Aset Rusia Hasilkan Rp 28,9 Triliun, Uni Eropa Kirim Dana ke Ukraina

Uni Eropa akan memakai dana dari keuntungan tidak terduga dari aset beku Rusia untuk Ukraina.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Agustus 2026, 17:40 WIB
Mengadopsi euro dinilai sebagai fase akhir integrasi Bulgaria ke arus utama Eropa, setelah bergabung dengan NATO, Uni Eropa, kawasan Schengen, dan kini zona mata uang tunggal. Tampak dalam foto, seorang wanita berjalan melewati poster yang menampilkan Bulgaria sebagai anggota Zona Euro ke-21, di Sofia, Kamis 1 Januari 2026, saat negara tersebut bergabung dengan serikat mata uang euro. (AP Photo/Valentina Petrova)

Liputan6.com, Jakarta - Uni Eropa (UE) telah menerima keuntungan tak terduga sebesar 1,4 miliar euro atau US$ 1,6 miliar (Rp 28,95 triliun, asumsi kurs euro terhadap rupiah di kisaran 20,690). Keuntungan itu didapatkan dari aset bank sentral Rusia yang tidak bergerak. Dana dari aset itu ditetapkan untuk mendukung Ukraina.

Demikian disampaikan Komisi Eropa pada Rabu, 5 Agustus 2026 yang dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (6/8/2026). Langkah ini mengikuti transfer tahap sebelumnya sebesar 1,4 miliar euro pada Maret. Dengan demikian, total keuntungan tak terduga yang dihasilkan dari aset tidak bergerak menjadi 8 miliar euro atau US$ 9,3 miliar (Rp 165,48 triliun) sejak sanksi diberlakukan.

"Rusia harus membayar atas kehancuran yang ditimbulkannya,” ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Ia menambahkan, pihaknya memakai dana yang diperoleh dari aset-aset Rusia yang beku untuk Ukraina.

"Kami menyediakan tambahan 1,4 miliar euro dari aset-aset tersebut untuk Ukraina,” kata dia.

Menurut Komisi UE, 95% dari dana yang diperoleh akan dialokasikan melalui the Ukraine Loan Cooperation Mechanism (ULCM), yang memberikan dukungan yang tidak dapat dibayar kembali untuk membantu Ukraina membayar kembali pinjaman bantuan keuangan makro Uni Eropa dan pembiayaan yang diberikan di bawah inisiatif pinjaman percepatan pendapatan luar biasa atau the Group of Seven (G7) Extraordinary Revenue Accelaration (ERA) Loans Initiative.

5% sisanya akan disalurkan melalui the European Peace Facility (EPF) atau Fasilitas Perdamaian Eropa untuk mendukung kebutuhan militer dan pertahanan Ukraina. Dana itu berasal dari bunga yang diperoleh dari saldo kas yang terkait dengan aset Bank Sentral Rusia yang tidak dapat bergerak di bawah sanksi Uni Eropa setelah dimulainya perang di Ukraina.

Pakistan Hadapi Ancaman Baru di Pasar Uni Eropa

Kedutaan besar Pakistan di Indonesia merayakan Hari Nasional Pengibaran Bendera Pakistan, Sabtu (24/03/2024). (Liputan6.com/Fitria Putri Jalinda).

Sebelumnya, hubungan dagang Pakistan dan Uni Eropa (UE) masih menjadi salah satu pilar penting perekonomian Pakistan. Namun, negara tersebut menghadapi tantangan baru seiring meningkatnya persaingan global, terutama setelah India mempercepat negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Ekonom dari European Centre for International Political Economy (ECIPE), Fredrik Erixon, mengatakan Uni Eropa merupakan tujuan ekspor terbesar Pakistan dengan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar 12 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor Pakistan ke Uni Eropa mencapai sekitar 8 miliar dolar AS atau hampir 30 persen dari total ekspor negara itu.

Meski demikian, dari sudut pandang Uni Eropa, Pakistan bukanlah mitra dagang utama. Menurut data Komisi Eropa, impor dari Pakistan hanya menyumbang sekitar 0,3 persen dari total impor Uni Eropa, dikutip dari DW.com.

Hubungan perdagangan kedua pihak selama ini ditopang oleh skema Generalised Scheme of Preferences Plus (GSP+), yang memberikan tarif preferensial bagi ribuan produk asal Pakistan. Sejak bergabung dalam program tersebut pada 2014, ekspor Pakistan ke Uni Eropa telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

 

Bergantung pada Pemenuhan Sejumlah Persyaratan

Namun, akses tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan, termasuk penerapan konvensi internasional terkait hak asasi manusia, hak pekerja, perlindungan lingkungan, dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Di sisi lain, Pakistan kini menghadapi tantangan baru setelah Uni Eropa memperluas kerja sama dagangnya dengan negara lain, termasuk India. Menurut Erixon, jika India memperoleh akses perdagangan yang setara ke pasar Eropa melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA), keunggulan kompetitif Pakistan berpotensi berkurang.

"India merupakan salah satu eksportir tekstil terbesar yang menjual produk serupa ke pasar Uni Eropa. Itu menjadi tantangan besar bagi Pakistan," ujarnya.

 

Industri yang Jadi Tulang Punggung

Selama ini, industri tekstil menjadi tulang punggung ekspor Pakistan. Sekitar 80 persen ekspor negara tersebut berasal dari produk tekstil, disusul produk kulit dan hasil pertanian. Namun, sebagian besar produk yang diekspor masih bernilai tambah rendah, seperti seprai, handuk, dan kaus.

Erixon menilai Pakistan perlu melakukan transformasi industri dengan meningkatkan kapasitas manufaktur agar mampu menghasilkan produk bernilai lebih tinggi.

"Jika ingin mempercepat perdagangan dengan Eropa, Pakistan perlu melakukan perubahan struktural pada profil perdagangannya. Negara itu harus memperkuat sektor manufaktur dan manufaktur bernilai tambah, karena di situlah peluang pertumbuhan perdagangan yang besar berada," katanya.

Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik juga mulai memengaruhi perdagangan Pakistan. Konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk perang yang melibatkan Iran, menyebabkan lonjakan harga energi dan sempat memicu gangguan pasokan listrik di Pakistan.

Buka Peluang Baru

Di sisi lain, perubahan rute pelayaran internasional justru membuka peluang baru bagi pelabuhan-pelabuhan Pakistan. Erixon mengatakan aktivitas di Pelabuhan Gwadar mulai meningkat setelah sebelumnya relatif sepi, sementara Pelabuhan Karachi mencatat lonjakan aktivitas transshipment.

Dalam 20 hari pertama Maret, aktivitas transshipment di Pelabuhan Karachi dilaporkan telah menyamai total aktivitas sepanjang 2025.

Menurut Erixon, di tengah perubahan jalur perdagangan global dan meningkatnya persaingan internasional, masa depan hubungan dagang Uni Eropa dan Pakistan tidak hanya ditentukan oleh tarif, tetapi juga kemampuan Pakistan melakukan transformasi industri dan beradaptasi dengan perubahan geopolitik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya