AI Gerus Industri Padat Karya, James Riady Soroti Nasib Pekerja RI

Dampak pesatnya AI, Bos Lippo Group James Riady tegaskan 60 juta pekerja RI harus segera di-reskilling agar tak tergerus.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 01 Agustus 2026, 20:30 WIB
Ceo Lippo sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady dalam KADIN Friday Breakfast, di Hotel Aryadutta, Jakarta. (Dok Lippo)

Liputan6.com, Jakarta - CEO Lippo Group, James Riady, membeberkan pandangannya terkait peta ekonomi dan stabilitas nasional di tengah ketidakpastian dunia yang terdisrupsi oleh pesatnya teknologi.

Menurut James, tantangan berat yang dihadapi Indonesia saat ini bukan sekadar gejolak politik jangka pendek, melainkan hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang perlahan menggerus sektor-sektor industri tradisional.

"Dunia ini bukan saja Indonesia, dunia ini menghadapi tantangan dan gejolak ini luar biasa karena Revolusi Industri keempat dengan teknologi, delapan teknologi pada saat yang sama berkembang, khususnya AI, robotics itu mengakibatkan tambah hari tambah berkurang industri padat karya," ujar James dikutip Sabtu (1/8/2026). 

Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi 'alarm' nyaring bagi sektor manufaktur konvensional yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja. James menyebut, kunci utama agar Indonesia bisa bertahan adalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lewat program pelatihan ulang (reskilling).

Pemerintah sendiri dinilai sangat menyadari bahaya ini dan terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nasib puluhan juta pekerja di tanah air.

"Ada 60 juta pekerja kita itu yang yang akan yang harus dilatih ulang, harus dididik untuk memasuki industri yang baru. Program reskilling atau pelatihan ulang menjadi kunci agar angkatan kerja Indonesia tetap relevan dan kompetitif," papar James yang juga Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri.

Strategi Berbagi Peran

Konglomerat Indonesia James Riady mendatangi Kantor Wilayah Pajak khusus Wajib Pajak Besar di Gedung Sudirman, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebagai benteng pertahanan ekonomi, James mengapresiasi langkah konkret pemerintah yang mulai memindahkan dan membagi pusat-pusat industri secara strategis. Salah satu contoh nyata yang disorotinya adalah masifnya pembangunan kawasan industri baru di Jawa Tengah.

"Pemerintah itu sedang mendobrak besar-besaran itu pembangunan industri ya, kawasan industri itu di Semarang di daerah sana. Yang dibangun itu adalah industri padat," tutur James.

Langkah ini menciptakan pembagian tugas yang jelas antarwilayah. Jawa Tengah difokuskan untuk menampung jutaan tenaga kerja lewat industri padat karya, sementara wilayah perkotaan besar seperti Jakarta akan beralih ke level berikutnya.

"Ke depannya, Jakarta itu akan lari ke lebih ke teknologi dan intensif investment. Melalui integrasi antara kesiapan SDM dan pembangunan infrastruktur kawasan industri yang tepat sasaran, Indonesia diharapkan mampu mengubah tantangan gejolak teknologi menjadi peluang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," jelas James.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya