Top 3: Pengangguran di Indonesia Menurun Jadi 7,22 Juta Orang

Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Kamis, (6/8/2026). Salah satunya mengenai pengangguran.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Agustus 2026, 06:30 WIB
Pencari kerja (Pencaker) memadati Job Fair Depok 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok di Depok Town Square (Detos), Rabu, 6 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,22 juta orang per Mei 2026. Angka itu mengalami penurunan dari jumlah pengangguran pada Februari 2026.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menerangkan turunnya angka pengangguran itu seiring dengan peningkatan jumlah angkatan kerja yang bekerja per Mei 2026.

"Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026," ucap Edy dalam rilis BPS, Rabu, 5 Agustus 2026.

Dilihat dari tingkat pengangguran terbuka, jumlah 7,22 juta penganggur setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65%. "Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Februari 2026 yang sebesar 4,68%," katanya.

"Penurunan tingkat pengangguran terbuka ini juga terjadi pada laki-laki, pekerja laki-laki maupun perempuan. Penurunan tingkat pengangguran terbuka juga konsisten terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan," ia  menambahkan.

Jumlah Angkatan Kerja

BPS mencatat hingga Mei 2026 ada 220,23 juta penduduk usia kerja. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 689,000 orang jika dibandingkan dengan Februari 2026. Angkatan kerja tercatat mencapai 155,41 juta orang atau bertambah sebesar 497,000 orang.

Kemudian, kategori bukan angkatan kerja mencapai 64,82 juta orang atau meningkat sekitar 191.000 orang. Kemudian dari angkatan kerja tersebut sebanyak 148,19 juta orang diantaranya bekerja. "Jumlah penduduk yang bekerja ini bertambah sebanyak 522.000 orang dibandingkan kondisi di bulan Februari 2026," ujarnya.

Artikel Data BPS: Jumlah Pengangguran Indonesia Turun Jadi 7,22 Juta Orang menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum Kamis, (6/8/2026):

1. Data BPS: Jumlah Pengangguran Indonesia Turun Jadi 7,22 Juta Orang

Pencari kerja (Pencaker) memadati Job Fair Depok 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok di Depok Town Square (Detos), Rabu, 6 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,22 juta orang per Mei 2026. Angka itu mengalami penurunan dari jumlah pengangguran pada Februari 2026.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud menerangkan turunnya angka pengangguran itu seiring dengan peningkatan jumlah angkatan kerja yang bekerja per Mei 2026.

"Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026," ucap Edy dalam rilis BPS, Rabu, 5 Agustus 2026.

Dilihat dari tingkat pengangguran terbuka, jumlah 7,22 juta penganggur setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65%. "Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Februari 2026 yang sebesar 4,68%," katanya.

"Penurunan tingkat pengangguran terbuka ini juga terjadi pada laki-laki, pekerja laki-laki maupun perempuan. Penurunan tingkat pengangguran terbuka juga konsisten terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan," ia  menambahkan.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Menhub Dudy Jamin Pemulangan Lima Korban Meninggal KMP Mutiara Sentosa 2 Gratis

Menhub Dudy Purwagandhi meninjau langsung proses evakuasi penumpang KM Mutiara Sentosa II terbakar di perairan utara Sumenep, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026) malam. (Foto: dok. Kemenhub)

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkan ada ratusan penumpang jadi korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II. Lima di antaranya dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia.

Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II berdampak pada 238 orang penumpang yang menjadi korban, termasuk awak kapal yang berhasil dievakuasi hingga hari ketiga pascainsiden.

“Atas nama pemerintah, kami kembali menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah ini. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang. Dengan rasa duka yang mendalam, terdapat lima korban yang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Dudy, mengutip keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Pemerintah melalui PT Jasa Raharja memastikan seluruh korban memperoleh haknya, mulai dari biaya perawatan dan pengobatan, hingga santunan. Kementerian Perhubungan juga berkoordinasi dengan maskapai penerbangan dan instansi terkait untuk memfasilitasi pemulangan jenazah korban ke daerah asal tanpa membebani keluarga.

Dudy menegaskan, insiden ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh guna memperkuat aspek keselamatan transportasi, termasuk penyempurnaan standar operasional penanganan keadaan darurat.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Rupiah Menguat Tinggalkan 18.000, Intip Prediksi Hari Ini

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan Rabu, (5/8/2026) sehingga meninggalkan posisi 18.000. Lalu bagaimana prediksi rupiah terhadap dolar AS hari ini?

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah menguat 55 poin atau 0,31% menjadi 17.972 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.027 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memprediksi rupiah melemah seiring pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS).

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” tutur dia dikutip dari Antara.

Selain itu, ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga memberikan tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Melihat sentimen domestik, pasar disebut mencermati rilis Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 yang menunjukkan defisit lebih kecil dari perkiraan, serta inflasi Juli yang tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.

Berita selengkapnya baca di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya