Liputan6.com, Jakarta - Emma Roberts resmi menikah dengan aktor Cody John dalam upacara intim di Sun Valley, Idaho, Amerika Serikat, pada 25 Juli 2026. Di luar momen sakral, sorotan publik tertuju pada gaun pengantin bernuansa vintage yang ia pilih, jauh dari pakem putih klasik ala Hollywood.
Roberts menggandeng desainer bridal Monique Lhuillier untuk mewujudkan gaun couture yang terasa dreamy, romantis, sekaligus sangat personal. Keduanya merancang tampilan yang memadukan estetika era lampau dengan ketelitian pengerjaan tingkat tinggi.
Advertisement
Salah satu keputusan kunci ada pada warna. Alih-alih putih, Roberts memilih antique rose atau vintage rose—hasil pewarnaan khusus yang terinspirasi benda-benda antik yang ia sukai, sekaligus merujuk pada nama tengahnya, Rose. Rangkaian detail personal itu ia ungkapkan dalam wawancara dengan Vogue.
Warna Antique Rose Dengan Jejak Personal
Nuansa antique rose memberikan efek seolah kain telah berusia puluhan tahun, menghadirkan kesan romantis dan nostalgia yang kuat. Palet lembut ini menjadi fondasi visual seluruh tampilan pengantin.
Pilihan warna tersebut bukan semata estetika; ia berkelindan dengan identitas sang aktris. Nama tengah Roberts, Rose, menjadi inspirasi emosional yang mengikat konsep warna dan karakter gaun.
Untuk melengkapi gaun, Roberts mengenakan chapel-length veil dari silk tulle dalam rona senada. Di atasnya terdapat lace voilette yang sempat menutup area mata sebelum kemudian diselipkan ke belakang kepala menyerupai headband renda, menghasilkan siluet yang artistik dan berbeda.
Konstruksi Haute Couture Dan Siluet Yang Bisa Berubah
Di balik tampilan ringan, gaun ini terbilang kompleks. Monique Lhuillier menggunakan sekitar 25 yard silk chiffon yang diwarnai secara khusus untuk menciptakan efek melayang ketika Roberts berjalan menuju altar.
Proses perwujudan gaun memakan waktu sekitar sembilan bulan dengan hampir 1.000 jam pengerjaan—sebuah capaian yang menegaskan standar detail haute couture.
Siluetnya memadukan klasik dan modern. Bagian atas menggunakan corset bodice dengan struktur boning yang masih tampak samar di balik lapisan chiffon tipis, memberikan karakter feminin yang lembut.
Bagian bawah hadir dengan layered skirt dan slit tersembunyi, membuat setiap langkah terlihat ringan. Gaun ini juga dilengkapi bustle yang memungkinkan perubahan bentuk rok sepanjang acara, sehingga tampilannya tetap dinamis.
Elemen unik lainnya adalah shawl renda Prancis berwarna ecru yang dapat dilepas pasang. Saat dikenakan, ia membentuk garis leher asimetris dengan ekor panjang dramatis; ketika dilepas, gaun berubah menjadi strapless tanpa perlu berganti busana.
Inspirasi Gaya Dan Pilihan Busana After Party
Roberts mengungkap inspirasi tampilannya dalam wawancara bersama Vogue.
"a little antique ghost doll"
Kata Emma Roberts dalam wawancara dengan Vogue. Inspirasi tersebut diterjemahkan menjadi sosok pengantin yang lembut, etereal, dan terasa seperti datang dari era lampau, sejalan dengan kecintaannya pada benda-benda vintage.
Usai pemberkatan, Roberts kembali mengejutkan tamu dengan mengganti busana. Ia memilih setelan hitam dari arsip Monique Lhuillier—pilihan yang tidak lazim untuk pesta pernikahan, namun tepat untuk menegaskan ketertarikannya pada estetika vintage dan nuansa timeless.
Untuk after party, ia mengenakan korset renda Chantilly hitam dari koleksi Fall 2004 yang dipadukan dengan rok silk organza bertumpuk.