Liputan6.com, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesiaa (KPAI) ikut menyoroti kondisi bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang roboh tapi belum juga diperbaiki. Kondisi itu dua tahun tanpa penanganan.
Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menegaskan pihaknya terus mengawasi pemenuhan hak-hak anak terkait kenyamanan dan keamanan di lingkungan pendidikan. Termasuk untuk murid-murid SDN Kebayoran Lama Selatan 09. KPAI akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan fasilitas pendidikan tetap terawat bagi anak.
Advertisement
"Terkait fasilitas satuan pendidikan yang kemudian bisa mengancam terwujudnya keamanan dan kenyamanan anak, kami terus berkolaborasi dengan dinas-dinas, dengan pemda," ujar Aris usai konferensi pers jelang Hari Anak Nasional 2026, Rabu (22/7/2026).
Kolaborasi tersebut sebagai upaya menjamin kejadian serupa tidak terjadi kembali di satuan-satuan pendidikan lain.
"Apalagi melalui program revitalisasi sekolah ini, kami mengawal untuk memastikan sarana-sarana yang disediakan di sekolah bisa mencegah seperti kasus yang pernah terjadi di Kebayoran beberapa waktu lalu," jelas Aris.
Menengok Kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09
Sebelumnya, gerbang sekolah tertutup rapat. Pagar dan plang tampak kusam, sementara riuh kegiatan belajar mengajar tak lagi terdengar, hanya menyisakan kesunyian. Itulah wajah SDN Kebayoran Lama Selatan 09 di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Gedung itu memang sudah tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sejak November 2024 karena kondisinya dinilai membahayakan.
Kegiatan belajar mengajar SDN Kebayoran Lama Selatan 09 telah dipindahkan ke SDN Kebayoran Lama Selatan 11 dan 12.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com, Rabu (22/7/2026), di salah satu sisi bangunan, garis pembatas tampak masih terpasang mengelilingi bagian sekolah yang mengalami kerusakan parah.
Sebagian atap bangunan ambruk, sementara plafon di sejumlah ruang kelas rusak parah. Puing-puing masih berserakan, membuat bangunan itu tampak seperti telah lama ditinggalkan. Retakan membelah dinding di berbagai sisi, dan rumput liar mulai tumbuh di sela-sela reruntuhan.
Meski begitu, sekolah tak sepenuhnya lengang. Beberapa petugas Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota tampak menebang pohon-pohon yang tumbuh rimbun di halaman.
Kepala sekolah dan sejumlah guru turut memantau proses tersebut, namun memilih enggan berkomentar.
Sesekali, mobil pikap keluar-masuk mengangkut batang pohon dan dedaunan hasil penebangan. Aktivitas itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan di sekolah yang kini sunyi.