Krisis Migrasi di Ceuta, 9 Orang Tewas

Meski korban jiwa berjatuhan dalam krisis migrasi di Ceuta, pemerintah Spanyol menolak menetapkan keadaan darurat nasional.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 31 Juli 2026, 13:10 WIB
Para migran menyeberang dari Maroko menuju Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Kamis (30/7/2026). (Dok. AP Photo/Antonio Sempere)

Liputan6.com, Madrid - Sedikitnya sembilan orang tewas menyusul krisis migrasi di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko. Pihak berwenang tidak menjelaskan penyebab kematian mereka, tetapi sejumlah jenazah dilaporkan terlihat mengapung di laut.

Pemerintah Ceuta pada Kamis (30/7/2026) menyebut sekitar 1.500 hingga 2.000 migran telah memasuki wilayah tersebut dalam 10 hari terakhir. Ratusan orang lainnya diperkirakan kembali berdatangan pada Kamis.

Lonjakan kedatangan itu membuat Kepala Pemerintahan Ceuta Jesus Vivas menyatakan wilayahnya tengah menghadapi darurat kemanusiaan dan sosial yang sangat serius. Ia meminta pemerintah pusat di Madrid mengirim pasukan untuk memulihkan kendali di perbatasan.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menolak permintaan Pemerintah Daerah Ceuta untuk menetapkan keadaan darurat nasional, karena instrumen hukum tersebut dinilai secara konstitusi tidak dapat diterapkan untuk menangani krisis migrasi. Meskipun menolak status darurat, pemerintah pusat berjanji segera mengirimkan bala bantuan tambahan berupa personel kepolisian khusus dan unit militer ke perbatasan untuk memulihkan kendali keamanan.

Kementerian Dalam Negeri kemudian mengumumkan bahwa militer akan mengerahkan 60 personel untuk memperkuat pengamanan di perbatasan.

Dalam sejumlah rekaman, para migran terlihat meneriakkan "Viva Espana!" atau "Hidup Spanyol!" saat memasuki Ceuta. Banyak di antara mereka menyeberang melalui laut dari wilayah Maroko dengan menggunakan pelampung dan peralatan sederhana lainnya.

Associated Press melaporkan bahwa kerumunan migran berjalan memutari pemecah gelombang sebelum memasuki jalan-jalan di Ceuta. Sementara itu, kantor berita Spanyol EFE menyebut sebagian lainnya menyeberang melalui jalur darat dengan memanjat pagar perbatasan.

Aktivis hak-hak migran Zakaria Zarroqui mengatakan kepada Reuters bahwa lonjakan kali ini serupa dengan peristiwa pada Mei 2021. Saat itu, sekitar 10.000 pemuda asal Maroko dan negara-negara Afrika sub-Sahara memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari.

"Situasinya masih belum terkendali hingga saat ini," kata Zarroqui.

Ia menambahkan, orang-orang masih terus berdatangan ke Kota Fnideq di Maroko untuk mencoba menyeberang ke Ceuta.

Ceuta dan Melilla, kota otonom Spanyol lainnya di Afrika Utara, merupakan satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika. Kedua wilayah itu kerap menghadapi lonjakan kedatangan orang-orang yang berusaha masuk ke Eropa.

Pada awal bulan ini, Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa migran yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla tidak boleh langsung dikembalikan ke Maroko.

"Sejak putusan Mahkamah Agung itu, orang-orang terus berdatangan sedikit demi sedikit. Namun, hari ini jumlahnya melonjak drastis," ungkap seorang juru bicara Guardia Civil, pasukan keamanan Spanyol berstatus militer, kepada Reuters.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Maroko untuk menangani lonjakan kedatangan secara tidak resmi tersebut. Pemerintah Spanyol menuding jaringan penyelundup manusia memanfaatkan putusan mahkamah agung untuk mendorong orang-orang masuk tanpa dokumen.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya