Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Dalam kurun waktu sekitar satu jam pada Sabtu (25/7/2026) sore, gunung api berstatus Level III (Siaga) itu mengalami dua kali erupsi dengan kolom abu mencapai 457 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan data Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, letusan pertama terjadi pada pukul 16.52 WIB, disusul erupsi kedua pada 18.00 WIB. Kolom abu teramati membumbung sekitar 300 meter di atas puncak atau setinggi 457 meter di atas permukaan laut.
Advertisement
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi mengatakan, kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut.
"Erupsi terjadi dua kali, yakni pada pukul 16.52 WIB dan 18.00 WIB. Tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut," kata Andi, Minggu (26/7/2026).
Selain visual letusan, aktivitas vulkanik juga terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi erupsi sekitar 1 menit 3 detik.
Meski kembali meletus, Andi menegaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih sesuai karakter erupsi dan status gunung belum berubah, yakni Level III (Siaga).
Dia mengingatkan masyarakat, nelayan, maupun wisatawan agar tetap mematuhi rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Seluruh aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif diminta dihentikan demi menghindari potensi bahaya.
"Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga. Kami mengimbau masyarakat, nelayan maupun wisatawan agar tidak mendekati gunung atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif demi keselamatan," jelas dia.
Hingga Minggu (26/7/2026) siang, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif oleh Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau bersama PVMBG. Sejauh ini belum ada laporan mengenai dampak erupsi terhadap permukiman warga di sekitar Selat Sunda.