Liputan6.com, Heidelberg - Gunther von Hagens, ahli anatomi asal Jerman yang dikenal sebagai pencipta teknik pengawetan tubuh manusia melalui plastinasi (plastination) dan pendiri pameran kontroversial Body Worlds, meninggal dunia pada usia 81 tahun. Kepergiannya membawa dirinya semakin dekat dengan keinginan yang telah lama ia sampaikan, yakni menjadikan tubuhnya sendiri sebagai bagian dari koleksi museum.
Dikutip dari The Guardian, Jumat (30/7/2026), Institut Plastinasi milik von Hagens mengumumkan bahwa sang ilmuwan meninggal dunia pada 24 Juli di sebuah rumah sakit di Heidelberg setelah mengalami pendarahan otak sehari sebelumnya.
Advertisement
"Dengan kesedihan yang mendalam, keluarga dan Institut Plastinasi mengumumkan wafatnya Dr. Gunther von Hagens, penemu plastinasi dan pencipta pameran Body Worlds," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Von Hagens didiagnosis mengidap penyakit Parkinson pada 2008. Meski kondisi kesehatannya terus menurun, ia berkali-kali mengungkapkan keinginannya agar tubuhnya sendiri diawetkan setelah meninggal.
Dalam sebuah tulisan di The Guardian pada 2018, ia mengatakan pernah membayangkan tubuhnya diplastinasi dan dipajang di pintu masuk sebuah pameran dalam posisi menyambut pengunjung. Pilihan lain yang juga ia pertimbangkan adalah tubuhnya dipotong menjadi irisan tipis dan dipamerkan di berbagai lokasi.
Keinginan tersebut kini akan diwujudkan. Juru bicara Plastinarium, museum yang didirikan von Hagens di Kota Guben, Jerman, pada 2006, mengatakan tubuh sang ilmuwan dipastikan akan menjalani proses plastinasi karena hal itu merupakan keinginan lamanya. Namun, lokasi tempat tubuhnya akan dipamerkan masih belum ditentukan.
Penemu Teknik Plastinasi
Gunther von Hagens lahir dengan nama Gunther Gerhard Liebchen pada Januari 1945 di Skalmierzyce, Polandia, yang saat itu berada di bawah pendudukan Jerman dan bernama Alt-Skalden. Ia tumbuh besar di Jerman Timur dan sempat mengikuti aksi protes terhadap penumpasan Musim Semi Praha oleh Uni Soviet pada 1968.
Setahun kemudian, ia dipenjara setelah berusaha melarikan diri ke Jerman Barat. Pada 1970, pemerintah Jerman Barat membayar 40.000 deutsche mark agar ia dibebaskan sebagai tahanan politik. Setelah tiba di Jerman Barat, ia menikahi istri pertamanya, Cornelia von Hagens, dan menggunakan nama keluarga sang istri.
Pada 1977, ketika bekerja sebagai peneliti di Institut Patologi dan Anatomi Universitas Heidelberg, von Hagens menemukan teknik plastinasi.
Ia mengaku ide tersebut muncul saat melihat spesimen anatomi yang diawetkan dalam plastik.
"Saya bertanya-tanya mengapa plastik dituangkan mengelilingi tubuh, bukan ke dalam tubuh," tulisnya.
Teknik plastinasi dilakukan dengan mengeluarkan cairan tubuh dan lemak yang larut, kemudian menggantinya dengan resin, silikon, dan epoksi. Proses tersebut membuat jaringan tubuh menjadi kaku sehingga dapat diposisikan menyerupai kondisi hidup.
Body Worlds Jadi Fenomena Dunia
Mulai 1995, tubuh-tubuh hasil plastinasi dipamerkan dalam Body Worlds, sebuah pameran keliling yang menampilkan anatomi manusia secara terbuka. Sebagian tubuh dipotong untuk memperlihatkan organ dalam, sementara lainnya diposisikan sedang bermain catur, berolahraga, hingga berhubungan seksual.
Pameran tersebut menjadi fenomena global dengan jumlah pengunjung lebih dari 50 juta orang di berbagai negara.
Von Hagens mengembangkan pameran itu bersama istri keduanya, Angelina Whalley. Menurut mereka, tujuan Body Worlds adalah "mendemokratisasi anatomi" sekaligus menghilangkan tabu masyarakat terhadap kematian.
Namun, pameran tersebut juga menuai kritik. Banyak pihak menilai sejumlah koleksinya sengaja dibuat sensasional, termasuk rangkaian spesimen janin pada berbagai tahap perkembangan.
Von Hagens selalu menegaskan bahwa seluruh tubuh manusia yang dipamerkan berasal dari orang-orang yang telah memberikan persetujuan sebelum meninggal untuk kepentingan pendidikan. Meski demikian, penggunaan tubuh bayi dan hewan tetap memunculkan perdebatan etika.
Pernah Diterpa Kontroversi
Pada 2004, majalah Der Spiegel menerbitkan dokumen yang menunjukkan fasilitas plastinasi milik von Hagens di Dalian, China utara, membeli "tubuh tanpa pemilik" dari kepolisian. Disebutkan, sebagian jenazah merupakan narapidana yang dieksekusi dan masih memiliki bekas luka tembak.
Setelah laporan tersebut terbit, von Hagens dilaporkan memerintahkan para pegawainya agar tidak lagi menerima jenazah hasil eksekusi.
Selain karya-karyanya, sosok von Hagens juga dikenal lewat penampilannya yang khas dengan topi fedora dan rompi kulit. Gaya tersebut membuat sebagian orang menggambarkannya sebagai perpaduan antara ilmuwan eksentrik dan ahli forensik dalam film.
Tetap Teguh pada PandangannyaKetika penyakit Parkinson membuat kemampuan berbicara dan motoriknya menurun, von Hagens menyerahkan pengelolaan organisasi dan keuangan kepada istrinya serta putranya, Rurik.
Meski kesehatannya terus memburuk, pandangannya mengenai kehidupan setelah kematian tidak berubah.
Dalam tulisannya pada 2018, ia mengaku terkadang berharap dapat mempercayai keberadaan Tuhan dan kehidupan setelah mati.
"Namun saya tidak berpikir ada kelanjutan setelah kematian. Setiap tubuh yang saya lihat setelah meninggal menunjukkan kepada saya bahwa jiwa sudah tidak ada. Saya tidak percaya ada sesuatu yang tersisa dari diri kita setelah kita meninggal," tulisnya.