Mural Kolaborasi Seniman RI, Austria, Ukraina Bawa Pesan Krisis Iklim

Seperti apa karya seni hasil kolaborasi Indonesia, Austria dan Ukraina yang ditampilkan di TIM?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 31 Juli 2026, 18:35 WIB
Kedubes Austria dan Ukraina Pamerkan Mural Kolaborasi Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Austria dan Ukraina di Indonesia bersama dengan Dewan Kesenian Jakarta menggelar pembukaan tirai mahakarya mural hasil kolaborasi antara seniman dari Indonesia, Ukraina, dan Austria. 

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Austria untuk Indonesia, Michael Wislocki Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Mahakarya yang selesai dalam waktu kurang lebih satu minggu ini merepresentasikan solidaritas yang terjalin di antara ketiga negara ini. Kuasa Usaha Kedutaan Besar Austria untuk Indonesia, Michael Wislocki, berkata kesepakatan yang dicapai oleh Menteri Luar Negeri Austria dan Ukraina menyatakan bahwa Austria akan mendukung Ukraina di bidang kebudayaan.

Seni yang dipilih adalah lukisan mural, yang mengusung tema Ecological Interdependence, atau Ketergantungan Ekologis. Tema ini berartikan bahwa kesadaran akan perkembangan di suatu bagian dunia akan berdampak pada bagian lain dan pada akhirnya masa depan bergantung pada kemampuan kita untuk bertindak bersama.

“Meskipun secara militer Austria netral, tapi itu bukan berarti kami tidak peduli. Proyek ini, bersama banyak orang di seluruh dunia, adalah media untuk menyuarakan dukungan yang berkelanjutan untuk Ukraina,” tutur Wislocki di Taman Ismail Marzuki Kamis (30/7/2026).

Dalam proyek ini, ada tiga seniman untuk perwakilan masing-masing negara. Ada Manuel Skirl dari Austria, Muna Diannur dari Indonesia, dan Vitalii Dilkone dari Ukraina, masing-masing membawa suara keseniannya. 

“Bagi kami, inilah inti dari diplomasi budaya. Membangun jembatan yang menghubungkan para seniman, kemudian terlibat dalam dialog dan kreasi bersama, serta pada akhirnya menumbuhkan pemahaman timbal balik yang lebih mendalam antara masyarakat, budaya, dan negara-negara kita,” imbuhnya.

 

Kedubes Ukraina: Butuh Praktik untuk Jalankan Solidaritas

Charge d’Affaires Kedubes Ukraina, Yevhenia Shynkarenko Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Perwakilan Kedubes Ukraina, Yevhenia Shynkarenko, dalam pidatonya berkata bahwa dampak dari masalah yang dirasakan suatu negara akan sampai ke seluruh kawasan dan benua. Maka dari itu, kerja sama, solidaritas dan saling menghormati bukanlah prinsip-prinsip abstrak, ketiganya merupakan kebutuhan praktik.

“Ketiga negara kita memiliki sejarah, tradisi, dan geografi yang berbeda. Namun, kesulitan yang kita alami saling terkoneksi. Perubahan lingkungan, ketidakamanan, krisis kemanusiaan dan gangguan pasokan pangan dan energi tidak hanya sampai batas negara saja,” jelasnya.

Beliau juga menyebutkan bahwa di tengah perang yang melanda negara mereka, para seniman Ukraina terus berkreasi dan berhubungan dengan dunia. Mereka melestarikan warisan budaya, mengembangkan praktik seni kontemporer, dan menjalin hubungan baru dengan masyarakat internasional.

Serangan yang dilakukan oleh Rusia bukan hanya menyerang teritorial dan warga Ukraina, tapi juga kepada kebudayaan yang dimiliki negara tersebut. “Ratusan situs warisan budaya, museum, teater, perpustakaan, dan lembaga pendidikan telah rusak. Dalam keadaan ini, setiap kesempatan bagi budaya Ukraina untuk diperkenalkan ke dunia memiliki makna yang istimewa,” ujarnya.

Ia berkata bahwa Ukraina tidak bisa diartikan hanya dari perang. Ukraina adalah negara yang memiliki kebudayaan yang beragam dan seniman bertalenta. “Budaya bisa membantu untuk mengerti sesuatu melampaui berita-berita politik.”

Perkuat Ikatan Budaya Lewat Kreativitas, Inklusivitas, dan Dialog Antarbudaya

Dirjen Kementerian Kebudayaan, Endah T.D Retnoastuti Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Sementara itu Dirjen Kementerian Kebudayaan Endah T.D Retno Astuti mengatakan bahwa Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah mengungkapkan komitmennya dalam memperkuat diplomasi internasional.

“Kami berkomitmen untuk memperkuat kerja sama budaya internasional melalui berbagai inisiatif yang mendorong kreativitas, inklusivitas, dan dialog antar budaya,” katanya.

Ia juga memberikan pengalamannya saat mengunjungi Kiev dan Vienna. "Saya menyaksikan secara langsung warisan budaya negara-negara ini, juga peran penting seni dalam membentuk identitas, membangun resiliensi, dan menyatukan komunitas." Menurutnya, sangat berarti untuk melihat seniman dari Austria, Ukraina dan Indonesia mencurahkan talentanya untuk kolaborasi ini.

Endah kemudian menyebutkan bahwa mural ini bukanlah hanya karya seni publik. Ini adalah ekspresi visual dari dialog antar budaya, memperlihatkan bahwa pemikiran yang berbeda bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa.

"Sebagai fitur permanen dari ruang budaya ini, mural tersebut akan terus menarik pengunjung, memantik percakapan, dan mengingatkan kita semua bahwa koneksi bisa melampaui batasan geografis," ucapnya

Endah percaya bahwa budaya adalah instrumen penting dalam diplomasi. 

Ia berkata mereka berkomitmen untuk memperkuat ikatan budaya internasional melalui inisiatif yang menjunjung kreativitas, inklusivitas, dan dialog yang bersifat antarbudaya.

Dirjen kebudayaan tersebut mendorong kolaborasi ini, di mana fungsinya tidak hanya untuk meningkatkan ruang publik, namun juga mempererat ikatan antar negara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya