Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali turun pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Harga emas Antam hari ini melemah Rp 9.000 per gram, melanjutkan penurunan dari hari sebelumnya yang terkoreksi sebesar Rp 4.000.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini ditetapkan sebesar Rp 2.601.000 per gram. Pada perdagangan Senin kemarin, harga logam mulia ini sempat dipatok di angka Rp 2.610.000 per gram.
Advertisement
Koreksi ini juga dialami oleh harga buyback (beli kembali) emas Antam yang mengalami penurunan serupa. Harga buyback emas Antam turun Rp 9.000 menjadi Rp 2.332.000 per gram. Dengan demikian, bagi Anda yang ingin menjual kembali logam mulia tersebut, Antam akan membelinya di harga Rp 2.332.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga acuan yang berlaku apabila pemilik emas ingin menjual kembali logam mulianya ke pihak Antam. Adapun harga emas batangan ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.
Sebagai catatan historis, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026. Kala itu, harga emas meroket hingga menembus Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.
Seluruh informasi mengenai pergerakan harga ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas tinggi bagi masyarakat.
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini:
- 0,5 gram: Rp 1.350.500
- 1 gram: Rp 2.601.000
- 2 gram: Rp 5.142.000
- 3 gram: Rp 7.688.000
- 5 gram: Rp 12.780.000
- 10 gram: Rp 25.505.000
- 25 gram: Rp 63.637.000
- 50 gram: Rp 127.195.000
- 100 gram: Rp 254.312.000
- 250 gram: Rp 635.515.000
- 500 gram: Rp 1.270.820.000
- 1.000 gram (1 kg): Rp 2.541.600.000.
Harga Emas Dunia Stabil
Harga emas dunia bergerak stabil pada penuutpan perdagangan Senin setelah pelaku pasar mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta dampaknya terhadap harga minyak. Di saat yang sama, pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS (The Fed) mengenai potensi kenaikan suku bunga juga menjadi perhatian investor.
Mrngutip CNBC, Selasa (21/7/2026), Harga emas di pasar spot turun tipis 0,2% menjadi US$ 4.006,74 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,1% ke level US$ 4.015,90 per ounce.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan pergerakan harga emas masih memiliki hubungan berlawanan dengan harga minyak sehingga perkembangan di Timur Tengah terus menjadi faktor utama yang dipantau investor.
"Harga emas masih bergerak berlawanan dengan harga minyak. Karena itu, pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah," kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Kekhawatiran juga muncul terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah Iran menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak dapat beroperasi.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mulai mereda setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Hal itu terjadi setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut negosiasi dengan AS masih dapat dilakukan sepanjang sesuai dengan kepentingan nasional negaranya.
Hubungan Inflasi dengan Emas
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan suku bunga acuan di AS akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Meskipun emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, turut menyuarakan bahwa suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi yang dinilai masih membandel. Pandangan itu menambah dukungan dari sejumlah pejabat The Fed yang menginginkan kebijakan moneter tetap ketat menjelang pertemuan bank sentral berikutnya.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%, naik dari 73% pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, UBS tetap optimistis terhadap prospek harga emas dalam jangka menengah.
"Kami memperkirakan pelemahan dolar AS akan menopang harga emas dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Logam mulia ini juga diperkirakan kembali menembus level US$ 5.000 per ounce," ujar Staunovo.
Menurut Staunovo, pelemahan dolar AS dalam enam hingga 12 bulan ke depan diperkirakan akan menjadi pendorong kenaikan harga emas. Ia menilai logam mulia tersebut berpeluang kembali menembus level US$ 5.000 per ounce.