Liputan6.com, Jakarta - Altcoin season yang telah lama dinantikan pelaku pasar kripto diperkirakan akan memiliki pola berbeda dibandingkan siklus sebelumnya. Alih-alih mengangkat harga ratusan altcoin secara bersamaan, reli kali ini berpotensi hanya menguntungkan sejumlah proyek tertentu.
Wintermute, salah satu market maker kripto terkemuka dunia, mengungkapkan perilaku investor institusi mulai mengalami perubahan. Aliran modal kini semakin terkonsentrasi pada kelompok token yang lebih terbatas.
Advertisement
Dalam laporan terbarunya, dikutip dari CoinMarketCap, Sabtu (1/8/2026), Wintermute menyebut investor institusi menyumbang 72% dari volume perdagangan spot over-the-counter (OTC) perusahaan sepanjang semester I 2026. Angka tersebut menjadi level tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah perusahaan.
Data Wintermute juga menunjukkan perbedaan perilaku antara investor institusi dan investor individu setelah terjadi lonjakan harga.
Aktivitas perdagangan investor institusi rata-rata turun signifikan hanya dalam waktu satu hari setelah harga aset kripto melonjak. Sementara itu, minat investor individu atau ritel dapat bertahan sekitar tiga hari.
Kondisi tersebut menunjukkan modal institusi bergerak semakin selektif. Investor besar tidak sekadar mengejar kenaikan harga di seluruh pasar, tetapi cenderung memusatkan dana pada token tertentu yang dinilai memiliki prospek lebih kuat.
Perubahan perilaku ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai apakah pola altcoin season seperti pada siklus pasar sebelumnya masih akan terulang pada 2026.
Modal Investor Kripto Makin Terkonsentrasi
Wintermute menilai tren tersebut dapat mengubah pola klasik altcoin season. Pada siklus sebelumnya, kenaikan pasar kerap terjadi secara luas sehingga ratusan altcoin dapat mengalami lonjakan harga dalam periode yang relatif bersamaan.
Namun, kondisi tersebut berpotensi tidak terjadi pada siklus kali ini. Wintermute memperkirakan hanya proyek dengan kegunaan kuat, likuiditas tinggi, dan mampu menarik minat investor institusi yang berpeluang menonjol.
Gambaran serupa terlihat dari data pasar kripto lainnya. Platform analitik on-chain CryptoQuant melaporkan volume perdagangan pasangan altcoin terhadap Bitcoin mendekati level terendah sejak 2021.
Konsentrasi kapitalisasi pasar altcoin juga semakin tinggi. Berdasarkan data tersebut, 10 altcoin dengan kapitalisasi pasar terbesar, di luar stablecoin, menguasai sekitar 80,5% dari total kapitalisasi pasar altcoin apabila Bitcoin dan stablecoin tidak diperhitungkan.
Data itu memperlihatkan sebagian besar nilai pasar altcoin kini berada pada kelompok aset kripto terbesar. Dengan demikian, aliran modal tidak tersebar secara merata ke berbagai token sebagaimana dapat terjadi pada periode reli pasar sebelumnya.
Hanya Altcoin Kuat yang Berpeluang Menonjol?
Perusahaan data pasar Kaiko juga mencatat kecenderungan serupa. Volume perdagangan kripto semakin terkonsentrasi pada jumlah proyek yang lebih sedikit.
Menurut data Kaiko, 10 altcoin terbesar kini menyumbang 63% dari total volume perdagangan altcoin. Padahal, hanya beberapa bulan sebelumnya, porsinya masih berada di kisaran 50%.
Perubahan tersebut menjadi indikasi bahwa modal investor semakin diarahkan ke kelompok proyek yang lebih sempit.
Di tengah investor institusi yang semakin berhati-hati, analis menilai proyek dengan teknologi kuat, likuiditas tinggi, serta ekosistem berkelanjutan berpotensi memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan altcoin lainnya.
Kondisi tersebut membuat potensi altcoin season berikutnya diperkirakan tidak berlangsung seluas reli pada siklus pasar sebelumnya. Kenaikan harga bisa lebih terkonsentrasi pada sejumlah proyek yang memiliki fundamental dan likuiditas lebih kuat.
Dengan kata lain, datangnya altcoin season belum tentu berarti seluruh pasar altcoin akan bergerak naik secara bersamaan. Selektivitas investor, terutama institusi, berpotensi menjadi faktor penting yang menentukan aset kripto mana yang mampu menikmati reli lebih besar pada siklus kali ini.