Suku Bunga The Fed hingga Gejolak Saham Teknologi jadi Sorotan

The Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga mempengaruhi laju pasar keuangan global pekan lalu.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Agustus 2026, 06:20 WIB
Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, AS. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Liputan6.com, Jakarta - Investor menghadapi ujian ketahanan mental pekan lalu. Dari tingkat global, the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga dan menegaskan pelonggaran kebijakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Pekan lalu, di pasar keuangan, indeks Hang Seng mencatat kenaikan terbaik. Indeks Hang Seng menguat 3,69%. Sementara itu, di pasar komoditas, harga minyak melemah 7,63% dan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) turun 1,68%. Demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Senin, (3/8/2026).

Pada pekan lalu, the Fed mempertahankan suku bunga acuan di 3,75%, sesuai perkiraan. Ini menandai pertemuan kelima berturut-turut tanpa perubahan. Akan tetapi, keputusan itu tidak diambil secara bulat.

Tiga pejabat menginginkan kenaikan suku bunga mencerminkan kekhawatiran harga minyak tinggi terus menjaga inflasi tetap tinggi.

Di sisi lain, ketua the Fed, Kevin Warsh mengisyaratkan tidak ada urgensi untuk melonggarkan kebijakan, dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat jangka panjang meningkat seiring penerimaan investor kalau suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.

Hal ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua turun menjadi 1,5%. Hal ini meski indikator inflasi pilihan the Fed melandai ke 3,7%.

Dari pasar komoditas, harga minyak tetap menjadi faktor yang memperumit situasi. Harga minyak berfluktuasi tajam sepanjang pekan lalu. Akhirnya turun ke kisaran US$ 89 per barel setelah Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut yang melibatkan lebih dari 40 negara untuk melindungu jalur pelayaran di Teluk. Hal ini terjadi meskipun harga minyak tetap mencatatka kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.

"Bagi pasar negara berkembang atau emerging market, kombinasi antara imbal hasil AS yang lebih tinggi dan dolar AS yang menguat memberikan dampak negatif,”demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Dalam riset Ashmore menyebutkan, hal tersebut cenderung menekan nilai mata uang lokal dan menarik arus modal masuk ke aset-aset AS.

 

Tren Investasi AI

Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Sentimen lainnya adalah tren investasi terkait kecerdan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal ini seiring pergerakan paling tajam tidak terjadi di AS, melainkan di kawasan Asia yang sedang berkembang.

Korea Selatan dan Taiwan merupakan basis bagi produsen chip terkemuka di dunia dan telah menjadi sarana paling langsung bagi investor untuk berinvestasi dalam tema AI di pasar negara berkembang. Akan tetapi, hal ini juga membuat kedua pasar itu paling rentan ketika keyakinan terhadap sektor ini goyah.

Kedua pasar itu mengalami fluktuasi tajam pekan ini. Indeks Kospi Korea Selatan turun sekitar 15% dalam dua sesi perdagangan pada pertengahan Minggu pekan lalu. Hal ini akibat hasil kinerja Meta yang mengecewakan yang memicu kembali keraguan apakah investasi besar-besaran di bidang AI akan menghasilkan keuntungan, sebelum akhirnya rebound sekitar 17% pada Jumat pekan lalu. Hal ini setelah laporan laba sektor cloud yang kuat dari Microsoft dan Amazon meyakinkan investor kalau permintaan chip tetap terjaga. Kospi menutup pekan lalu dengan posisi yang secara keseluruhan tidak banyak berubah.

Taiwan mengikuti pola serupa dan berakhir dengan penurunan sekitar 1%. Ashmore melihal hal ini sebagian besar kinerja pasar negara berkembang kini sangat bergantung pada perolehan laba segelintir perusahaan teknologi AS, dan sentimen pasar dapat berbalik secara drastis hanya karena satu laporan kinerja perusahaan.

"Itulah sebabnya kami lebih memilih untuk menyebar investasi di berbagai sektor daripada memusatkannya pada satu tema saja,” demikian seperti dikutip riset Ashmore.

Selain itu, Ashmore melihat Indonesia yang memiliki eksposur terbatas terhadap tren investasi AI, menunjukkan kinerja lebih stabil pada periode sama saat ini. Harga energi yang kuat terus menopang eksportir batu bara dan minyak kelapa sawit, meskipun harga minyak lebih tinggi membebani Indonesia selaku importir.

 

Sentimen Domestik

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari dalam negeri, sentimen Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mundur juga menjadi perhatian pekan ini. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI Perry Warjiyo.

Pekan ini, nilai tukar rupiah kembali melemah ke level 18.000 per dolar AS, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun sebelum akhirnya pulih, dan menutup pekan di atas level pembukaan. IHSG ditutup naik 0,64% ke posisi 6.236 pekan lalu. Hal ini menjadi tanda investor bersedia untuk lebih mencermati kesinambungan kebijakan yang tetap terjaga.

Dari sisi obligasi pemerintah Indonesia, pelemahan mata uang, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan ketidakpastian kepemimpinan merupakan hambatan jangka pendek meski imbal hasil riil yang tinggi tetap menarik begitu stabilitas kembali tercipta.

Di pasar sukuk negara berkembang global, harga minyak lebih tinggi terus memperkuat kondisi keuangan penerbit obligasi dari kawasan Teluk, bahkan di tengah tekanan kenaikan yield AS terhadap harga obligasi, terutama untuk surat utang berjangka waktu lebih panjang.

 

Sentimen Pekan Ini

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara keseluruhan, Ashmore melihat pekan lalu menunjukkan penurunan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan kejutan domestik bisa berdampak sama besarnya dengan kejutan global, tetapi juga memperlihatkan pasar saham Indonesia kini lebih stabil dibandingkan beberapa bulan lalu.

“Kami tetap memprioritaskan perusahaan berkualitas tinggi dan likuid serta obligasi berkualitas baik yang menawarkan pendapatan stabil, dengan diversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset untuk menghadapi periode volatilitas seperti saat ini,” tulis Ashmore.

Hal-hal utama yang perlu dicermati pekan ini meliputi data inflasi, neraca perdagangan, dan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua Indonesia, berita mengenai kepemimpinan bank sentral, serta perkembangan harga minyak dan konflik AS-Iran.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya