Harga Pertamax Turun Ikuti Pasar Dunia, Bahlil Garansi BBM Subsidi Tetap Aman

Menteri Bahlil menegaskan penyesuaian harga Pertamax mengikuti tren minyak dunia, sementara harga BBM subsidi dipastikan tidak naik demi melindungi masyarakat.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 03 Agustus 2026, 16:20 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/8/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi bergerak fleksibel mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Kendati demikian, ia memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik.

Sebagaimana diketahui, harga BBM non-subsidi jenis Pertamax mengalami penurunan sebesar Rp 300 menjadi Rp 15.950 per liter. Bahlil menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan dampak langsung dari melemahnya harga minyak dunia dan Indonesia Crude Price (ICP).

"Ya kan saya dari awal katakan bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi itu harganya memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP. Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi," ungkap Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/8/2026).

Meskipun mekanisme pasar berlaku—di mana harga dapat naik ketika minyak dunia melonjak—pihaknya mengapresiasi penyesuaian harga yang dilakukan oleh Pertamina maupun badan usaha swasta saat harga minyak sedang melandai.

"Tapi kalau naik, pasti juga akan naik. Nah, sekarang kan lagi turun, dan kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu. Sekarang memang lagi turun," jelasnya.

Bahlil pun kembali memberikan kepastian bahwa pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak membebani masyarakat.

"Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting," tegasnya.

 

Mayoritas Masyarakat Gunakan BBM Subsidi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/8/2026).

Bahlil mencatat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih menggantungkan kebutuhan energinya pada BBM bersubsidi. Sementara itu, porsi pengguna BBM non-subsidi didominasi oleh kelompok masyarakat mampu.

"Sebab, dari total pemakaian BBM, sebanyak 80 persen merupakan BBM subsidi. Adapun non-subsidi hanya 20 persen, dan itu dikonsumsi oleh saudara-saudara kita yang mampu," ucapnya.

"Namun untuk yang 80 persen tersebut, tetap menjadi bagian yang ditanggung oleh pemerintah melalui skema subsidi," pungkas Bahlil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya