Liputan6.com, London - Andy Burnham resmi menjadi perdana menteri ke-59 Inggris. Ia juga menjadi perdana menteri pertama sejak Harold Wilson pada 1960-an dan 1970-an yang secara terbuka menjadikan identitasnya sebagai orang Inggris Utara sebagai bagian dari citra politiknya.
Sejumlah perdana menteri setelah Wilson memang berasal dari Inggris Utara. Namun, tak satu pun menjadikan asal-usul tersebut sebagai identitas politik sekuat Burnham.
Advertisement
Julukan "King of the North" melekat pada Burnham setelah ia berpidato di ruang terbuka pada 2020 dan menentang kebijakan pemerintah. Saat itu, ia menegaskan Greater Manchester menolak pembatasan tambahan terkait pandemi Covid-19.
Lantas Siapa Andy Burnham?
Dikutip dari BBC, Senin (20/7/2026), meski kini dikenal sebagai tokoh daerah, pria berusia 56 tahun itu mengawali karier politiknya sebagai orang dalam Westminster. Meski baru kembali menjadi anggota parlemen kurang dari sebulan, jalan Burnham menuju tampuk kekuasaan telah ditempanya selama puluhan tahun.
Burnham pertama kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh pada 2010, lalu kembali mencoba peruntungannya pada 2015. Dalam pencalonan kedua, ia kalah telak dari Jeremy Corbyn.
Karier politiknya mungkin hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah jika ia tidak mengambil langkah berani pada 2017 dengan mencalonkan diri sebagai wali kota pertama Greater Manchester.
Saat itu, jabatan wali kota kawasan masih tergolong konsep baru. Namun, Burnham berhasil menjadikannya sebagai identitas politik sekaligus membangun basis kekuatan yang terlepas dari politik Westminster yang berpusat di London, sesuatu yang selama ini kerap ia kritik.
Penggemar Everton dan Musik Indie
Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan dibesarkan di Culcheth, sebuah desa kecil di Cheshire, dekat Warrington.
Ayahnya bekerja sebagai teknisi BT, sedangkan ibunya merupakan resepsionis di praktik dokter umum (GP). Keduanya adalah pendukung setia Partai Buruh. Dari merekalah Burnham mulai mengenal politik sejak kecil.
Burnham pernah bercerita bahwa ia terdorong bergabung dengan Partai Buruh pada usia 14 tahun setelah tersentuh oleh drama televisi BBC Boys from the Blackstuff, yang mengangkat kehidupan para pengangguran di Liverpool.
Sebagai pendukung Everton sejak kecil, Burnham dikenang teman-temannya sebagai anak yang kompetitif dan menggemari olahraga. Ia juga pernah menjadi pelempar cepat dalam tim kriket pelajar Lancashire.
Saat bersekolah di sekolah menengah Katolik setempat, guru bahasa Inggrisnya mengingat Burnham pernah maju sebagai kandidat Partai Buruh dalam simulasi pemilu di sekolah dan menang dengan selisih suara yang sangat besar.
Burnham menilai latar belakangnya sebagai anak dari keluarga Katolik kelas pekerja memberi pengaruh besar terhadap pandangan politiknya, terutama dalam hal keadilan sosial.
Ia menyebut dirinya "dibesarkan dalam tradisi Katolik", meski "tidak terlalu religius". Namun, saat dilantik sebagai anggota parlemen, ia mengucapkan sumpah di atas Alkitab dan akan menjadi perdana menteri Inggris pertama yang memasuki Downing Street sebagai seorang Katolik.
Dalam wawancara dengan The Times, Burnham mengatakan ibunya akan terus menggenggam rosario untuk menandai momen dirinya menjadi perdana menteri. Namun, ayahnya, Roy, tidak akan menyadari pencapaian tersebut karena menderita demensia.
"Itu menjadi sebuah kesedihan karena sebenarnya ia akan merasa bangga. Bagi saya, ini juga merupakan pencapaiannya," kata Burnham.
"Ini adalah pencapaian seluruh keluarga, meskipun sekarang ia tidak mengetahuinya."
Burnham dan kedua saudara laki-lakinya menjadi generasi pertama di keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi. Andy memilih belajar Sastra Inggris di Universitas Cambridge.
Dalam bukunya Head North, Burnham menulis bahwa ia kesulitan merasa menjadi bagian dari lingkungan kampus dan kerap merasa seperti orang asing yang tidak seharusnya berada di sana.
Namun, kecintaannya pada musik, terutama band indie asal Manchester seperti The Smiths dan The Stone Roses, membantunya menemukan jati diri.
Menurut Burnham, ketertarikannya pada musik Manchester memberinya identitas sekaligus rasa percaya diri.
Dari Anggota Parlemen hingga Wali Kota Greater Manchester
Setelah lulus kuliah, Burnham mengawali karier sebagai jurnalis dengan bekerja di sejumlah majalah industri, termasuk Tank World dan Passenger World Management.
