Pangkas Rantai Pasok Lewat Koperasi Desa, Petani Bisa Untung Rp 263 Triliun

Mentan Amran menegaskan keberadaan Koperasi Desa bakal memotong rantai pasok pangan dari 8 menjadi 3 tahap, sehingga menguntungkan petani.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 28 Juli 2026, 17:20 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Selasa (28/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Devira P)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah memotong supply chain atau rantai pasok dalam sektor pertanian melalui keberadaan Koperasi Desa Koperasi Merah Putih (KDKMP).

Hal itu disampaikan Mentan Amran dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi KDKMP di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Selasa (28/7/2026).

"Ini koperasi sebenarnya kalau di sektor pertanian fungsi utamanya memotong supply chain, rantai pasok, dari 8 menjadi 3. Jadi dari 8 rangkaian menjadi 3. Nah, 3 itu dari petani ke koperasi, lalu dari koperasi langsung ke masyarakat," papar Amran.

Dia memaparkan, pihaknya pernah menghitung potensi pemotongan rantai pasok tersebut. Menurutnya, banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan jika skema ini berhasil berjalan secara optimal. Bahkan, keuntungannya diperkirakan bisa mencapai Rp 313 triliun.

"Kami pernah hitung dari 9 komoditas, nilainya untuk middleman (tengkulak) itu dia dapatkan keuntungan Rp 313 triliun. Katakanlah koperasi dapat Rp 50 triliun saja, artinya ada Rp 263 triliun yang bisa dinikmati langsung oleh petani," terangnya.

Dengan begitu, lanjut Amran, harga komoditas di tingkat petani bisa naik. Di sisi lain, daya beli konsumen juga meningkat hingga akhirnya tercipta ekonomi kerakyatan di pedesaan.

"Konsumen yang biasanya cuma beli 1 kilogram bisa menjadi 1,5 kilogram. Itu yang diinginkan Bapak Presiden Prabowo. Kemudian uang yang Rp 263 triliun itu berputar di desa, sehingga terjadilah ekonomi kerakyatan," ucap dia.

 

Potensi Jaringan Pupuk dan Penyerapan Gabah

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Selasa (28/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Devira P)

Amran menjelaskan, potensi besar selanjutnya berada pada sektor distribusi pupuk. Ke depannya para petani tidak perlu lagi pergi jauh untuk membeli pupuk karena sudah disediakan oleh koperasi desa setempat.

"Selanjutnya untuk menjual gabah, petani bisa langsung ke koperasi. Sebab, biasanya gudang Bulog itu jaraknya bisa sampai 50 kilometer dari sawah. Nah, kalau di setiap desa ada koperasi, uangnya berputar di situ, rantai pasoknya pendek, daya beli masyarakat naik, dan kesejahteraan petani meningkat," tandas Amran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya