Liputan6.com, Tokyo - Kisah unik datang dari Jepang usai peristiwa gempa dahsyat di di Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya. Ternyata, telah lama ada mitos yang menyebut jika gempa di Negeri Sakura disebabkan olen ikan lele raksasa bernama Namazu.
Jepang selama ini memang dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas gempa bumi tertinggi di dunia. Berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, negara ini mengalami sekitar 2.000 gempa setiap tahun dan mencatat sekitar 20 persen dari seluruh gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 6 di dunia. Namun jauh sebelum ilmu pengetahuan mampu menjelaskan penyebab gempa, masyarakat Jepang telah memiliki kisah turun-temurun yang dipercaya sebagai asal mula bumi berguncang.
Advertisement
Dalam cerita rakyat Jepang, gempa bumi diyakini berasal dari Namazu, seekor lele raksasa yang hidup di sungai dan lautan bawah tanah di bawah kepulauan Jepang. Konon, ketika Namazu mengibaskan ekornya atau menggeliat, permukaan bumi akan berguncang dan memicu gempa.
Dikutip dari History Extra, pada awalnya masyarakat Jepang mengaitkan gempa dengan naga atau ular raksasa. Namun sejak abad ke-17, sosok Namazu mulai menggantikan makhluk-makhluk tersebut sebagai penyebab utama gempa dalam kepercayaan rakyat.
Dalam mitologi Jepang, dewa petir Takemikazuchi berhasil menaklukkan Namazu dengan menekan kepalanya menggunakan batu raksasa yang disebut kaname-ishi. Dalam versi lain, sang dewa menusukkan pedang ke kepala lele tersebut. Batu itu dipercaya begitu besar sehingga ujungnya masih terlihat di permukaan bumi, tepatnya di kawasan Kuil Kashima Jingu di wilayah Kanto.
Meski demikian, ketika Takemikazuchi lengah atau meninggalkan tempatnya untuk menghadiri pertemuan tahunan para dewa, Namazu dipercaya kembali bergerak. Geliatan kecil makhluk itu saja diyakini sudah cukup untuk memicu gempa bumi.
Sementara itu, Forbes menyebutkan, gambar-gambar Namazu sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-15. Namun, hubungan antara lele raksasa tersebut dengan gempa baru benar-benar berkembang pada akhir abad ke-18. Pada masa Tokugawa (1603–1868), Namazu awalnya lebih dikenal sebagai dewa sungai yang berkaitan dengan banjir dan hujan lebat. Dalam sejumlah kisah, Namazu bahkan digambarkan memperingatkan manusia akan datangnya bencana atau menelan naga air berbahaya untuk mencegah malapetaka yang lebih besar.
Seiring waktu, Namazu kemudian menggantikan makhluk-makhluk mitologi lain, seperti naga air, belut raksasa Jinshin-Uwo, dan kumbang naga Jinshin-Mushi, sebagai simbol utama bencana gempa bumi.
Kepercayaan terhadap Namazu semakin mengakar setelah serangkaian Gempa Besar Ansei pada 1854 hingga 1860. Gempa yang mengguncang Edo—kini Tokyo—pada 1855 dan menewaskan sekitar 10.000 orang membuat sosok lele raksasa itu semakin populer di kalangan masyarakat.
Jadi Simbol Pembaruan Dunia
History Extra juga menyebut, setelah bencana tersebut ratusan cetakan balok kayu atau namazu-e diproduksi. Sebagian menggambarkan Namazu sedang menghancurkan kota, sementara sebagian lain memperlihatkan Takemikazuchi menahan lele tersebut dengan batu raksasa.
Menariknya, Namazu tidak selalu dipandang sebagai pembawa kehancuran. Dalam sejumlah kisah rakyat, lele raksasa itu juga dianggap sebagai simbol pembaruan dunia atau yonaoshi.
Pada masa ketika pemerintahan dianggap korup atau tatanan sosial dinilai tidak seimbang, gempa yang dibawa Namazu dipercaya mampu menghadirkan perubahan. Gempa besar Edo 1855, misalnya, paling banyak menghancurkan kawasan elite dan pusat pemerintahan. Kondisi tersebut justru membuka banyak lapangan pekerjaan bagi para buruh dan tukang bangunan sehingga dianggap sebagai bentuk redistribusi kekayaan.
Dalam beberapa cetakan namazu-e, Namazu bahkan digambarkan membagikan emas kepada masyarakat atau berpesta bersama para pekerja di distrik hiburan Edo.
Selain Namazu, masyarakat Jepang juga mengenal makhluk laut lain yang dipercaya sebagai pertanda datangnya gempa, yakni oarfish atau ikan dayung raksasa.
Menurut Forbes, ikan laut dalam yang dalam bahasa Jepang disebut Ryugu no tsukai atau "utusan Raja Naga Laut" itu dipercaya muncul ke permukaan sebagai isyarat akan datangnya bencana besar. Kepercayaan tersebut kembali menguat setelah lebih dari selusin oarfish ditemukan terdampar di pesisir Jepang sebelum gempa dan tsunami Fukushima pada 2011.
Namun, para ilmuwan hingga kini belum menemukan bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara perilaku hewan dengan aktivitas seismik.
Ahli biologi justru menduga kemunculan oarfish lebih berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut akibat fenomena El Niño. Penelitian yang dipublikasikan pada 2018 menemukan adanya korelasi antara banyaknya oarfish yang terdampar dengan tahun-tahun El Niño.
Saat El Niño terjadi, suhu permukaan laut menjadi lebih hangat, sementara lapisan laut dalam justru lebih dingin. Karena makanan utama oarfish berupa plankton dan ikan kecil bergerak mengikuti perairan yang lebih hangat, oarfish ikut naik ke permukaan untuk mencari makan. Kondisi tersebut membuat ikan yang sebenarnya hidup di kedalaman 200 hingga 1.000 meter lebih mudah terlihat atau ditemukan mati di pantai.
Hingga kini, tidak ada laporan peningkatan aktivitas seismik di lautan sekitar Jepang yang dapat dikaitkan dengan kemunculan hewan-hewan tersebut. Meski begitu, kisah Namazu tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Jepang dan masih hidup dalam kehidupan modern. Simbol lele bahkan digunakan oleh Japan Meteorological Agency (JMA) sebagai logo sistem peringatan dini gempa bumi serta muncul pada rambu-rambu jalan untuk menandai jalur yang akan ditutup ketika terjadi gempa besar.