Liputan6.com, Jakarta - Video perjuangan Winarso (27), asal Lampung Utara membersihkan luka infeksi di kaki kanannya sambil menahan rasa sakit setiap hari, viral di media sosial. Kisah itu mengundang simpati ribuan warganet setelah diunggah melalui akun Instagram pribadinya, @wiinarso_04.
Warga Desa Tulung Sidang, Kecamatan Bumi Agung, Kabupaten Lampung Utara itu mengalami infeksi pada tulang kering setelah menjadi korban kecelakaan lalu lintas sekira enam bulan lalu. Kondisinya belum pulih dan masih membutuhkan perawatan intensif.
Advertisement
Dalam salah satu unggahannya, Winarso bahkan meminta bantuan kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal agar mendapatkan pendampingan hukum sekaligus bantuan biaya pengobatan.
Kepada wartawan, Kamis (6/8/2026), Winarso menceritakan kecelakaan itu terjadi pada 8 Februari 2026. Saat itu dia baru selesai mengantarkan ayam potong ke dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Kota Sepang, Bandar Lampung.
Dalam perjalanan pulang menuju tempat pemotongan ayam di Desa Margodadi, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, tepatnya di jalur dua arah exit Tol Kota Baru, hujan turun cukup deras sehingga jarak pandang terbatas. Saat melintas, Winarso mengaku tidak menyadari sebuah mobil datang dari arah berlawanan.
"Saya kira mobil itu berada di jalurnya. Karena hujan saya fokus melihat jalan, ternyata mobil itu melawan arah dan akhirnya terjadi tabrakan adu banteng," cerita Winarso.
Benturan keras membuatnya mengalami luka berat. Tulang paha, tulang kering, lengan atas hingga pergelangan tangan kanan patah. Dia juga mengalami luka di kepala dan mengeluarkan darah dari hidung sebelum akhirnya dievakuasi warga ke Rumah Sakit Airan.
Winarso mengatakan, keluarganya sejak awal hanya meminta pengemudi mobil berinisial SH bertanggung jawab atas biaya pengobatan tanpa menggunakan BPJS.
Malam setelah kejadian, kedua belah pihak dipertemukan di Polsek Karanganyar, Lampung Selatan. Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat berdamai.
SH disebut bersedia menanggung biaya pengobatan hingga korban keluar dari rumah sakit serta memberikan santunan Rp 3 juta. Kesepakatan itu dituangkan dalam surat perdamaian.
Namun, persoalan muncul ketika kondisi Winarso harus dirujuk ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo karena membutuhkan penanganan yang lebih lengkap.
Menurut Winarso, pembayaran biaya administrasi sempat tertunda sehingga proses rujukan ikut terhambat. Kendala kembali terjadi saat rumah sakit meminta uang muka untuk tindakan operasi.
Dia mengaku SH sempat datang menjenguk, tetapi menyarankan agar pemasangan pen tidak dilakukan karena dinilai akan menambah biaya pengobatan.
"Saya tetap memilih mengikuti prosedur dokter karena kondisi saya memang harus dioperasi," ujarnya.
Hingga jadwal operasi tiba, uang muka disebut belum juga dibayarkan. Keluarganya mengaku telah berulang kali menghubungi SH melalui telepon maupun pesan singkat, namun tidak mendapatkan respons.
"Kami telepon dan kirim pesan, tapi tidak ada balasan. Nomor keluarga saya malah diblokir," katanya.
Akhirnya dokter menyarankan agar pembiayaan dialihkan menggunakan BPJS setelah seluruh persyaratan administrasi dan laporan kecelakaan dari kepolisian dilengkapi. Operasi pun dapat dilakukan.
Meski telah menjalani operasi, perjuangan Winarso belum berakhir. Hingga kini ia masih harus menjalani kontrol rutin akibat infeksi pada tulang kering yang belum sembuh.
Biaya pengobatan yang terus berjalan membuat kondisi ekonomi keluarganya semakin berat. Bahkan, karena keterbatasan biaya, ia sempat menghentikan kontrol ke rumah sakit dan memilih merawat lukanya secara mandiri di rumah.
Winarso mengaku telah berusaha mencari bantuan hukum ke sejumlah lembaga, organisasi hingga advokat. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil karena berbagai alasan, mulai dari tidak mendapat respons hingga terkendala biaya pendampingan.
Merasa tidak memiliki jalan lain, ia akhirnya membagikan kisah perjuangannya melalui media sosial. Video tersebut viral dan menuai simpati luas dari masyarakat.
Kini, Winarso mengaku tidak lagi berfokus mengejar ganti rugi. Harapan terbesarnya hanyalah bisa kembali sehat dan memperoleh haknya sebagai korban kecelakaan.
"Saya hanya ingin sembuh dan bisa mendapatkan hak saya secara wajar. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah agar saya bisa melanjutkan pengobatan," tutupnya.