UEFA Ancam Gugat Presiden FIFA Gianni Infantino Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

UEFA mengancam tindakan hukum terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino menyusul kegagalan rencana penjualan saham turnamen besar kepada investor swasta.

oleh ThomasDiterbitkan 03 Agustus 2026, 13:00 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - UEFA telah secara resmi mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Ancaman ini muncul setelah batalnya rencana FIFA untuk menjual saham pada turnamen-turnamen besar, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.

Rencana yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) ini bertujuan membentuk anak perusahaan komersial untuk mengelola acara-acara utama FIFA, seperti Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.

Melalui FFE, FIFA berharap dapat membuka investasi swasta minoritas dan mengumpulkan hingga $4,2 miliar dari valuasi perusahaan $20 miliar, dengan target keseluruhan lebih dari $20 miliar untuk “mempercepat pengembangan sepak bola secara global”. Perusahaan investasi AS Thrive Capital, yang didirikan oleh Joshua Kushner, dilaporkan akan memimpin konsorsium investor yang diusulkan.

Namun, proposal FFE ini menghadapi penolakan luas dari berbagai konfederasi sepak bola dan akhirnya ditarik pada 1 Agustus. Meskipun rencana tersebut dibatalkan, UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA dan Presiden Infantino.


Penolakan Keras Terhadap Rencana FFE

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Rencana FFE menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Ke-55 asosiasi anggota UEFA bahkan dengan tegas menentang rencana tersebut dan mengancam akan memboikot kompetisi FIFA jika proposal itu tetap dilanjutkan.

UEFA menegaskan bahwa “Piala Dunia tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi” dan “tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta”. Penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, bahkan mengundurkan diri karena tidak dapat mendukung proyek ini, menyatakan bahwa ia “tidak dapat berdiam diri sementara FIFA mempertimbangkan untuk menjual saham di Piala Dunia”.

Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, juga melontarkan kritik, menyebut bahwa staf FIFA merasa tertipu oleh kurangnya keterbukaan Infantino dalam merencanakan penjualan tersebut. UEFA sendiri menuduh kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan mereka, tetapi juga “banyak anggota keluarga sepak bola lainnya”.


Tuntutan Pelestarian Bukti dan Akuntabilitas

Dalam surat yang dikirim kepada Infantino, yang pertama kali dilaporkan oleh The Telegraph, UEFA secara resmi menyatakan bahwa mereka “secara aktif mempertimbangkan tindakan hukum, arbitrase, dan/atau keluhan regulasi yang timbul dari dan sehubungan dengan rencana FFE yang diusulkan oleh FIFA dan semua hal terkait”.

UEFA menuntut agar Infantino dan FIFA segera mengidentifikasi, menemukan, dan melestarikan semua dokumen serta informasi elektronik yang berkaitan dengan rencana FFE.

Peringatan ini secara spesifik melarang penghancuran, penghapusan, perubahan, penyembunyian, atau kehilangan materi relevan, karena tindakan tersebut dapat dianggap sebagai perusakan bukti. UEFA juga menyatakan berhak mencari ganti rugi yang sesuai dalam proses hukum atas perusakan atau kehilangan bukti tersebut.

Surat tersebut juga menyebut nama Joshua Kushner, Greg Maffei, bank JP Morgan, dan perusahaan OpenEconomics sebagai pihak yang turut menjadi target peringatan pelestarian bukti ini. UEFA menyerukan perlunya kepemimpinan baru di FIFA dan mengindikasikan Victor Montagliani, Presiden CONCACAF, sebagai penerus potensial Infantino. UEFA mengingatkan Infantino tentang janji transparansi yang diucapkannya saat terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016, yang menurut UEFA gagal dipenuhinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya