Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Jumat setelah harga minyak mentah Brent berbalik melemah dari level di atas US$ 100 per barel.
Di saat yang sama, pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap inflasi menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Advertisement
Mengutip CNBC, Sabtu (25/7/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.060,47 per ounce pada pukul 14.20 EDT. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat merosot sekitar 2% pada sesi sebelumnya.
Secara mingguan, harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 1%, didukung aksi beli saat harga terkoreksi (dip-buying) yang terjadi pada awal pekan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga naik 0,3% menjadi US$ 4.061,70 per ounce.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai emas dan perak mulai membentuk area penopang harga meski imbal hasil obligasi masih terus meningkat.
"Emas dan perak sedang membentuk area dasar harga di kisaran US$ 3.950 dan US$ 55 per ounce, meski imbal hasil obligasi terus meningkat. Meskipun pergerakan stop-loss hingga menembus level tersebut tidak bisa dikesampingkan apabila terjadi eskalasi perang yang tajam, harga emas tampaknya siap kembali menguat," kata pedagang logam independen Tai Wong.
"Selain itu, jika The Fed benar-benar menahan suku bunga pada rapat pekan depan, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi emas," tambah dia.
Harga Emas Sudah Terkoreksi 23% Sejak Perang
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun hampir 4% setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 7% hingga ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Lonjakan tersebut dipicu pernyataan kelompok Houthi yang didukung Iran. Mereka mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Meski menguat pada perdagangan terbaru, harga emas sebenarnya telah terkoreksi sekitar 23% sejak perang yang didukung Amerika Serikat dengan Iran pecah pada akhir Februari. Penurunan itu dipengaruhi ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat perang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Menunggu Keputusan The Fed
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada hasil rapat kebijakan Federal Reserve yang akan digelar pekan depan. Mayoritas investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Meski demikian, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.
Analis ING menilai penguatan harga emas belakangan ini lebih banyak dipicu oleh aksi beli saat harga turun dan penutupan posisi jual (short covering) setelah koreksi tajam dari rekor tertinggi yang terjadi pada awal tahun.
"Penguatan harga emas belakangan ini tampaknya terutama didorong oleh aksi beli saat harga turun (dip-buying) dan penutupan posisi jual (short covering). Hal ini terjadi setelah koreksi tajam dari rekor tertinggi yang dicapai pada awal tahun. Namun, harga minyak yang masih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi kemungkinan akan membatasi pemulihan harga emas, sehingga level US$ 4.000 per ounce menjadi batas penting yang perlu dicermati dalam jangka pendek," tulis analis ING dalam sebuah catatan riset.
Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 58,38 per ounce, platinum turun 0,5% menjadi US$ 1.592,12 per ounce, sedangkan paladium melemah 0,7% menjadi US$ 1.248,02 per ounce.