Bayang-bayang Begal Menghantui Bandung

Maraknya aksi begal di Bandung membuat warga mengubah cara pulang demi menjaga keselamatan.

oleh Nasrul FaizDiterbitkan 24 Juli 2026, 14:00 WIB
Patroli Polresta Bandung menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan menyisir sejumlah ruas jalan yang rawan tindak kejahatan. (Dok. Istimewa)

 

Liputan6.com, Jakarta - Claudia (21), seorang perempuan yang tinggal di kawasan Jalan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, memilih cara yang tak biasa saat pulang ke rumah pada Senin (20/7/2026) dini hari. Ia memesan tiga pengemudi ojek online (ojol) sekaligus untuk menemaninya dalam perjalanan dari kawasan Gudang Selatan, Kecamatan Sumur Bandung, menuju kediamannya.

Malam itu, Claudia baru saja menghadiri acara nonton bareng final Piala Dunia 2026 bersama teman-temannya. Ia memilih pulang lebih dulu karena keesokan paginya harus kembali beraktivitas.

Keputusan memesan tiga pengemudi ojol bukan tanpa alasan. Beberapa saat sebelumnya, Claudia mendapat kabar bahwa salah seorang temannya baru saja menjadi korban begal. Sejak saat itu, perjalanan pulang yang biasanya ia tempuh sendiri terasa jauh lebih mengkhawatirkan.

"Saya sering juga bawa kendaraan sendiri kalau malam. Cuma yang bikin takut adalah teman-teman yang pada dibegal. Teman-teman yang saya kenal. Kalau pengalamannya dari teman sendiri, saya lebih percaya karena lebih valid. Jadi lebih takut aja sih, Kak," ujarnya.

Menurut Claudia, suasana jalan yang lengang saat final Piala Dunia justru membuat rasa takutnya semakin besar.

"Terutama kan waktu itu lagi final Piala Dunia. Jadi saya makin takutnya di jalan makin sepi," katanya.

Karena itulah, ia memilih memesan tiga pengemudi ojol sekaligus. Keputusan itu bahkan membuat salah seorang pengemudi heran karena baru pertama kali menerima pesanan tiga motor untuk satu penumpang.

"Makanya pas nyampe saya nanya dulu ke kakaknya, ini benar bertiga? Iya benar, Kak. Saya juga bukannya apa-apa, takutnya modus apa gitu kan. Ya pengalaman pertama juga buat saya selama ngojol, baru kali ini," kata pengemudi tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, unggahan mengenai dugaan aksi begal memang kerap muncul di linimasa media sosial. Rekaman CCTV, video amatir, hingga kesaksian korban dan warga silih berganti bermunculan, memperlihatkan aksi perampasan sepeda motor yang diduga terjadi di sejumlah titik di Bandung dan sekitarnya.

Salah satunya dialami seorang warga Bandung berinisial D pada Selasa (14/7/2026). Sekitar pukul 03.00 WIB, ketika hendak berangkat bekerja dan melintas di Flyover Kopo, Kecamatan Bojongloa Kidul, ia tiba-tiba dipepet dua pelaku yang berboncengan sepeda motor.

Korban dipaksa berhenti. Tanpa banyak bicara, kedua pelaku langsung menyerang. Tangan kanan korban dibacok menggunakan senjata tajam. Ia juga dipukul dan ditendang hingga tak berdaya sebelum sepeda motor dan telepon genggamnya dibawa kabur.

Korban mengalami luka berat dan harus mendapat perawatan. Beruntung, kurang dari tiga jam setelah laporan diterima melalui layanan Call Center 110, polisi berhasil menangkap dua pelaku berinisial RP dan RF.

Nasib nahas juga dialami Rizky Ramadhan Anwari (28). Bukannya mendapat pertolongan usai dibegal, dia malah dikeroyok warga Jalan Babakan Ciparay, Bandung.

Kejadian itu bermula pada Rabu (7/5/2026) malam. Rizky bersama kekasihnya sedang dalam perjalanan pulang usai menghabiskan waktu di kawasan Dago, Bandung.

Di tengah perjalanan, mereka dihampiri tiga pria berpenutup wajah yang mengaku sebagai anggota polisi. Ketiganya meminta telepon genggam Rizky untuk diperiksa, kemudian menuduhnya menggunakan narkoba dan memaksa korban mengikuti pemeriksaan ke arah Sukajadi.

Karena merasa tidak melakukan kesalahan, Rizky menuruti permintaan tersebut. Ia sama sekali tidak curiga ketika salah seorang pelaku mengambil alih kemudi sepeda motornya.

Sesampainya di Jalan Babakan Ciparay, pelaku berpura-pura ingin buang air kecil. Saat Rizky turun, sepeda motornya langsung dibawa kabur.

Korban spontan mengejar sambil berteriak meminta tolong. Namun keadaan berubah dalam hitungan detik. Para pelaku justru lebih dulu meneriakinya sebagai begal.

"Malah berbalik saya yang dituduh begal," kata Rizky.

Warga yang mendengar teriakan itu langsung menghentikan Rizky dan mengeroyoknya. Ia dipukul, ditendang, bahkan tangan kirinya sempat terlindas sepeda motor.

Beruntung, Tim Prabu Polrestabes Bandung melintas dan menghentikan aksi massa. Belakangan diketahui para pelaku tidak mampu menunjukkan surat-surat kendaraan yang mereka klaim sebagai miliknya.

Ketiga kisah itu memotret satu kenyataan pahit, teror begal di Jawa Barat telah merenggut hal yang paling mendasar dari warga, yakni rasa aman. Ancaman di jalanan tak lagi sekadar perkara kehilangan harta benda. Warga kini terpaksa mengubah kebiasaan demi bisa pulang selamat.

Gambaran tersebut sejalan dengan catatan Polda Jawa Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, polisi menangani sedikitnya 24 kasus begal di berbagai wilayah, dengan 19 di antaranya sempat viral di media sosial.

Modus maupun korbannya pun beragam. Di Bandung, aksi begal tak hanya terjadi di Flyover Kopo, tetapi juga menyasar seorang pengemudi ojek online di kawasan Cikawao pada Juni 2026. Pelaku bersenjata tajam merampas telepon genggam dan sepeda motor korban. Sementara di Cianjur, komplotan begal yang ditangkap pada awal Juli diketahui masih berstatus pelajar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 juga menunjukkan tingkat risiko kejahatan di Kota Bandung mencapai 192 per 100.000 penduduk. Pada periode yang sama, rata-rata terjadi satu tindak kejahatan setiap 2,2 jam. Sementara itu, Polrestabes Bandung mencatat sedikitnya 2.675 laporan kejahatan sepanjang 2025.

 

Langkah Tegas Polda Jabar

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan

Rentetan aksi begal yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat mendorong kepolisian mengambil langkah lebih tegas. Selain meningkatkan patroli, Polda Jawa Barat juga mengingatkan bahwa masyarakat diperbolehkan melakukan tindakan untuk melindungi diri saat menghadapi pelaku begal.

Meski demikian, tindakan tersebut harus dilakukan secara tegas dan terukur. Kepolisian menegaskan, upaya melumpuhkan pelaku tidak boleh sampai menghilangkan nyawanya.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan mengatakan arahan tersebut merupakan bagian dari instruksi Kapolda Jawa Barat dalam merespons maraknya aksi kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat.

"Upaya kita yang pertama adalah perintah Pak Kapolda untuk tindak tegas terukur jelas ya, dan ini tidak hanya kepada polisi, kepada masyarakat pun boleh ya, kepada masyarakat boleh, dengan catatan tadi itu ya juga tegas terukur ya jangan sampai matilah, bahasanya ya," kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, di Polda Jabar pada Selasa (21/7).

Selain itu, Hendra mengatakan patroli akan terus ditingkatkan, terutama pada jam-jam rawan menjelang dini hari. Jumlah personel yang diterjunkan juga akan diperbanyak untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan.

"Kita ingatkan kepada para pelaku sekecil apapun yang memberikan teror kepada masyarakat akan kita tindak tegas," ucap dia.

 

Sayembara Dedi Mulyadi

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. (merdeka.com/Azzura Galaxia)

Respons terhadap maraknya aksi begal di Jawa Barat juga datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia meluncurkan sayembara bagi warga yang berhasil menangkap pelaku kejahatan jalanan, mulai dari begal, jambret, maling, hingga copet.

Hadiah yang disiapkan pun tidak sedikit, yakni berkisar Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Namun, Dedi memberikan satu syarat yang tidak bisa ditawar, yakni pelaku harus diserahkan kepada aparat kepolisian dalam keadaan hidup.

Pengumuman sayembara itu disampaikan Dedi melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (23/7/2026).

"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp 5 sampai Rp 50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," ungkap Dedi Mulyadi dalam keterangannya.

Selain mengajak keterlibatan warga, Dedi memastikan Pemprov Jabar terus berkoordinasi secara intensif dengan Polda Jabar dan Polda Metro Jaya. Ia juga telah menginstruksikan jajarannya untuk memperketat keamanan melalui patroli rutin setiap malam.

"Siaga menghadapi begal. Kita terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian, khususnya Polda Jabar, dan kita juga akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," tegas dia.

Dedi juga meminta seluruh perangkat daerah yang berwenang untuk turun langsung menjaga titik-titik rawan.

"Mobil patroli harus siaga dalam setiap malam. Lampu tanda bahayanya harus terus menyala. Satpol PP, Damkar siaga di titik-titik strategis untuk mengantisipasi segala kemungkinan dalam setiap waktu," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya