Sekjen Hasto Ingatkan URI Jangan Tumpang Tindih dengan Lemhannas dan PTN

Perguruan tinggi harusnya dikembangkan berdasarkan peran strategisnya.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 28 Juli 2026, 13:27 WIB
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto saat hadir dalam Festival Wisata Kuliner Nusantara Bulan Bung Karno 2026 di Tangerang Selatan, Jumat (12/6/2026) malam. (Foto: Tim Media DPP PDIP).

Liputan6.com, Jakarta - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meminta pemerintah mendengar kritik publik terkait pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI).

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan perguruan tinggi yang sudah ada harus menjadi prioritas sebelum membentuk lembaga baru.

Hal itu disampaikan Hasto menanggapi pembentukan URI yang belakangan menuai sorotan karena dinilai belum melalui pembahasan di DPR.

“Seluruh kebijakan strategis pemerintah seharusnya melalui kajian yang mendalam agar tidak ada kontroversi di dalamnya,” kata Hasto di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).

Hasto menilai Indonesia telah memiliki banyak perguruan tinggi. Seharusnya itulah yang diperkuat sesuai bidang keunggulan masing-masing. Sebab tantangan utama pendidikan nasional saat ini bukan menambah lembaga baru, melainkan meningkatkan mutu pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, riset, inovasi, serta pembangunan karakter generasi muda.

“Yang harus kita perkuat adalah diferensiasi setiap universitas, tetapi dalam irama yang sama, yakni penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi. Kemudian diferensiasi dalam universitas berdasarkan perencanaan koridor strategis ini yang harus disusun terlebih dahulu sebelum mendirikan lembaga-lembaga baru," katanya.

 

Tak Tumpang Tindih dengan Lemhanas dan PTN

Hasto juga mengingatkan pemerintah agar pembentukan URI tidak menimbulkan tumpang tindih dengan peran Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) yang selama ini menjadi tempat pembinaan calon pemimpin nasional.

Menurutnya, Lemhannas telah dibangun sebagai wadah yang mempertemukan pemimpin sipil dan militer dari berbagai daerah untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan kepemimpinan nasional.

“Supaya tidak tumpang tindih. Lemhannas sudah menjadi tempat pembinaan kepemimpinan nasional, baik sipil maupun militer,” katanya.

Hasto menambahkan, setiap perguruan tinggi seharusnya dikembangkan berdasarkan peran strategisnya sebagaimana gagasan Presiden pertama RI Soekarno yang menempatkan universitas sebagai City of Intellect.

Ia mencontohkan Universitas Pattimura dan Universitas Cenderawasih yang sejak awal diproyeksikan menjadi pusat pengembangan ilmu kemaritiman, sedangkan Institut Pertanian Bogor (IPB) diarahkan menjadi pusat riset ketahanan dan kedaulatan pangan.

“Roh universitas sebagai City of Intellect itu yang harus dihidupkan kembali. Diferensiasi berdasarkan koridor strategis itulah yang perlu disusun sebelum mendirikan lembaga-lembaga baru,” ujarnya.

Hasto juga menilai suara masyarakat terkait prioritas anggaran pendidikan harus menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, berbagai masukan publik, termasuk mengenai kebutuhan beasiswa, peningkatan kualitas pendidikan, maupun kesejahteraan tenaga pendidik, layak dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan.

“PDI Perjuangan sependapat dengan suara-suara rakyat yang harus menjadi basis dalam kebijakan strategis pemerintah,” tegasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya