Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tren mode baru yang disebut “Mob Wife Aesthetic” kini merajalela di berbagai platform media sosial, secara signifikan menantang dominasi estetika minimalisme yang telah lama mengakar. Gaya ini secara lugas merayakan kemewahan yang berani, kekuatan, dan feminitas yang tak kenal kompromi, ditandai dengan penggunaan mantel bulu, perhiasan berukuran besar, serta sikap percaya diri yang kuat.
Estetika “Mob Wife” mengambil inspirasi dari gaya hidup mewah dan seringkali dramatis yang diasosiasikan dengan istri atau pasangan tokoh kejahatan terorganisir, seperti yang kerap digambarkan dalam film dan acara televisi. Tampilan ini secara khusus merangkul bahan kain yang mewah, aksesori yang mencolok, dan siluet yang kuat, sembari tetap mempertahankan elemen keanggunan dan daya pikat.
Advertisement
Pendekatan maksimalisnya menjadi ciri khas utama, sangat kontras dengan estetika “Clean Girl” yang minimalis. Tren ini menekankan kemewahan, kemewahan, dan kepercayaan diri. Kayla Trivieri, seorang pengembang produk blockchain asal Kanada yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah dan pemicu tren di TikTok, mendeskripsikan estetika ini sebagai perpaduan “cetakan cheetah,” “kilauan,” “kemewahan,” dan “glamor yang berani.” Lebih dari sekadar pakaian, Trivieri menyebutnya sebagai “energi, aura” untuk tampil “sangat maju dan berani.”
Akar Inspirasi dari Layar Kaca dan Viralnya di TikTok
Akar dari estetika “Mob Wife” bermula dari film dan acara televisi bertema mafia yang ikonik, yang menampilkan potret wanita-wanita kuat dan glamor yang mendampingi para pria berkuasa. Karakter seperti Carmela Soprano dari serial The Sopranos, Karen Hill dari film Goodfellas, dan Ginger McKenna dari Casino, merupakan representasi utama dari gaya ini. Para wanita tersebut kerap mengenakan busana mewah yang menarik perhatian, memancarkan kesan otoritas dan feminitas yang tak terbantahkan.
Popularitas tren ini semakin meluas di TikTok pada awal tahun 2023, setelah Kayla Trivieri mengunggah sebuah video yang mendeklarasikan, “Clean Girl sudah ketinggalan zaman; era mob wife sudah tiba.” Video tersebut berhasil ditonton lebih dari satu juta kali, menginspirasi banyak pengguna lain untuk mengadopsi estetika yang mencolok ini.
Elemen Kunci Gaya 'Mob Wife' yang Mencolok
Gaya “Mob Wife” dicirikan oleh beberapa elemen utama yang secara bersama-sama menciptakan tampilan mewah dan berani. Salah satu ciri khas paling menonjol adalah penggunaan mantel bulu, yang seringkali berukuran besar. Penting untuk digarisbawahi bahwa mantel bulu palsu atau faux fur sangat dianjurkan dalam estetika ini.
Perhiasan besar dan mencolok juga menjadi esensial, dengan emas sebagai pilihan dominan. Ini mencakup kalung tebal, anting-anting berukuran besar, dan cincin koktail. Penambahan berlian juga diterima untuk meningkatkan kesan kemewahan. Motif hewan, khususnya cetakan macan tutul, telah menjadi identik dengan kepercayaan diri berani yang dipancarkan oleh estetika “Mob Wife”.
Dalam hal warna dan bahan, hitam, aksen emas, dan merah tua merupakan palet utama. Bahan seperti kulit, terutama kulit hitam, kulit imitasi, serta gaun yang ramping dan sensual seperti bodycon, satin stretch, atau mesh, juga sangat penting untuk melengkapi tampilan. Untuk aksesori, kacamata hitam berukuran besar dan tas tangan desainer menjadi pelengkap wajib.
Riasan dan gaya rambut juga memegang peranan penting dalam estetika ini. Pilihan klasik meliputi lipstik merah matte, riasan mata gelap atau smoky eyes, alis yang terdefinisi, foundation full coverage, serta gaya rambut bervolume tinggi seperti ikal besar atau sanggul rapi.
Pandangan Ahli dan Kontroversi Seputar Tren
Para ahli dan komentator mode telah memberikan berbagai pandangan mengenai tren “Mob Wife Aesthetic”. Chloe Street, Kepala Konten Mode NET-A-PORTER, berpendapat bahwa popularitas tren ini disebabkan oleh kemudahannya untuk diadopsi secara relatif dan terjangkau oleh siapa saja. Menurutnya, gaya ini “merangkul versi glamor yang lebih tidak sempurna,” menawarkan kelegaan setelah beberapa tahun didominasi estetika “quiet luxury” dan “clean girl” yang sangat rapi.
Jennifer Graziano dan Natalie Guercio, bintang dari acara TV “Mob Wives”, melihat tren ini sebagai representasi kepercayaan diri dan pemberdayaan wanita, bukan glorifikasi kejahatan. Guercio menyatakan bahwa “Mob Wife Aesthetic” adalah “ide bagus agar gaya ini kembali” karena “wanita membutuhkan tampilan berkelas dan canggih itu.”
Namun, estetika “Mob Wife” juga menghadapi kritik signifikan. Stacy Macías, Profesor Studi Wanita, Gender, dan Seksualitas di Cal State Long Beach, menyoroti bahwa kemewahan dalam estetika ini, ketika dikenakan oleh wanita Latin, seringkali digunakan untuk melabeli mereka sebagai “norak, terlalu seksual, tidak berkelas, dan murahan,” yang kontras dengan gagasan feminitas Victoria yang berakar pada kulit putih. Catherine Sue Ramírez, Profesor Studi Amerika Latin dan Latino di UC Santa Cruz, juga mencatat kesamaan antara estetika “Mob Wife” dan “estetika Latinx” dalam “asosiasi dengan yang tidak kaya,” yang dicirikan sebagai nouveau riche atau kaya baru.
Kritik utama lainnya adalah bahwa tren ini mengagungkan gaya hidup kriminal yang kejam, mengabaikan kenyataan pahit yang dihadapi wanita dalam kejahatan terorganisir di dunia nyata, yang seringkali mencakup kekerasan dalam rumah tangga, kerahasiaan, dan ketidakstabilan terus-menerus. Beberapa pihak juga menganggapnya sebagai apropriasi budaya, terutama bagi wanita Italia-Amerika yang merasa bahwa stereotip ini mereduksi budaya mereka menjadi mantel bulu dan kejahatan. Selain itu, tren ini dikritik karena berpotensi memperkuat klise dan peran gender yang saat ini sedang berusaha dihindari oleh banyak orang.