Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Industri Kereta Api (Persero) resmi memulai proses integrasi bisnis strategis. Tingginya kebutuhan armada kereta api di Tanah Air dinilai menjadi peluang besar bagi pengembangan industri perkeretaapian dalam negeri.
Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management (DAM), Desty Arlaini, menyatakan bahwa proses integrasi ini perlu diawali dengan keselarasan visi dari jajaran pimpinan hingga seluruh insan di kedua perusahaan.
Advertisement
"Seluruh pimpinan perlu memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. KAI dan INKA harus menjadi satu tim yang saling menghormati kompetensi masing-masing," ujar Desty dalam keterangan resminya, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa integrasi ini membuka peluang besar bagi industri manufaktur kereta api Indonesia. Kebutuhan sarana dalam jangka panjang menuntut perencanaan yang kian terhubung antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.
"Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat. Proyeksi kebutuhan sarana perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, hingga penyerahan produk yang lebih selaras," ujar Bobby.
KAI Butuh 156 Rangkaian KRL hingga 2040
Bobby mengungkapkan, salah satu potensi pasar terbesar datang dari kebutuhan Kereta Rel Listrik (KRL). KAI memproyeksikan kebutuhan setidaknya 156 rangkaian KRL hingga tahun 2040 mendatang.
Proyeksi tersebut menjadi ruang pengembangan besar bagi manufaktur nasional, yang memerlukan:
- Peningkatan kapasitas produksi secara bertahap.
- Penguatan penguasaan teknologi dan kepastian kualitas.
- Keselarasan antara kebutuhan operasional dan kemampuan produksi.
"Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang industri ini. Angka tersebut bahkan belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel (KRD), sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, hingga sarana angkutan barang," tutur Bobby.
"KAI sangat mendukung integrasi ini karena dampaknya berkaitan langsung dengan layanan masa depan. Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar kemampuan kita menyediakan sarana yang aman, andal, dan nyaman bagi masyarakat," imbuhnya.
Memperkuat Ekosistem Perkeretaapian Nasional
Senada dengan KAI, Direktur Utama PT INKA (Persero) Bambang Jatmika menilai integrasi ini akan memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional secara menyeluruh.
"Integrasi ini menjadi bagian dari cita-cita membangun industri kereta api nasional yang kuat. KAI dan INKA memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pemetaan kebutuhan sarana hingga produksi yang mendukung pelayanan masyarakat," jelas Bambang.
Ia menambahkan, koordinasi yang makin erat akan membantu kedua belah pihak menyelaraskan jadwal pengujian, proses serah terima, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas produk secara berkesinambungan.