Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Batal Serang Iran

Harga minyak dunia turun hampir 5% setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Agustus 2026, 07:40 WIB
Para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Senin (4/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Mengutip CNBC, Selasa (4/8/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan di AS, turun sekitar 5% dan ditutup di level US$ 80,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, merosot 4,7% ke US$ 83,77 per barel.

Trump pada Minggu menyatakan telah membatalkan rencana serangan setelah menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

"Iran, bersama sejumlah negara di Timur Tengah, baru saja meminta kami untuk menunda serangan karena kerangka dasar sebuah kesepakatan telah disepakati," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Pernyataan tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.

 

Perbedaan Pernyataan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Trump mengatakan, rancangan kesepakatan yang tengah dibahas mencakup "pembukaan Selat Hormuz secara segera, penuh, dan menyeluruh, serta diakhirinya ancaman nuklir Iran."

Sebelumnya, Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan gelombang serangan baru terhadap Iran seiring semakin kecilnya peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Konflik tersebut telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Presiden AS itu juga menyebut Washington dan Teheran akan menggelar perundingan pada Senin.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran. Mengutip media pemerintah PressTV, Teheran menegaskan tidak ada agenda pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Perbedaan pernyataan dari kedua negara tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran saat ini hanya melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai jalur pelayaran kapal melalui Selat Hormuz.

 

Penuh Ketidakpastian

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. (Dok. AP/Alex Brandon)

Di sisi lain, Trump kembali menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran tetap berlangsung.

"Terlepas dari apakah Iran ingin mengakuinya atau tidak, kenyataannya kami sedang membahas solusi atas persoalan yang telah mereka timbulkan selama puluhan tahun," tulis Trump dalam unggahan lanjutan di Truth Social.

Pernyataan yang saling bertolak belakang dari Washington dan Teheran menunjukkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah masih diliputi ketidakpastian.

Meski demikian, keputusan Trump untuk membatalkan serangan dinilai cukup meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah terkoreksi tajam pada awal pekan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya