Liputan6.com, Jakarta - Nasib pilu dialami Meti Aryanti (43), seorang ibu tunggal di Kampung Sawahbera, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Di tengah keterbatasan ekonomi, dia terpaksa tinggal di sebuah bangunan sempit yang dahulunya berfungsi sebagai musala selama kurang lebih tiga tahun.
Meti tinggal bersama tiga anaknya yang masih membutuhkan pengasuhan penuh, mulai dari balita hingga remaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menggantungkan hidup sebagai pekerja serabutan.
Advertisement
"Kalau ada yang nyuruh baru kerja. Apa saja yang penting kerja," ujar Meti saat ditemui, Kamis (23/7/2026).
Kondisi tersebut bermula setelah ia berpisah dengan suaminya karena permasalahan rumah tangga yang berat. Ia bahkan mengaku sempat mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
"Karena suaminya kurang tanggung jawab. Dulu sempat KDRT, sudah laporan sampai divisum, tapi enggak ada respons. Akhirnya diam di sini," tuturnya.
Keberadaannya di lokasi tersebut mendapat perhatian dari warga sekitar. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Meti mengaku didukung oleh para tetangga, pengurus RT, dan RW yang sering membantunya secara materi.
"Kalau lagi kekurangan enggak punya uang, pinjam. Dibantu RT, RW sama warga," katanya.
Harapannya kini sederhana, ia ingin memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman untuk anak-anaknya.
"Yang penting enggak bocor, bisa ditempati dengan layak," ucap Meti jujur.
Sebelumnya, beredar kabar viral di media sosial yang menyebutkan Meti tinggal di dalam toilet umum (WC).
Lurah Dayeuhluhur, Supardi, mengklarifikasi bahwa bangunan tersebut pada awalnya difungsikan sebagai musala oleh warga sekitar dan dilengkapi dengan fasilitas MCK, bukan ruangan toilet seperti yang diberitakan.
"Informasi yang beredar bahwa Bu Meti tinggal di WC itu tidak benar. Faktanya, bangunan ini awalnya adalah musala yang memang memiliki fasilitas MCK," ujar Supardi.
Ia menjelaskan bahwa inisiatif menempatkan Meti di bangunan tersebut datang dari warga setempat agar ia tetap memiliki tempat berteduh.
Menindaklanjuti ramainya pemberitaan, pihak kelurahan kini telah menyiapkan solusi penanganan dengan berencana memindahkannya ke tempat yang lebih layak melalui swadaya masyarakat.
"Sudah ada kesepakatan bersama, Bu Meti akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Bangunannya akan ditambah ruangannya melalui swadaya murni warga," kata Supardi.