Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Saiq Iqbal Soroti Sektor Manufaktur

Presiden KSPI Said Iqbal menanggapi mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,2% pada kuartal II 2026.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 06 Agustus 2026, 15:30 WIB
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal di Kantor Kementerian Keuangan. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada kuartal II 2026 belum berkualitas karena belum mampu mendorong penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.

Iqbal menjelaskan, meski industri pengolahan dan perdagangan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi, penambahan tenaga kerja di kedua sektor tersebut relatif minim. Industri pengolahan hanya menambah sekitar 9.000 pekerja, sedangkan sektor perdagangan justru kehilangan sekitar 128.000 pekerja.

Menurut dia, penyerapan tenaga kerja terbesar justru terjadi di sektor jasa, seperti akomodasi, makan dan minum, serta transportasi. Kondisi tersebut menunjukkan investasi yang masuk lebih banyak mengalir ke sektor yang tidak padat karya.

"Pertumbuhan ekonomi yang 5,29% di kuartal kedua penopangnya tidak mayoritas di sektor manufaktur. Sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur pasti rendah. Ekonomi masih bertumpu di industri perdagangan dan jasa,” kata Iqbal dalam konferensi pers daring, Kamis (6/8/2026).

Ia mengungkapkan, dalam rapat kabinet yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menyampaikan investasi yang masuk telah menyerap sekitar satu juta tenaga kerja. Namun, mayoritas lapangan kerja tersebut berasal dari sektor perdagangan, jasa, dan telekomunikasi, bukan manufaktur.

Iqbal menilai kondisi itu diperparah dengan berhentinya ekspansi sejumlah perusahaan tekstil dan garmen, bahkan sebagian memilih menutup kegiatan usahanya.

Untuk memperkuat daya serap tenaga kerja, KSPI mendorong pemerintah mempercepat program reindustrialisasi, terutama di industri tekstil dan garmen yang dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Kita harapkan dengan reindustrialisasi, ekonomi yang tumbuh menjadi lebih berkualitas, yaitu mampu menyerap tenaga kerja di sektor manufaktur,” ujarnya.

Selain reindustrialisasi, Iqbal juga meminta pemerintah melakukan deregulasi guna memperbaiki iklim investasi. Menurutnya, berbagai regulasi yang menghambat investasi perlu disederhanakan, termasuk persoalan pasokan bahan baku industri tekstil yang dinilai masih mahal dan sulit diperoleh.

Masukan tersebut, kata Iqbal, akan dibawa ke Satgas PHK untuk dibahas bersama kementerian terkait sebagai upaya memperkuat sektor manufaktur dan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Utama

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga tercatat sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menyampaikan konsumsi rumah tangga berkontribusi besar ke produk domestik bruto (PDB) pada komponen pengeluaran.

"Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar pada PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 53,32% dan tumbuh 5,06% (year on year)," kata Edy dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).

Dia menjelaskan, peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh momen libur yang terjadi sepanjang kuartal II-2026. Subkomponen konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi adalah restoran dan hotel tumbuh 6,47%. Selain itu, sektor transportasi dan komunikasi juga tumbuh sebesar 5,71% .

"Kalau kita dalami perkembangan pertumbuhan komponen pendorong utama ekonomi dari sisi pengeluaran kita bisa lihat bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh menguat didorong oleh momen hari libur dan hari besar keagamaan," jelas dia.

Selain itu, komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) juga berkontribusi 29,36 persen dan tumbuh 6,87 persen secara tahunan. PMTB juga tumbuh positif tercermin pada beberapa indikator investasi.

Seperti subkomponen PMTB yang tumbuh positif adalah kendaraan tumbuh sebesar 26,03 persen, peralatan lainnya tumbuh sebesar 16,18 persen, serta peningkatan realisasi investasi di BKPM, data BKPM sebesar 7,14 persen.

Konsumsi Pemerintah

Komponen pengeluaran yang tumbuh tinggi yaitu konsumsi pemerintah yang didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa pada kuartal II 2026.

 

Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% seiring dengan peningkatan realisasi belanja. Pertama belanja pegawai tumbuh menguat sejalan dengan pembayaran gaji 13 untuk ASN, TNI, Polri serta akselerasi pembayaran tunjangan tenaga penidik non-PNS.

"Selain itu, konsumsi pemerintah juga tumbuh juga didorong oleh peningkatan realisasi belanja barang dan jasa, terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa salah satunya berupa program makan bergizi gratis (MBG)," jelas dia.

Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya pada triwulan II 2026 ini, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yakni sebesar 2,67%.

Selain itu pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,06% dan konsumsi pemerintah memberikan sumber pertumbuhan sebesar 1,07%. Sementara itu net expor memberikan sumber pertumbuhan sebesar minus 0,78%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya