com, Kamis (6/8/2026).
Advertisement
"Indonesia menghormati keputusan internal Pemerintah AS mengenai pengaturan perwakilan diplomatik dan konsulernya, serta berharap pelayanan dan hubungan bilateral kedua negara tetap berjalan dengan baik."
Laporan mengenai rencana penutupan Konsulat AS di Medan pertama kali diberitakan Reuters pada Selasa (4/8). Berdasarkan laporan tersebut, Kemlu AS disebut telah memberi tahu Kongres bahwa pihaknya berencana menutup lima perwakilan di luar negeri.
Selain Konsulat AS di Medan, perwakilan yang disebut akan ditutup berada di St. George's, Grenada; Nagoya, Jepang; Douala, Kamerun; dan Winnipeg, Kanada.
Perwakilan AS di St. George's berstatus kedutaan besar. Sementara itu, perwakilan di Nagoya dan Winnipeg merupakan konsulat, sedangkan kantor di Douala berstatus kantor cabang kedutaan besar.Ketika dikonfirmasi Liputan6.com pada Selasa, pihak Kedutaan Besar AS di Jakarta merespons kabar ini dengan merujuk ke pernyataan juru bicara Kemlu AS, yang tidak membenarkan namun juga tidak membantah.
"Kementerian luar negeri berkomitmen menjalankan prosedur pemberitahuan kepada Kongres, termasuk dalam hal penutupan kantor perwakilan diplomatik. Untuk saat ini, belum ada informasi lebih lanjut yang dapat kami sampaikan. Kami berfokus memastikan jaringan diplomatik AS berjalan secara efisien dan efektif, serta memberikan hasil nyata bagi rakyat AS," sebut juru bicara Kemlu AS.Menurut laporan Reuters, sejumlah pejabat pemerintahan AS secara pribadi menilai sebagian perwakilan berukuran kecil tidak diperlukan dan tidak efisien dari sisi biaya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sendiri menilai langkah penghematan diperlukan untuk menata ukuran Kemlu AS, yang oleh banyak kalangan konservatif dianggap terlalu besar dan terlalu birokratis.
Namun, kalangan Demokrat serta sejumlah mantan pejabat kebijakan luar negeri dan keamanan nasional memperingatkan bahwa pengurangan jaringan diplomatik AS, yang berlangsung bersamaan dengan pembongkaran struktur Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), berisiko melemahkan kepemimpinan AS.
Analisis Ahli
Pengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Irfan Ardhani menilai rencana penutupan Konjen AS di Medan berlatar efisiensi.
"Rencana penutupan Konjen AS di Medan nampaknya bagian dari rencana besar administrasi Trump untuk melakukan efisiensi. Penutupan konjen tersebut tidak dilakukan sendirian, melainkan bersamaan dengan perwakilan diplomatik AS di negara lain termasuk di Jepang. Namun demikian, di antara beberapa konsulat AS di Indonesia, mengapa mereka menutup Medan? Bisa saja karena kemajuan teknologi membuat engagement AS di Pulau Sumatera, area kerja Konsulat AS di Medan, bisa di-cover dengan mudah melalui Kedutaan mereka di Jakarta. Selama ini, warga Sumatra yang ingin mengurus visa pun harus pergi ke Jakarta atau Surabaya karena Konsulat Medan tidak membuka pelayanan visa," tutur Irfan saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (6/8).
"Di sisi lain, bukan tidak mungkin kepentingan mereka di Medan atau Pulau Sumatra secara umum jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Di awal kemerdekaan misalnya, kepentingan ekonomi dan politik AS cukup tinggi di area tersebut. Taruhlah fokus Konsulat AS di Medan saat ini adalah preservasi lingkungan hidup di Sumatra, sepertinya itu cukup terdampak oleh prioritas politik luar negeri Trump. Apalagi mereka telah menutup USAID."