Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Defisit US$ 1 Miliar di Juni 2026

Neraca dagang diproyeksikan masih defisit US$ 1 miliar pada Juni 2026. Meski demikian, ekspor diproyeksikan kembali tumbuh di tengah impor yang masih tinggi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 02 Agustus 2026, 20:25 WIB
Ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 1,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mencatat defisit sebesar US$ 1 miliar pada Juni 2026. Kendati masih berada di zona negatif, nilai tersebut diproyeksikan membaik dibandingkan defisit US$ 1,61 miliar yang terjadi pada Mei 2026, didorong pemulihan ekspor dan penurunan harga minyak dunia.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan perbaikan neraca perdagangan terjadi di tengah permintaan global yang masih cukup kuat. Di sisi lain, turunnya harga minyak dunia juga membantu mengurangi tekanan dari impor migas.

"Defisit neraca dagang diperkirakan masih berlanjut pada Juni 2026, namun membaik dibandingkan bulan sebelumnya karena didukung permintaan global yang masih kuat dan penurunan harga minyak dunia," ujar Faisal, Minggu (2/8/2026).

Dari sisi ekspor, Permata Bank memperkirakan Indonesia kembali membukukan pertumbuhan sebesar 1,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. Proyeksi tersebut menjadi sinyal pemulihan setelah ekspor pada Mei masih mengalami kontraksi sebesar 5,73% (yoy).

Menurut Faisal, meski harga sejumlah komoditas utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) mulai kembali normal, permintaan dari pasar internasional masih cukup solid.

Hal tersebut tercermin dari aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama yang tetap berada di zona ekspansi. PMI manufaktur China tercatat stabil di level 50,3, Amerika Serikat mencapai 53,9, Jepang kembali masuk ke zona ekspansi di 50,1, sedangkan India naik menjadi 58,4, atau tertinggi di kawasan Asia.

Selain itu, membaiknya kondisi geopolitik di Timur Tengah juga dinilai membantu menjaga kelancaran perdagangan dan aktivitas ekonomi global.

 

Impor Masih Tumbuh Tinggi

Ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 1,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Di sisi lain, impor Indonesia diperkirakan masih mencatat pertumbuhan yang tinggi. Permata Bank memproyeksikan impor meningkat 28,66% (yoy) pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 22,16% (yoy) pada Mei.

Meski penurunan harga minyak diperkirakan menekan nilai impor migas, secara keseluruhan impor tetap meningkat karena didorong permintaan domestik yang masih kuat serta kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Permata Bank juga mencatat data perdagangan China menunjukkan ekspor negara tersebut ke Indonesia meningkat signifikan selama Juni. Kondisi tersebut mengindikasikan aktivitas impor Indonesia masih cukup tinggi.

 

Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Melebar

Ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 1,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ke depan, Permata Bank memperkirakan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia akan melebar sepanjang 2026.

Hal itu dipicu pertumbuhan impor yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dibandingkan ekspor. Sementara itu, ekspor dipandang masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari normalisasi pengiriman setelah percepatan ekspor pada tahun lalu, melemahnya permintaan dari China, hingga ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan perang dagang.

Menurut Permata Bank, meski perdagangan global semikonduktor dan chip berbasis kecerdasan buatan (AI) terus berkembang, Indonesia belum banyak terlibat dalam rantai pasok industri bernilai tambah tinggi tersebut. Akibatnya, manfaat terhadap peningkatan ekspor nasional masih relatif terbatas.

Permata Bank memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi sekitar 1%-2% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari sekitar 0,11% PDB pada 2025.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya