Liputan6.com, Jakarta - Presentasi "HARSA" oleh LAKON Indonesia adalah fashion show paling tidak basa-basi yang pernah saya datangi. Pertunjukan yang menutup rangkaian JF3 Fashion Festival pada Rabu malam, 29 Juli 2026, itu bak banjir warna yang selesai dalam sekejap.
Saking singkat, dengan show kurang dari 10 menit, saya sampai menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan peragaan busana itu benar sudah berakhir. Tapi, keterkejutan saya tidak berhenti di situ, karena alih-alih dipersilakan meninggalkan ruangan, penonton diminta "melihat lebih dekat" busana yang dipamerkan, dan itu dimaksudkan secara harfiah.
Advertisement
Setelah melewati adegan celangak-celinguk berjemaah selama beberapa detik, audiens akhirnya tumpah ke runway, mengamati lebih dekat detail-detail timbul yang muncul di banyak potongan busana HARSA. Beberapa di antaranya bahkan menuntaskan keingintahuan dengan memegang beberapa pakaian.
Gumaman, "Oh," dan "Ah," terdengar bersahutan usai mereka dengan berhati-hati memegang karya mode tanpa menyentuh model yang memperagakannya. Konsep ini jelas segar dan tak terduga, sebagaimana saya tak menyangka gejolak rona dari koleksi yang merupakan hasil penyempurnaan kerja kreatif selama delapan tahun tersebut.
"Ini adalah koleksi yang sudah lebih matang," Founder LAKON Indonesia, Co-Initiator PINTU Incubator, dan Advisor to JF3 Fashion Festival, Thresia Mareta, mengatakan saat jumpa pers sebelum show di Jakarta, Rabu.
"Ini adalah gambaran bahwa di LAKON, perajin tak hanya jadi supplier, tapi juga bagian dari kreasi. Kami diskusi, melakukan eksperimen, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dengan perajin satu, perajin dua, perajin tiga, sampai akhirnya bertemu perajin yang sanggup (berkreasi) dalam levelnya LAKON," imbuhnya.
Gejolak Rona
Di presentasi, tak ada pengaturan model berjalan sendiri, mereka susul-menyusul. Beberapa berjalan perlahan, ada yang sangat cepat, sementara saya pun mendapati model yang berjalan sambil sedikit melompat.
Keragaman itu jelas selaras dengan palet busana warna-warni yang dihadirkan, namun kontras dengan setting awal show. Sebelum runway sarat gejolak rona diterpa lampu sorot, pekat memenuhi ruang. Kami diperdengarkan Swan Lake, Op. 20, Act 2: No. 10, Scene. Moderato oleh André Previn dan London Symphony Orchestra.
Ketika suara gamelan menyusul, barulah pemandangan menyentak mata hadir. Diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti kebahagiaan, HARSA menjadi kelanjutan dari perjalanan yang dimulai melalui Urub dan Pasar Malam.
Jika Urub berbicara tentang semangat yang terus menyala, sementara Pasar Malam merayakan kehidupan dan pertemuan manusia di dalamnya, HARSA menjadi refleksi tentang menikmati perjalanan, menghargai setiap proses, dan mensyukuri segala hal yang lahir darinya.
Babak Baru
Koleksi HARSA masih berada di bawah arahan Creative Director Irsan, menandai koleksi kesembilannya bersama LAKON Indonesia. Sebagai salah satu desainer senior Indonesia, ia menghadirkan perspektif yang matang dalam membangun keseimbangan antara kreativitas, fungsi, dan kualitas eksekusi.
Rangkaiannya juga mencerminkan keyakinan LAKON Indonesia bahwa identitas sebuah brand tidak dibangun dalam satu musim, melainkan melalui proses yang konsisten, dialog kreatif yang berkelanjutan, serta keberanian untuk terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Melalui HARSA, Irsan membawa LAKON Indonesia memasuki babak baru. Menutup babak streetwear, kali ini ia menghadirkan siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan dengan eksplorasi yang bergerak dari daily wear hingga daily wear deluxe.
Kekayaan batik dan bordir karya tangan Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang modern melalui permainan proporsi, konstruksi, serta eksplorasi material, seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza.
Kolaborasi Lintas Budaya
Melengkapi presentasi HARSA, LAKON Indonesia menghadirkan Euneun, brand tas asal Korea Selatan yang dikenal melalui pendekatannya terhadap desain yang elegan dan fungsional, di landasan pacu. "Sebagaimana LAKON, Euneun juga sangat menghargai craftsmanship," sebut pendiri Euneun, Hahm Eun-jung, di kesempatan yang sama.
Personel T-ara itu menyebut bahwa show LAKON sekaligus menandai perilisan perdana koleksi tas jenamanya. "Kami bahkan belum rilis resmi di Korea," ucapnya.
Sebagai penutup JF3 2026, HARSA juga merefleksikan semangat "RECRAFTED: Shaping the Future." Perwujudannya merupakan bukti keyakinan bahwa masa depan fashion Indonesia dibangun melalui penghormatan terhadap craftsmanship, kolaborasi lintas budaya, dan keberanian untuk terus berevolusi tanpa kehilangan akar yang menjadi identitasnya.