Pada usia awal 20-an, ia mulai menapaki karier politik sebagai peneliti untuk mendiang Tessa Jowell, yang saat itu merupakan anggota parlemen dari daerah pemilihan Dulwich and West Norwood. Jowell kemudian menjabat sebagai menteri pada pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown.
Karier Burnham berkembang pesat. Ia menjadi penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith sebelum terpilih sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihan Leigh di Greater Manchester pada 2001.
Ia mengawali karier pemerintahan sebagai menteri junior pada era Tony Blair. Di bawah kepemimpinan Gordon Brown, Burnham kemudian dipercaya menjadi Kepala Sekretaris Kementerian Keuangan, Menteri Kebudayaan, serta Menteri Kesehatan.
Saat menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga, Burnham diteriaki peserta saat menghadiri upacara peringatan 20 tahun Tragedi Hillsborough.
Sebanyak 97 pendukung Liverpool tewas dalam tragedi berdesak-desakan di stadion pada 1989.
Peristiwa itu mendorong Burnham mengangkat kembali kasus Hillsborough dalam rapat kabinet, yang kemudian berkontribusi pada dibukanya penyelidikan kedua atas tragedi tersebut.
Pada 2010, setelah Gordon Brown mengundurkan diri menyusul kekalahan Partai Buruh dalam pemilu, Burnham maju sebagai calon pemimpin partai.
Ia hanya menempati posisi keempat dari lima kandidat dan kalah dari Ed Miliband. Meski demikian, selama lima tahun berikutnya ia membangun dukungan di akar rumput Partai Buruh.
Pada 2015, ia kembali mencalonkan diri, tetapi kali ini kalah dari Jeremy Corbyn.
Para pengkritiknya kerap menyebut Burnham sebagai politikus yang mudah mengubah sikap mengikuti arah angin politik demi memperbesar peluang menang.
Meski dikenal dekat dengan kubu tengah Partai Buruh era Tony Blair, Burnham tetap bergabung dalam kabinet bayangan Jeremy Corbyn sebagai juru bicara urusan dalam negeri.
Seiring waktu, pandangan politik Burnham semakin bergeser ke kiri. Ia mendukung nasionalisasi sektor air dan energi.
Ia juga tidak termasuk tokoh Partai Buruh yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Corbyn pada 2016.
Sebaliknya, pada 2017 ia memilih mundur untuk mencalonkan diri sebagai wali kota pertama Greater Manchester.
Burnham memenangi pemilihan tersebut dengan meraih lebih dari 60 persen suara dan kembali terpilih dengan selisih yang lebih besar pada 2021.
Transformasi Sistem Transportasi
Sebagai wali kota, Burnham menuai pujian berkat transformasi sistem transportasi di Greater Manchester. Di bawah kepemimpinannya, wilayah itu menjadi daerah pertama di Inggris di luar London yang mengembalikan pengelolaan layanan bus ke tangan pemerintah daerah, lalu mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain melalui jaringan bernama "Bee Network".
Janji ambisius lainnya adalah mengakhiri tunawisma di kawasan tersebut pada 2020. Namun, target itu akhirnya tidak tercapai.
Popularitas Burnham semakin meningkat saat pandemi Covid-19. Ketika itu, ia menuduh pemerintah Partai Konservatif memperlakukan wilayah Inggris utara dengan "penuh penghinaan" terkait kebijakan pembatasan aktivitas di tingkat regional.
Perselisihan tersebut semakin mengukuhkan julukan "King of the North" yang melekat padanya.
Menjelang musim konferensi tahunan partai pada musim gugur 2025, Burnham mulai terang-terangan membuka peluang maju sebagai pemimpin Partai Buruh.
Namun, sejumlah pernyataannya justru memicu reaksi negatif setelah ia mengatakan pemerintah "berada dalam cengkeraman pasar obligasi", merujuk pada aturan fiskal yang dibuat pemerintah sendiri untuk membatasi belanja dan utang negara.
Peluang kembali ke Westminster sempat muncul pada Januari setelah anggota parlemen Greater Manchester, Andrew Gwynne, mengumumkan pengunduran diri sehingga memicu pemilihan sela di daerah pemilihan Gorton and Denton. Namun, badan pengurus Partai Buruh, dengan persetujuan perdana menteri, tidak mengizinkan Burnham maju.
Situasi berubah pada Mei. Partai Buruh mencatat hasil buruk dalam pemilu di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Dukungan terhadap Partai Reform terus menguat dalam berbagai jajak pendapat, termasuk di Greater Manchester yang selama ini menjadi basis politik Burnham.
Perdana Menteri Sir Keir Starmer pun menghadapi tekanan yang semakin besar terkait masa depan kepemimpinannya. Sejumlah anggota parlemen mulai menyerukan perubahan, sementara beberapa menteri mengundurkan diri.
Josh Simons kemudian mengumumkan mundur sebagai anggota parlemen Partai Buruh dari daerah pemilihan Makerfield agar Burnham dapat kembali maju ke parlemen.
Burnham akhirnya dipilih sebagai calon Partai Buruh untuk daerah pemilihan tersebut dan pada bulan berikutnya berhasil kembali ke Westminster sebagai anggota parlemen.