Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month) pada Juli 2026. Penurunan harga bahan pangan (volatile food) menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi nasional, di tengah kenaikan biaya hidup pada komponen inti dan harga yang diatur pemerintah.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa komponen harga pangan bergejolak mengalami deflasi cukup dalam, yakni 1,68% dengan andil terhadap deflasi sebesar -0,28%.
Advertisement
"Deflasi pada Juli 2026 sebesar 0,14% utamanya didorong oleh deflasi pada komponen harga bergejolak. Komponen ini mengalami deflasi sebesar 1,68% dan memberikan andil deflasi sebesar 0,28%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8).
Ateng menyebutkan, penurunan harga pangan ini dipicu oleh merosotnya komoditas seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, semangka, dan sawi hijau.
Biaya Pendidikan dan Otomotif Naik
Di sisi lain, BPS mencatat komponen inti tetap mengalami inflasi sebesar 0,14% dengan andil 0,09%, sekaligus menjadi penyumbang inflasi terbesar berdasarkan komponennya. Kenaikan ini didorong oleh pengeluaran di sektor pendidikan serta barang elektronik dan otomotif.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti yaitu biaya sekolah dasar, sepeda motor, pelumas atau oli mesin, biaya taman kanak-kanak, telepon seluler, dan biaya bimbingan belajar,” kata Ateng.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami inflasi sebesar 0,25% dengan andil 0,05%. BPS mencatat BBM jenis bensin menjadi pendorong utama kenaikan pada sektor ini.
"Sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,25% dengan andil inflasi sebesar 0,05%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu bensin," ujar Ateng.