Proyek Gasifikasi Batu Bara Bumi Etam Chemical Targetkan 2 Juta Ton Metanol per Tahun

Bumi Etam Chemical memulai tahap desain rekayasa dasar proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku kimia.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 29 Juli 2026, 21:40 WIB
Penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) antara PT Bumi Etam Chemical (BEC) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tanda dimulainya proyek coal-to-methanol. (Liputan6.com/Christian)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bumi Etam Chemical (BEC), selaku anak usaha PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai pelaksana Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara di Kutai Timur,  melaksanakan penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan EPCC Framework Agreement yang merupakan penanda dimulainya tahapan rekayasa dan perancangan proyek coal-to-methanol menuju tahap konstruksi.

Proyek gasifikasi batu bara berkapasitas 2 juta ton metanol per tahun tersebut dinilai menjadi tonggak penting dalam pengembangan hilirisasi batu bara di Indonesia.

CEO PT Arutmin Indonesia, Ido Hutabarat, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari transformasi industri batu bara nasional—dari sekadar komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi melalui industrialisasi di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci utama untuk memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku kimia.

“Proyek Coal to Methanol BEC bukan hanya sebuah proyek investasi. Proyek ini adalah bagian dari perjalanan transformasi dari pemanfaatan batu bara sebagai komoditas menuju penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi melalui pengolahan, teknologi, dan industrialisasi di dalam negeri,” ujar Ido dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) proyek Coal to Methanol di Hotel The Ritz-Carlton, Rabu (29/7/2026).

Ia menambahkan, proyek BEC diharapkan mampu mengubah potensi batu bara Indonesia menjadi metanol sebagai produk kimia strategis yang sangat dibutuhkan industri nasional. Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari berdirinya fasilitas produksi, melainkan juga dari penguatan industri kimia nasional, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur dan Indonesia.

 

Tahap Konkret Wujudkan Hilirisasi Berkelanjutan

Penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) antara PT Bumi Etam Chemical (BEC) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tanda dimulainya proyek coal-to-methanol. (Liputan6.com/Christian)

CEO PT Kaltim Prima Coal (KPC), M. Rudy, menyatakan bahwa penandatanganan kontrak FEED dan EPCC menjadi simbol dimulainya fase yang lebih konkret dalam mewujudkan hilirisasi batu bara yang berkelanjutan. Sebagai salah satu pemegang saham BEC, KPC memandang proyek ini sebagai bentuk kontribusi nyata perusahaan terhadap transformasi industri pertambangan nasional.

“Hari ini bukan sekadar seremoni penandatanganan kontrak, melainkan simbol dimulainya fase yang lebih konkret dalam mewujudkan visi bersama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya batu bara Indonesia melalui hilirisasi yang berkelanjutan,” kata Rudy dalam kesempatan yang sama.

Menurut Rudy, proyek tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang melalui penyerapan tenaga kerja, pengembangan industri kimia nasional, peningkatan daya saing industri dalam negeri, serta dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Tahapan Panjang

Presiden Direktur BEC, Rio Supin. Penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) antara PT Bumi Etam Chemical (BEC) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tanda dimulainya proyek coal-to-methanol. (Liputan6.com/Christian)

Sementara itu, Presiden Direktur BEC, Rio Supin, menyampaikan bahwa penandatanganan FEED Contract dan EPCC Framework Agreement menjadi salah satu pencapaian penting (milestone) dalam perjalanan proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia. BEC menggandeng PT Istana Karang Laut sebagai mitra rekayasa nasional dan CNCEC sebagai mitra internasional yang telah bekerja sama sejak 2023.

“Hari ini adalah satu milestone penting. Kami berharap dengan pengalaman dua perusahaan engineering tersebut, mimpi kami untuk mewujudkan proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia dapat direalisasikan,” ujar Rio dalam kata sambutannya.

Meski demikian, Rio mengakui proyek ini masih harus melalui tahapan yang panjang sebelum mencapai keputusan investasi akhir (Final Investment Decision) dan pembangunan penuh. Kendati demikian, penandatanganan dua perjanjian strategis ini telah menjadi fondasi penting untuk melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi batu bara nasional.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya