Liputan6.com, Jakarta - Industri otomotif Thailand tengah menghadapi tantangan berat seiring banjirnya mobil listrik impor berstatus completely built-up (CBU), terutama dari China. Kehadiran model impor yang menawarkan harga sangat bersaing dinilai memberikan tekanan hebat terhadap produksi dalam negeri, keberlangsungan produsen komponen lokal, hingga potensi pemutusan hubungan kerja di sektor tersebut.
Di tengah pentingnya investasi asing bagi pertumbuhan ekonomi, para pelaku industri otomotif Thailand mendorong pemerintah untuk segera meningkatkan penggunaan komponen buatan lokal dalam produksi kendaraan listrik (EV). Langkah ini dinilai krusial demi menjaga rantai pasok otomotif nasional, sekaligus mempertahankan posisi Thailand sebagai basis industri kendaraan utama di Asia Tenggara.
Advertisement
Ketua Automotive Industry Club di bawah Federation of Thai Industries (FTI), Suwat Supakandechakul, mengatakan bahwa sejumlah komponen umum sebenarnya sudah sangat mampu diproduksi di dalam negeri. Beberapa di antaranya meliputi jok mobil, kabel kelistrikan, hingga kaca depan. Penggunaan komponen lokal dalam skala besar diyakini dapat menciptakan efisiensi produksi sehingga biaya pembuatan kendaraan bisa makin ditekan.
"Pemerintah harus mendorong penggunaan komponen-komponen tersebut, dan biayanya dapat dijadikan sebagai pengurang pajak," ujar Suwat kepada Bangkok Post, dikutip dari Paultan, Jumat (24/7/2026).
Suwat menambahkan, komponen bernilai tinggi seperti sasis yang saat ini sudah diproduksi di Thailand juga perlu dijadikan prioritas. FTI berpendapat, kewajiban bagi produsen mobil listrik berbasis baterai (BEV) asal luar negeri untuk menyerap komponen lokal dapat diterapkan secara ketat, sebagaimana yang selama ini dibebankan kepada produsen kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE).
Selain untuk menyelamatkan rantai pasok dalam negeri, dorongan meningkatkan kandungan lokal ini juga berakar dari kekhawatiran atas regulasi perdagangan internasional. Amerika Serikat kini makin sorot terhadap praktik transshipment—yakni perakitan kendaraan di Thailand yang didominasi komponen impor dari negara tertentu.
Tarif Tinggi di Amerika Serikat
Suwat menyebut, Washington berpotensi menjadikan praktik transshipment tersebut sebagai alasan untuk mengenakan tarif masuk yang lebih tinggi terhadap produk ekspor asal Thailand. Oleh karena itu, FTI tengah intens berdiskusi dengan komite parlemen terkait guna merumuskan aturan kandungan lokal yang lebih ketat bagi produksi EV.
Sementara itu, Presiden Thai Automotive Industry Association (TAIA), Yuphin Boonsirichan, mendesak pemerintah segera melakukan restrukturisasi pajak cukai khusus untuk kendaraan listrik yang diimpor secara utuh. Kebijakan proteksi ini diharapkan mampu memberikan ruang napas bagi produsen dan pemasok komponen dalam negeri.
Usulan senada sebelumnya juga disuarakan oleh Electric Vehicle Association of Thailand (EVAT) serta Thai Auto-Parts Manufacturers Association (TAPMA).
Sebagai langkah tambahan, TAIA mengusulkan kampanye nasional untuk mendorong masyarakat membeli mobil yang dirakit di dalam negeri. Pemerintah dapat memberikan stimulan berupa insentif pengurangan pajak penghasilan pribadi bagi masyarakat yang membeli EV rakitan lokal. Tak hanya itu, instansi pemerintah juga disarankan untuk memprioritaskan armada kendaraan listrik lokal demi menyokong pertumbuhan permintaan sekaligus memperkuat ekosistem otomotif di Thailand.